Tuesday, 03 August 2021


Mencari Titik Ungkit Pertanian untuk Melejit

23 Mar 2021, 06:04 WIBEditor : Ahmad Soim

hamparan sawah padi yang indah | Sumber Foto:Memed Gunawan

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kebun sayuran, anggur dan bunga di tengah lahan gersang sekarang ini bukan hal yang aneh. Israel sudah melakukannya sejak lama. Cabai dan sayuran di terik gurun pasir Cina atau kebun strawberi di Korea Selatan yang ditanam di tengah musim winter yang menggigil juga sudah berlangsung lama. Bahkan yang lebih ekstrim kebun sayuran dalam hutan beton di beberapa kota besar dunia telah berkembang.

Kegiatan pertanian berlangsung walaupun kondisi alam, menurut pemikiran lama tidak semestinya. Teknologi diciptakan agar pertanian lebih bersahabat dengan lahan gersang, iklim ekstrim dan jauh dari jangkauan air. Tentu saja dengan inovasi dan investasi. Prinsipnya, berdamailah dengan alam. Tidak perlu mengubah total kondisi alam karea itu tidak mungkin, tetapi sesuaikan  teknologi dan komoditas agar damai dengan kondisi setempat. Manfaatkan kondisi alam setempat bukan dengan melawannya. Hasilnya semakin meyakinkan kita bahwa Tuhan tidak menurunkan lahan marjinal, tetapi lahan yang sesuai dengan peruntukannya.

Indonesia dikaruniai kondisi agroklimat yang beragam. Artinya sistem usaha dan teknologi yang digunakan akan berbeda sesuai kondisi setempat. Maka ada jenis padi lahan kering, lahan sawah, lahan rawa, lahan gambut dan sebagainya. Kearifan budaya para pendahulu kita, melahirkan teknik pertanian dalam budaya lokal bagaimana hidup dengan alam, dalam mengolah tanah, memelihara hutan, mengatur air, pergiliran tanaman, sehingga potensi alam masa depan tetap terjaga.

Tekanan akibat pertumbuhan penduduk disertai dengan menyusutnya lahan pertanian telah mengubah pola pemanfaatan alam yang keluar dari kaidah keseimbangan alam sehingga berpotensi kerusakan lingkungan dan menurunkan kemampuan alam berproduksi di masa depan. Ada gejala lunturnya kepedulian pada kondisi alam.  Kita perlu mencari teknologi dan sistem usaha pertanian yang menjamin berlangsungnya produksi pertanian untuk masa depan. Ini hal pertama yang harus dibenahi dalam menjadikan pertanian sebagai sumber kehidupan di masa depan.

Yang kedua adalah terjadinya inefisiensi usaha karena tidak sinkronnya usaha dari hulu sampai hilir di sektor pertanian sehingga tidak terbentuk kondisi yang saling menguatkan dan membesarkan. Petani ada di tengah kekuatan usaha hulu dan hilir yang umumnya skala besar. Tidak mengherankan jika petani yang berjumlah besar tetapi posisi ekonominya lemah itu, tidak pernah mampu mengatasi gejolak harga input dan harga produk yang merugikan mereka. Dua kekuatan hulu dan hilir tersebut mempunyai (dalam tanda kutip) kekuatan yang berpotensi mengendalikan. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan. Pemerintah, melalui kebijakannya harus mampu menciptakan keseimbangan dan keadilan.

Yang ketiga, sampai sekarang inefisiensi dalam bidang pertanian di Indonesia banyak terjadi pada kegiatan pasca panen karena kurangnya fasilitas untuk menangani penyimpanan produk dan prosesing yang memadai sehingga membuat kualitas produk rendah dan kehilangan tinggi.  

BACA JUGA:

Sudah sangat lama kualitas produk pertanian tidak mendapat perhatian penting, malahan banyak kasus penggunaan zat berbahaya bagi kesehatan yang digunakan untuk bahan pengawet dan pewarna bahan makanan. Cara penjualan curah yang selama ini dilakukan mempermudah cara penjualan yang merugikan petani tetapi menguntungkan pedagang. Prosesing komoditas pangan yang sebenarnya mempunyai rantai prosesing dan diversifikasi produk tinggi tidak banyak berkembang. Komoditas palawija sebagai contoh, masih berhenti di produk olahan yang tidak bergeser sejak berabad lalu.  Ekspor juga selama ini masih dalam bentuk bahan mentah, sementara kita mengimpor produk olahannya sehingga nilai tambah dinikmati oleh negara lain. Cerita tentang petani bodoh yang menjual pisang agar bisa membeli pisang goreng yang jadi bahan tertawaan itu ternyata terjadi juga di kalangan elit pengusaha kita. Inefisiensi yang paling rendah adalah di pasca panen. Tidak ada jalan lain, dukungan finansial, sarana fisik dan kelembagaan harus diberikan agar kegiatan pasca panen, peningkatan kualitas dan diversifikasi produk berkembang.

Yang keempat lebih menyangkut masalah sosial dan perilaku. Petani masih bergerak dalam usaha individual dengan kondisi yang lemah. Kondisi sosial petani yang lemah ini, seakan dipelihara sehingga petani selalu ada di kalangan bawah, menjadi silent majority yang tidak mempunyai suara kuat dalam menentukan kebijakan. Secara politik petani tidak mempunyai suara sama sekali.

Petani, sadar atau tidak, sejak dahulu selalu diasosiasikan sebagai kelompok kelas rendah, kelompok yang kurang beruntung yang lebih banyak mengabdi, menurut tidak pernah menuntut, biasa hidup seadanya, tidak memiliki motivasi tinggi dan tidak berjuang keras untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Bahkan sampai sekarang tidak ada organisasi yang berperan kuat membela kepentingan para petani, kebanyakan untuk membela kepentingan pelaku usaha di sektor hilir. Kebijakan yang pro-petani dan penguatan kelembagaan petani harus menjadi prioritas untuk membuat petani kuat dan mandiri.

Semua terpulang kepada kemauan politik, sejauh mana dukungan untuk membangun semangat dan menemukan titik kritis untuk memberdayakan pertanian. Lalu menumbuhkan daya ungkit itu dengan dukungan dana dan fasilitas yang tepat, diberikan kepada kelompok yang tepat, pada saat yang tepat sehingga pertanian melesat, penghasilan dan kesejahteraan petani meningkat. Semua itu, paling tidak saat ini, di luar jangkauan dan kemampuan petani.

  ===

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018