
Ayo siapa mau menjadi petani milenial

Oleh: Memed Gunawan
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta - Mengapa pertanian dilakukan oleh petani berusia tua? Tidak ada regenerasi?
Pada tahun 70-an banyak dibahas fenomena push out of dan pull out of agriculture. Kasus pertama terkait jenuhnya sektor pertanian sehingga angkatan kerja terlempar dari sektor pertanian, yang kedua tertariknya atau tersedotnya angkatan kerja pertanian ke sektor non pertanian karena perkembangan sektor non pertanian yang tinggi. Dua-duanya mengakibatkan petani yang tertinggal di pedesaan adalah kelompok berusia tua karena mereka tidak punya pilihan selain menekuni pertanian.
Dari perhitungan bisnis, memang selama pemilikan lahan hanya kurang dari setengah hektar, jangan harap petani menjadi kaya. Itulah kenyataannya. Berapalah penghasilan dari bertani dari lahan seluas itu, berapa pun tingginya pendapatan yang mereka peroleh dari produk yang dihasilkannya. Petani juga tidak mengharapkan anak-anaknya menjadi petani. Kondisi inilah yang membuat generasi muda petani enggan terjun di bidang pertanian dan akhirnya lari ke perkotaan mengisi sektor informal yang penghasilannya juga tidak tetap.
Ini sebenarnya indikator bahwa perkembangan sektor industri dan jasa tidak banyak terkait dengan pertanian (agroindustri). Akibatnya keberadaannya tidak menyerap cukup banyak tenaga kerja asal pertanian dan tidak mendukung perkembangan produksi sehingga terjadi senjang antara pedesaan dan perkotaan. Pertanian terancam stagnan, maka kaum muda didorong untuk terjun ke pertanian. Apakah kiat agar kaum muda tertarik, berhasil dan dapat hidup sejahtera dari pertanian?
BACA JUGA:
- Guru Oemar Bakri dan Penyuluh Pertanian
- Ketahanan Pangan: Kita Bisa!
- Traktor Petani Indonesia dan Afrika, Milik Siapa?
Prof Wan Abbas Zakaria dari Universitas Lampung mengatakan, peran serta generasi muda dalam pengembangan sektor pertanian di Provinsi Lampung (dan juga di daerah lain), masih minim. Dr. Awang Maharijaya dari IPB University mengamati bahwa para pelaku petani milenial yang telah berhasil utamanya bermodalkan semangat dan jiwa entrepreneurship tinggi. “Kalau soal teknis, itu bisa melalui pelatihan. Yang penting semangat dan jiwa entrepreneurshipnya harus dibangun,” lajutnya. Seorang Azwar Fuadi yang berlatarbelakang Sastra Inggris ternyata menjadi seorang formulator pupuk hayati dan mengelola produksi sampai pemasaran berbagai komoditas pertanian berskala besar
Dalam membangun petani milenial, membangkitkan semangat dan jiwa bisnis adalah yang utama, selanjutnya mereka perlu diberikan dukungan kemudahan untuk berusaha baik dalam hal permodalan maupun pengetahuan dan perlindungan. Anak-anak petani di pedesaan tidak mempunyai kesempatan sekolah dan menempuh pendidikan tinggi sehingga akses ke teknologi tinggi terbatas.Tapi yang jelas, anak petani lebih memiliki dasar yang kuat atas pengetahuan mengenai sektor pertanian, sehingga apabila dipadukan dengan teknologi dan pengetahuan yang lebih baik lagi tentu akan memperbaiki kualitas pertanian dan produksi yang dihasilkan.
Sekarang pertanian sudah berubah. Lahan tetap jadi kendala tetapi banyak cara mengatasi agar usaha pertanian semakin efisien. Bisnis pertanian tidak hanya bercocok tanam dan budidaya. Prospek usaha di sektor hulu dan hilir selain sangat besar, juga akan saling berpengaruh positip dan saling membesarkan. Agroindustri yang dimulai dari skala kecil telah mulai tumbuh, dimotori oleh anak-anak muda yang kreatif. Nyatanya para petani muda yang kreatif bergerak di bisnis pertanian di hilir seperti pengolahan, pengemasan dan pemasaran. Juga di hulu seperti yang dilakukan Azwar Faudi.
Di perguruan tinggi dan sekolah/pelatihan kejuruan yang diberi kesempatan untuk belajar berbisnis, sebagian sudah bisa mandiri membangun komunitas bisnis yang menguntungkan. Polanya tidak lagi konvensional, tetapi menggunakan sistem kerjasama, menerapkan standar kualitas produk tinggi dan memanfaatkan teknologi digital dan aplikasi yang membuat manejemennya efisien. Prinsip mereka untuk memberikan yang terbaik dalam quantitas yang cukup, kualitas yang terjaga baik dan kontinu disertai pelayanan prima telah membawa mereka ke dalam bisnis yang maju.
Karakteristik petani milenial yang paling dominan adalah keterlibatan mereka dalam pertanian ramah lingkungan. Hal ini memberikan poin tersendiri karena membangun image pertanian kita dalam menyelamatkan lingkungan masa depan dunia. Selain memberi makan seluruh anak negeri dan memperoleh imbalan ekonomi tentunya.
===
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/