Friday, 07 May 2021


Pengalaman Petani Aceh Tanam Porang

17 Apr 2021, 11:42 WIBEditor : Ahmad Soim

Petani porang di Aceh | Sumber Foto:Abda

 

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Aceh -- Syahrul, penggiat Porang di Paru Keude, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya (Pijay) Aceh, sehari - hari bertugas sebagai guru di SMKN 1 Bandar Baru, Pijay tengah merekrut para petani untuk tanam Porang dan mengajak untuk mengembangkannya di Aceh.

Selain penggiat dan ketua Porang Aceh, Syahrul juga menampung hasil tani selain Porang dan Jagung, juga Pinang serta Kakao. 

Bibit Porang yang ditanam saat ini, berasal dari sisa sisa bibit sebelumnya. "Sekarang saya tanam Porang hanya seluas 2.500 m2.  Namun sebelumnya pada tahun 2014 - 2016 pernah menanam pada lahan seluas 1 -  2 hektar", ujarnya bersemangat. 

Bibit waktu itu sambungnya, diperoleh dari PT. Sangga Putra Buana, Sukabumi. Harga bibit dari umbi masih murah Rp 25.000, kini malah dia membeli bibit yang dari umbi sekitar Rp 60.000/kg, sedangkan bibit dari katak harganya sekitar Rp 350.000/kg, bahkan kalau bibit yang bersertifikat mencapai Rp 400.000/kg.

Sekarang Ia sedang menjajaki bibit bersertifikat, rencananya akan mengajak Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, Balai Benih Hortikultura Tanaman Pangan dan Perkebunan (BBH-TPP) Saree untuk bekerjasama. Termasuk juga dengan BPTP Aceh serta lembaga pemerintah dan pihak swasta lainnya. 

Menurutnya, dari luas lahan 2.500 m2, tanaman Porang dapat menghasilkan panen sebanyak 17 ton umbi. Namun waktu panen kemarin, saya tidak sempat mengolah dalam bentuk setengah jadi (Chips) sehingga bisa dijual ke Surabaya. "Kalau kita olah terlebih dahulu, pasti harganya lebih mahal lagi", bebernya.

Untuk pemasarannya, petani tidak perlu ragu, karena dirinya akan menampung hasil panen. Selain itu ia juga sudah melakukan kontrak dengan PT Sangga Putra Buana, Sukabumi, Jawa Barat dan PT Pramuka Agro di Semarang. 

Tahun 2021 kata dia, ada program Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk Aceh. Untuk itu membutuhkan bibit dari katak sebanyak 250 kg, yang akan dibagikan kepada anggota kelompok tani.

Diharapkannya agar anggota kelompoknya yang telah menyiapkan CPCL dan RDKK sekitar 3.800 hektar, agar lebih konsisten dan memiliki komitmen bersama. Untuk Aceh lanjutnya, sudah masuk 223 kelompok tani, namun masih banyak kelompok tani lainnya yang ingin bergabung untuk menanam Porang. 

BACA JUGA:

"Untuk hal tersebut ia terus berkoordinasi dengan Dinas setempat. Selama ini hanya sebatas melalui koperasi (KUD Teladan) Kec. Bandar Baru, Pidie Jaya dan kelompok tani di seluruh Aceh", paparnya. 

"Dari 2014, saya juga telah berkoordinasi dengan para penyuluh, Kabid dan Kadis terkait", imbuhnya. Termasuk dengan POKJA Pangan dan tim dari Provinsi yang pernah meeting dengannya di Pijay. 

Pemasaran Porang, biasanya dikirim dalam bentuk Chips yaitu produk setengah jadi (umbi yang sudah diiris-iris dan dijemur dengan kadar air 10 persen) ke Surabaya. Kalau dalam bentuk Chips harganya berkisar Rp 90.000 hingga Rp 100.000/kg. Sementara ini jika ada petani menjual, dia menampung seharga Rp 65.000 - 70.0000/kg. Jika dalam bentuk umbi diterima di Semarang dan Surabaya antara Rp 9.000 - 10.000/kg. Sedangkan dia tampung dengan harga Rp 6.000 - 7.000/kg.

"Kalau sedang panen besar biasanya setiap tahun harganya akan naik menjadi Rp 13.000 - 14.000", ungkapnya. 

Kalau sudah diolah menjadi barang jadi seperti Mie dan Beras Shirataki harga jual jauh lebih tinggi mencapai Rp 500.000 - 600.000/kg.

Dijelaskan, dari hasil panen Porang sebanyak 17 ton kalau dijadikan Chips, hasilnya 6 : 1, yaitu enam kilo umbi menjadi satu kilogram Chips. 

Syahrul mengaku mempelajari Porang sejak tahun 2014, di Sukabumi, Jawa Barat yang dipresentasikan langsung oleh direktur PT Sangga Putra Buana. 

Dari situlah syahrul menjalin kontrak kerjasama, dan waktu itu ia membawa pulang bibit sebanyak satu mobil colt ke Aceh. Dia juga membangun koordinasi dengan Dinas provinsi dan kabupaten Pijay untuk diserahkan ke petani yang memiliki kemauan serta tersedia lahan untuk ditanam. 

Walau baru pertama menanam Porang, saat itu ia berhasil panen dalam bentuk bibit sebanyak 12 ton. "Pada tahun 2015, harga Chips nya sekitar Rp 32.000/kg", tambahnya.

Alasannya membumikan Porang di Aceh untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sehingga masyarakat dan petani milenial bisa bergairah dalam berusaha tani. 

Dalam wadah koperasi yang didirikannya ada 23 kelompok tani yang tergabung dengan jumlah anggota 500 orang lebih. "Koperasi kami telah memiliki AD/ART dan memiliki dokumen pendukung yang legal", lanjutnya. 

Namun pada tahun 2019 akibat Covid, semua usulan pengajuan dana dibatalkan. Waktu itu ada dua koperasi yang mengusulkan yaitu Koperasi Maju Bersama, kab. Bireuen dan Koperasi Teladan dari Pijay. 

Menurutnya, prospek Porang di Aceh sangat bagus dan menjanjikan, yang penting ada kemauan dan jangan cepat berputus asa.

Kehadirannya hanya ingin memberikan contoh untuk petani di Aceh. Sampai saat ini, jumlah anggota kelompok nya yang sudah mendaftar dan tercatat untuk menanam Porang, seluas 38 ha. 

Disamping itu, dia mengajak agar para investor untuk membantu petani, sehingga Porang di Aceh semakin maju dan berkembang. 

Minat petani untuk menanam Porang sangat tinggi, walaupun biaya keseluruhan mulai olah tanah sampai pengadaan bibit menghabiskan dana Rp 63 juta. Dia berharap ada kucuran dana KUR dari pemerintah yang dapat membantu Rp 50.200.000 per hektar. 

Semua biaya yang dikeluarkan akan terbayar jika petani menerapkan sesuai dengan petunjuk teknis, maka akan menghasilkan umbi minimal 60 ton/ha. Dan kalau dijual Rp 7.000/kg maka hasilnya berkisar 420 juta. "Bahkan kalau dijalankan secara Agrobisnis dan lebih serius kita akan menjadi milioner", pungkasnya. 

Bibit Porang

Bibit dari umbi, artinya bersumber dari spora/katak yang sudah pernah ditanam lalu di bongkar kembali baik dalam bentuk yang sudah besar maupun kecil. 

Kebiasaan petani, umbi yang sudah berat diatas rata-rata 2,5 kg dijual. Sementara yang masih kecil kecil, rata rata 200 gram dan seterusnya biasanya dijual kembali untuk bibit. 

Bibit yang bersumber dari umbi akan cepat panen untuk umbi produksi. Sedangkan perbedaan katak dan umbi, kalau katak banyak kwantitasnya, sampai 100 - 130/kg. 

Panennya minimal rata rata dua musim per 16 bulan. 

Sementara bibit dari umbi bisa panen 1 musim per 8 bulan. Ada juga sumber bibit dari spora yaitu bibit yang di ambil dari biji bunga yang sudah tua. 

Jumlah bijinya bisa mencapai 3.500/turunan dalam per kilogram spora. Panen minimal 18 bulan, bisa panen selama jumlah batang banyak sampai 3.500 batang.

Tanaman Porang tidak hanya dipanen umbinya saja, tapi juga dapat dipanen berupa katak. Per musim bisa dua kali panen katak dan satu kali umbi.

Katak Porang, juga bisa dijual untuk bibit. Sebagai contoh yang sudah layu dan kering batangnya berarti kataknya sudah dorman.

Untuk itu dia mengharapkan di Aceh bisa mengembangkan kultur jaringan. Sehingga bibit Porang dapat terpenuhi dan harganya pun lebih murah. 

Jika Kementan meluncurkan program Porang 4.000 ha, maka kalau per hektar butuh bibit katakan 120 kg. Sementara kalau Umbi 20.000 batang. 

Kedepan dia akan berencana untuk menanam Porang tumpang sari dengan tanaman Jagung. Karena ketika musim kemarau tanaman Porang memerlukan pelindung. 

Selaku ketua Porang, dia berharap agar Aceh dapat mengikuti daerah-daerah lain yang sudah terbukti berhasil mengembangkan Porang. Sehingga dapat berkembang dan lebih maju seperti di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Sumatera termasuk Sulawesi. 

Ia juga bersedia melatih dan memberikan pendampingan bagi petani Porang. Syahrul yang kini telah berusia 56 tahun, jelang pensiun dia tertarik dengan sosok seperti Pak Yusri Melon di Pijay ketua Ikatan alumni magang Jepang (IKAMAJA), yang visioner memiliki wawasan luas serta membela nasib petani di Aceh.

   ===

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter : Abda
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018