
Petani padi di Jepang

Oleh: Memed Gunawan
Di dunia sepi engkau berdiri, Petani Sang Perkasa
Menekuni sejengkal tanah
Bersama tanaman, ayam dan domba-dombamu
Bau kandang dan kompos lapuk menyelimuti hidupmu
Sehingga pikiran manusia samar mengenalimu?
Mengering lumpur di betis dan tulang keringnya
Gelap berkeringat kulit yang lama dimakan terik
Urat kasar tangannya hitam mengular
Tapi kecil mengeriput harapan sederhananya
Itu saja sejak dulu, sama dari waktu ke waktu
Semoga panen musim ini selamat tak didera kekeringan
Harga sekali ini semoga lebih menjanjikan
Dia biasa perih tapi tanpa mengumbar sedih
Petani bekerja tanpa gemuruh, dia sunyi dan sembunyi
Mengikat erat kesedihan ketika banjir merusak tanamannya
Menutup mulut dari teriakan saat kering meretakkan sawahnya
Tanpa meminta, tanpa kisah-kisah kemegahan
Tapi tangannya menggenggam desah lapar berjuta manusia
Keringatnya mengunci jawab: apakah bisa makan seisi negeri
Di meja makan, restoran dan pesta meriah
Para perkasa senyap mengabut tidak tersebut
Tangan pemelihara di desa-desa lelah itu gaib tak tampak
Cinta dan harapnya tak terungkap, kerja kerasnya tetap rahasia
Bukan sekali saja kita ini telah berdosa
Petani di sudut desa sepi itu terpuruk dalam pembiaran
Semua merasa desa bukan lagi denyut kehidupan
Tak ada tanya, di mana air kita, sungai kita, hutan kita?
Sawah kita? Kambing dan ayam-ayam kita?
Cucuku hanya bertanya hari ini makan apa?
Petani tak pernah kalah menyerah
Bahagia dengan hanya secangkir kopi harapan
Tetap setia di dunia yang bekerja dengan mahluk berjiwa
Yang tumbuh dan berjalan membawa nyawanya
Yang bernafas mengalir bersama alam
Tidak bisa dicetak di mesin pabrik
Saudaraku
Kita semua di gedung ini telah berbagi waktu dengan Para Perkasa
Lelah bersama lewat pematang dan kandang
Beri tabik, dan tak berhenti menyertainya
Para Perkasa, engkau tidak perlu selalu hidup dalam masa lalu
Mengunci diri ketika teknologi menyerabut tradisi yang engkau geluti
Sambut, tangkap dan hadapi ilmu baru itu dengan percaya diri
Sejarah abadi tanah kita tak akan pernah memudar
Kerja kita di tanah ini tak akan berhenti
Hanya berubah …… Hanya berubah…
Manusianya berganti, terpinggir dan lalu bergilir
Membawa ilmu yang terus mengalir
Wariskan pesan buat anak muda
Jiwa Para Perkasa dipahat di dadanya
Jejak jari kaki dicetak di halamannya
Pertanian itu abadi, cucuku, maka ceritalah
Tentang ladang, pohon padi, jerami dan ayam di kandang
Tentang saung sejuk tempat makan siang petani
Cucuku, anak muda percayalah
Pertanian tak akan pernah berakhir
Sebagai sumber kehidupanmu sejak lahir
Pasarminggu, 19 Juli 2019, jam 02.23
===
Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK: LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/