Wednesday, 21 October 2026


Petani Sang Perkasa

20 Mar 2021, 06:33 WIBEditor : Ahmad Soim

Petani padi di Jepang

 

Oleh: Memed Gunawan

 

Di dunia sepi engkau berdiri, Petani Sang Perkasa

Menekuni sejengkal tanah

Bersama tanaman, ayam dan domba-dombamu

Bau kandang dan kompos lapuk menyelimuti hidupmu

Sehingga pikiran manusia samar mengenalimu?

 

Mengering lumpur di betis dan tulang keringnya

Gelap berkeringat kulit yang lama dimakan terik

Urat kasar tangannya hitam mengular

Tapi kecil mengeriput harapan sederhananya

Itu saja sejak dulu, sama dari waktu ke waktu

Semoga panen musim ini selamat tak didera kekeringan

Harga sekali ini semoga lebih menjanjikan

Dia biasa perih tapi tanpa mengumbar sedih

 

Petani bekerja tanpa gemuruh, dia sunyi dan sembunyi

Mengikat erat kesedihan ketika banjir merusak tanamannya

Menutup mulut dari teriakan saat kering meretakkan sawahnya 

Tanpa meminta, tanpa kisah-kisah kemegahan

Tapi tangannya menggenggam desah lapar berjuta manusia

Keringatnya mengunci jawab: apakah bisa makan seisi negeri

 

Di meja makan, restoran dan pesta meriah

Para perkasa senyap mengabut tidak tersebut

Tangan pemelihara di desa-desa lelah itu gaib tak tampak

Cinta dan harapnya tak terungkap, kerja kerasnya tetap rahasia

 

Bukan sekali saja kita ini telah berdosa

Petani di sudut desa sepi itu terpuruk dalam pembiaran 

Semua merasa desa bukan lagi denyut kehidupan

Tak ada tanya, di mana air kita, sungai kita, hutan kita?

Sawah kita? Kambing dan ayam-ayam kita?

Cucuku hanya bertanya hari ini makan apa?

 

Petani tak pernah kalah menyerah

Bahagia dengan hanya secangkir kopi harapan

Tetap setia di dunia yang bekerja dengan mahluk berjiwa

Yang tumbuh dan berjalan membawa nyawanya

Yang bernafas mengalir bersama alam

Tidak bisa dicetak di mesin pabrik

 

Saudaraku

Kita semua di gedung ini telah berbagi waktu dengan Para Perkasa

Lelah bersama lewat pematang dan kandang

Beri tabik, dan tak berhenti menyertainya

 

Para Perkasa, engkau tidak perlu selalu hidup dalam masa lalu

Mengunci diri ketika teknologi menyerabut tradisi yang engkau geluti

Sambut, tangkap dan hadapi ilmu baru itu dengan percaya diri

Sejarah abadi tanah kita tak akan pernah memudar

Kerja kita di tanah ini tak akan berhenti

Hanya berubah …… Hanya berubah…

Manusianya berganti, terpinggir dan lalu bergilir

Membawa ilmu yang terus mengalir

 

Wariskan pesan buat anak muda

Jiwa Para Perkasa dipahat di dadanya

Jejak jari kaki dicetak di halamannya

 

Pertanian itu abadi, cucuku, maka ceritalah

Tentang ladang, pohon padi, jerami dan ayam di kandang

Tentang saung sejuk tempat makan siang petani

 

Cucuku, anak muda percayalah

Pertanian tak akan pernah berakhir

Sebagai sumber kehidupanmu sejak lahir

 

 

Pasarminggu, 19 Juli 2019, jam 02.23

===

 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANI. Atau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klik: myedisi.com/sinartani/

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018