Wednesday, 21 October 2026


Guru Oemar Bakri dan Penyuluh Pertanian

16 Mar 2021, 10:59 WIBEditor : Ahmad Soim

Penyuluhan pertanian

 

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta - Guru Oemar Bakri judul lagu yang dinyanyikan Iwan Fals adalah gambar kepedihan seorang guru, yang tidak hanya hidup menderita tetapi juga dilecehkan oleh muridnya. Padahal pada awal kemerdekaan, guru menempati posisi sosial yang tinggi di masyarakat. Saat Jepang hancur oleh bom atom pada tahun 1945, pertanyaan pertama Kaisar Jepang adalah "berapa guru yang tersisa", karena kepada merekalah kebangkitan negaranya disandarkan. 

Penyuluh pertanian juga sama. Mereka adalah guru, yang tidak hanya cerita teori tetapi praktek dan bukti di lapangan. Mereka adalah orang terhormat yang didengar sarannya dan dipercaya kata-katanya. Pengetahuannya tentang pertanian tidak diragukan karena mereka mempunyai kompetensi di bidangnya dan secara rutin mendapat pelatihan untuk meningkatkan pengetahuannya. Dengan motor dan pakaian dinasnya, mereka terlihat gagah dan berwibawa. Mereka ditunggu petani di rumah petani, di balai desa atau di saung sawah. Mereka selalu membawa informasi teknologi terkini yang ditunggu oleh petani.  Itu dulu.

Penyuluhan berubah. Limapuluh tahun lalu materi penyuluhan fokus pada teknik budidaya dan produksi padi untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani. Upaya meningkatkan produksi didukung oleh gerakan di semua lini, irigasi, penyediaan sarana produksi, kredit dan kelembagaan petani/pedesaan. Penyuluhan mendapat porsi penting dengan anggaran yang cukup.  

Penyuluhan sekarang menghadapi situasi yang berbeda. Sekarang komoditasnya beragam, persaingan dengan produk impor semakin tajam dan sasarannya lebih luas, yaitu bagaimana petani bisa membangun kemandirian dan mampu bersaing dengan memanfaatkan semua teknologi yang tersedia agar selain meningkatkan produksi dan keuntungan, juga meningkatkan kesejahteraannya dan produknya bisa bersaing dengan produk sejenis dari negara lain.  

BACA JUGA:

Masalah yang dihadapi juga tidak kurang berat, luas lahan pertanian menyusut, petani masih didominasi oleh kelompok berumur tua dengan pendidikan rendah, tenaga kerja pertanian berkurang dan upah tenaga kerja meningkat dan menjadi biaya produksi utama dalam pertanian. Sementara teknologi digital dan mesin pertanian semakin canggih, dan secara cepat menggantikan tenaga manusia. Sedangkan penyuluhan mengalami degradasi mulai dari undang-undang yang kurang mendukung, organisasi dan kegiatan yang tidak mendapat prioritas tinggi di daerah, sampai anggaran yang semakin rendah sehingga aktivitas penyuluhan terbatas dan pelatihan semakin jarang dilakukan.  

Teknologi digital telah merambah ke pedesaan. Kondisi ini telah dimanfaatkan oleh petani di negara-negara tetangga seperti Thailand, Vietnam dan Malaysia. Kelemahan kita masih hal yang klasik, akses ke dunia digital masih rendah karena pendidikan, pengetahuan dan keterampilan disertai infrastruktur jaringan wifi ke desa-desa masih rendah.  Apa daya? Yang memprihatinkan adalah, penggunaan telepon genggam dan internet sebagian  besar masih digunakan untuk hal yang tidak produktif seperti bergosip.

Maka belum bisa diharapkan petani untuk dilepas mencari informasi sendiri. Jadi, selain penyuluhan mau tidak mau harus mengunakan dan mencari infromasi menggunakan informasi digital, pertemuan tatap muka masih harus dilakukan. Kita tidak akan menunda pengunaan teknologi terkini di pertanian karena menunggu hanya membuat kita tertinggal. Infrastruktur pertanian sudah mulai mendapatkan perhatian tinggi, penyediaan sarana produksi yang cukup dengan kualitas tinggi harus menjadi prioritas, dan penyuluhan yang intensif dibangun kembali dengan memanfaatkan teknologi yang sesuai bersamaan dengan sosialisasi pemanfaatannya kepada petani. Pemerintah sudah menggerakkan upaya untuk menarik minat petani muda untuk terjun di bidang pertanian. Ini satu upaya yang tepat. Semoga penyuluh pertanian kita semakin tinggi kualitas dan kemampuannya dalam menggerakkan petani menggunakan teknologi yang tepat dan membangun kelembagaan petani yang kuat agar mereka menjadi pelaku bisnis yang handal.  

Kita harus yakin Oemar Bakri dan Penyuluh Pertanian akan menjadi bagian masyarakat yang dihormati karena berperan dalam memberi pengetahuan untuk kegiatan produktif. Bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang memberi manfaat kepada manusia lainnya? Semoga.

 

 ---

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018