Bantuan benih ke petani rawan penyimpangan, sehingga akan dikawal ketat oleh Itjen Kementan

Oleh: Memed Gunawan
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta - Istilah Ketahanan Pangan dan Keberlanjutan Pangan merupakan potret kondisi pangan yang bisa menilai perubahan kondisi pangan antar waktu maupun antar negara. Indeks Ketahanan Pangan Indonesia mengalami kenaikan yang konsisten, tetapi ranking di dunia tentu berubah sesuai dengan perubahan indeks di negara lainnya.
Lembagan dunia memang membuat berbagai indeks, yang terkait bidang pertanian antara lain indeks kebersaingan, indeks kemudahan bisnis, indeks kelaparan, indeks keberlanjutan pangan dan indeks ketahanan pangan. Indeks Ketahanan Pangan diukur dari 4 kelompok indikator, yakni keterjangkauan, ketersediaan, kualitas dan keamanan, serta ketahanan sumberdaya alam. Sementara itu Indeks Keberlanjutan Pangan diukur dari tiga kelompok indikator yaitu ketersediaan, kehilangan dan limbah pangan (food loss and waste), dan kecukupan gizi.
Pada tahun 2014 indeks Ketahanan Pangan Indonesia masih 46,5; tahun 2018 meningkat menjadi 54,8 dan 2019 naik lagi menjadi 62,6 sehingga pada tahun 2019 Indonesia menduduki peringkat 62 dari 113 negara dunia. Posisi ini masih dianggap kondisi baik, walaupun kalah cepat peningkatannya dibanding Malaysia, Thailand dan Vietnam, tetapi jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara seperti Ethiopia, Filipina, serta negara berpenduduk padat seperti Pakistan dan India. Walaupun tentu saja tidak bisa dikatakan kita sudah berhasil dengan program pangan kita.
Berdasarkan angka tahun 2020 yang dipublikasikan tahun 2021, Indeks Ketahanan Pangan Indonesia turun ke 59,5 (ranking 65) dengan score keterjangkauan (affordability) 73,5 (ranking 55); ketersediaan (availability) 64,7 (ranking 34); keamanan (safety) 49,5 (ranking 89) dan sumberdaya alam beserta daya tahannya (natural resource and resilience) 34,1 (ranking 109). Menurunnya indeks Ketahanan Pangan dialami oleh hampir semua negara di dunia akibat Covid-19. Resiliensi sumberdaya alam menempati posisi 104 dari 113 menunjukkan kemampuan memelihara dan mengatasi kerusakan sumberdaya alam yang rendah. Ini satu isyarat tentang pentingnya memberikan fokus dalam pembenahan manajemen sumberdaya alam.
Banyak score di bawah rata-rata dunia yang harus jadi perhatian kita dalam mengelola sumberdaya alam, seperti keterbukaan lahan, peningkatan temperatur, kekeringan, banjir, peningkatan permukaan air laut, kualitas dan kuantitas air, dan degradasi lahan. Demikian juga komitmen politik, upaya early warning, komitmen untuk menangani keterbukaan lahan, adaptasi pertanian nasional dan manajemen risiko bencana, masih dibawah score rata-rata dunia.
Score Indonesia masih di atas rata-rata dalam hal kehilangan akibat storm, biodiversitas laut, dependensi terhadap impor, ketergantungan pada modal natural, stress demografi, pertumbuhan penduduk dan kapasitas absorpsi urbanisasi. Fokus harus diarahkan pada program jaring pengaman pangan, gejolak produksi pangan, keamanan pangan dan keanekaragaman pangan.
Dalam jangka panjang, Ketahanan Pangan sangat tergantung pada kemampuan memproduksi pangan dengan kualitas dan kuantitas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia tanpa mengurangi potensi sumberdaya alam bagi generasi masa depan. Indeks Keberlanjutan Pangan memberikan informasi tentang posisi masing-masing negara di dunia. Indonesia berada di posisi rendah telah menjadi issue yang liar.
Saat ini dunia menghadapi tantangan serius dalam memproduksi pangan karena perubahan agroekosistem akibat kerusakan yang diakibatkan manajemen sumberdaya dan perubahan iklim. Tidak ada jalan lain, Indonesia harus mempunyai sistem pangan yang operasional bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi lapangan, dan harus menjadi kebijakan formal pemerintah.
Peraturan yang menjamin akses terhadap sumberdaya pertanian untuk produksi dan konsumsi, dan pengelolaan yang memberdayakan upaya produksi dan keseluruhan rantai pasokan, pengangkutan, prosesing, pergudangan dan penyimpanan. Diversifikasi pangan merupakan keharusan, karena dari 77 bahan pangan sumber karbohidrat, misalnya, kita masih bertumpu pada beras dan jagung. Oleh karena itu upaya diversifikasi makanan harus disertai peningkatan distribusi dan penyediaan bahan makanan yang beragam, pendidikan dan upaya mengubah pola pikir masyarakat tentang gizi. Untuk itu, data base yang mumpuni sangat diperlukan.
----
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/