Friday, 18 June 2021


Masih Ada Ruang Baru untuk Produksi Pangan

16 Apr 2021, 16:08 WIBEditor : Ahmad Soim

Meningkatkan produktivitas padi? | Sumber Foto:Memed Gunawan

 

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Tiba-tiba ada berita bahwa produksi bisa dilakukan di lahan yang sangat terbatas, memanfaatkan ruang tersisa di perkotaan sehingga produktivitas  bisa mencapai angka tinggi berkali-kali lipat dari produktivitas saat ini. Vertical Farming menjadi berita hangat dan berpotensi menjadi solusi untuk masalah kekurangan pangan akibat menurunnya kemampuan lahan untuk memproduksi. 

Kerusakan agroekologi akibat penanganan buruk dan perubahan ikiim menambah kekuatiran akan ketersediaan pangan dan kondisi lingkungan di masa depan. Diperkirakan dunia sudah menggunakan 80 persen total lahan yang bisa ditanami, dan 15 persen di antaranya sudah mengalami kerusakan akibat manajemen yang buruk.

Lalu baru-baru ini diberitakan, Singapura berhasil membuat daging ayam dari satu sel daging yang kemudian dikembangkan di laboratorium,  sehingga dianggap sangat efisien karena menghasilkan daging tanpa tulang, tanpa bulu, tanpa harus punya kandang, tanpa memelihara, tanpa memberi makan, tanpa limbah dan tanpa menyembelih. Langsung menjadi segumpal daging yang siap dimasak. Betapa pun, masih menjadi pertanyaan, apakah ini solusi yang diharapkan untuk memecahkan masalah pangan di masa depan.

Kenyataannya, dengan teknologi "konvensional", menanam, memelihara dan menggunakan bioteknologi yang sekarang tersedia, masih cukup ruang untuk meningkatkan produksi melalui intensifikasi. Toh produktivitas pangan kita masih bisa ditingkatkan. Benih hibrida yang produktivitasnya lebih tinggi belum digunakan dengan optimal, kecuali untuk beberapa komoditas saja seperti jangung.

BACA JUGA:

Hasil teknologi rekayasa genetik yang menghasilkan benih dalam waktu cepat dan seleksi secara cermat sifat tanaman yang diperlukan belum menjadi pilihan untuk digunakan oleh petani, walaupun dengan sadar kita sudah mengonsumsi komoditas pangan tersebut dalam jumlah besar berasal dari pangan import. Hasil penelitian anak bangsa berteknologi tinggi itu pemanfaatannya masih dalam diskusi dan ajang kontroversi, sedangkan bukti-bukti dampak negatifnya tetap saja jadi silang pendapat.

Produktivitas padi sebagai contoh, secara rata-rata masih di sekitar 6 ton per hektare, sementara potensinya, seperti yang sudah dicapai di beberapa negara maju, jauh di atas angka tersebut. Penggunaan input, khususnya air, pupuk dan pestisida masih tinggi, dampaknya tentu saja tidak hanya menguras sumberdaya lebih cepat tetapi mengurangi keuntungan petani.

Upaya untuk meningkatkan efisiensi, walaupun perlu waktu karena terkait dengan sosialisasi untuk mengubah kebiasaan petani, perlu dikaji apakah lebih efisien dan lebih aman bagi lingkungan dibandingkan dengan membuka daerah baru. Terutama yang kondisi agroekologinya berciri khusus sehingga memerlukan upaya khusus pula jika digunakan untuk memproduksi jenis tanaman yang kita inginkan.

   ===

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018