Sunday, 26 June 2022


Mengkhawatirkan, Penggunaan Pestisida di Petani Overdosis

02 Sep 2019, 16:50 WIBEditor : Yulianto

Petani sedang menyemprotkan pestisida | Sumber Foto:Julian

Penggunaan pestisida kimia yang overdosis membuat hama dan penyakit tanaman menjadi resisten

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Penggunaan pestisida memang sangat diperlukan untuk membasmi hama dan penyakit tanaman. Sayangnya petani Indonesia dalam penggunaan pestisida kimia sudah diambang batas. Akibatnya beberapa hama dan penyakit tanaman justru mengalami resistensi. Karena itu penggunaan pestisda di petani harus dipantau terus.

Kepala Sub Bidang Pengawasan Pupuk dan Pestisida, Direktorat Pupuk dan Pestisida, Direktorat Jenderal Prasarana dan Pertanian, Endah Susilawati mengatakan, karena penggunaan bahan kimia, terutama pupuk dan pestisida kimia yang berlebihan menyebabkan kondisi tanah pertanian di Indonesia mulai rusak,

“Memang penggunaan pestisida sangat dibutuhkan karena mencegah meluasnya penyebaran OPT, menjaga produksi tanaman, menjaga kualitas produk di gudang. Tetapi sayangnya, petani kita masih menggunakan pestisida secara berlebihan,” kata Endah.

Penggunaan pestisida kimia yang overdosis membuat hama dan penyakit tanaman menjadi resisten. Hama juga menjadi lebih pesat perkembangbiakannya. Bahkan dampak lebih lanjut akan penggunaan pestisida kimia yang berlebihan juga merusak tanah.

Permasalahan lainnya adalah terjadinya resurjensi, timbulnya ledakan hama sekunder, terbunuhnya musuh alami, gangguan kesehatan, residu pestisida dan pencemaran lingkungan,” tuturnya.

Endah mengatakan, banyaknya petani menggunakan pestisida kimia, karena caranya mudah dan praktis, reaksinya cepat, lebih murah, dan lebih efisien untuk skala luas. Apalagi petani juga sangat mudah mendapatkan di kios-kios sarana produksi.

Wajib Terdaftar

Karena pestisida merupakan bahan beracun dan bisa dampak negatif jika berlebihan, maka perlu dikelola dengan penuh kehati-hatian. Untuk itu pestisida yang petani gunakan harus terdaftar dan telah memiliki izin edar.

Regulasi yang menjadi dasar hukumnya adalah UU No.12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, PP No.7/1973 tentang Pengawasan Atas Peredaran Penyimpanan dan Penggunaan Pestisida , Permentan No.107/2014 tentang Pengawasan Pestisida, dan Permentan No.39/2015 tentang Pendaftaran Pestisida.

“Pendaftaraan pestisida, bukan hanya sebatas pestisida sintetik saja, pestisida alami pun sebaiknya harus didaftarkan agar dapat dipertanggungjawabkan ketika terjadi suatu masalah,” kata Endah.  

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Brebes, Yulia Hendrawati juga mengakui, petani bawang merah di Brebes juga merupakan pengguna pestisida yang sangat besar. Sebagai sentra produksi bawang merah nasional dengan luas tanam rata-rata mencapai 30 ribu hektar (ha)/tahun, biaya pestisida merupakan komponen terbesar sekitar 20-30 persen dari biaya usaha tani sebesar Rp 100-150 juta/ha,

Jika luas tanam bawang merah di Brebes mencapai 30 ribu ha/tahun dan biaya usaha tani per hektar Rp 100 juta saja dan biaya pestisida 30 persen, maka ada berapa miliar rupiah dalam setahun untuk biaya pestisida petani?” tuturnya.

Yulia menilai, tingginya penggunaan pestisida dalam budidaya bawang, karena petani tidak tepat dalam menerapkan pestisida. Selama ini  petani menjadikan pestisida sebagai preventif (pencegahan), bukan pengendalian. Padahal fungsi pestisida adalah untuk mengendalikan hama dan penyakit. "Jadi sebelum tanam, petani sudah menggunakan pestisida, bahkan mnyemprotkan tanah dengan pestisida," ujarnya.

Selain itu ungkap Yulia, petani kerap mencampur/oplosan untuk pestisida. Padahal oplosan juga berdampak kurang efektif dalam mengendalikan hama dan penyakit, sehingga merugikan petani. "Petani sering mengeluh ke Pemda, banyak beli pestisida tapi OPT tetap hidup," ujarnya.

Faktor lain yang menyebabkan biaya pestisida tinggi adalah frekwensi penyemprotan pestisida juga sangat tinggi sampai 3-5 hari sekali. Hal ini menyebabkan penggunaan pestisida menjadi  banyak, tapi tidak efektif dan justri merugikan budidaya bawang merah.

Akibatnya menurut Yulia, biaya BEP usaha tani bawang merah di Brebes menjadi sangat tinggi mencapai Rp 12 ribu/kg. Sehingga jika saat panen, harga bawang merah  hanya Rp 10 ribu/kg, petani belum untung. Padahal di luar Biasa, BEP usaha tani tebu hanya Rp 5.000/kg.

Untuk mengurangi penggunaan pestisida, Yulia mengatakan, pihaknya sudah bekerjasama dengan baik, secara parsial. Pemerintah Daerah Kabupaten Brebes melalui Dinas Pertanian kini berupaya memberikan bimbingan kepada petani cara penggunaan pestisida yang tepat dan melakukan pengawasan secara rutin.

Reporter : Julian
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018