Thursday, 23 September 2021


Jujur Pangkal Mujur

29 Mar 2021, 07:34 WIBEditor : Ahmad Soim

Eksportir. Perlu kejujuran | Sumber Foto:pixabay.com/Soim

Bisa jadi karena ketiban sial, pengekspor maniok (potongan ubikayu kering untuk pakan ternak) ke Eropa mendapat komplain dari importir karena kualitas premium yang dipesan tercampur produk berkualitas rendah. Apa respon perusahaan eksportirnya?

  

Oleh: Memed Gunawan

 TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Dia hadiahkan dengan cuma-cuma barangnya dengan disertai permohonan maaf, dan tidak lama kemudian dikirim maniok kualitas premium dengan jumlah yang sama sebagai pengganti. Tanpa harus dibayar. Sejak itu perusahaan pengekspor itu menjadi langganan bisnis sepanjang masa. Kehilangan keuntungan itu dianggapnya bukanlah kerugian tetapi biaya untuk membeli pengalaman dan membangun kepercayaan. Sayangnya kasus ini bukan di negara kita. 

Dengan perkembangan teknologi saat ini, menipu tidak hanya dicatat dalam catatan rahasia sebagai dosa pribadi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, tetapi akan ketahuan terang benderang dalam waktu yang sangat singkat. Dan komplain dari pembeli akan segera sampai di meja kerja Anda. Maka akan masih adakah ayam atau sapi yang digelontor air supaya timbangannya berat? Buah-buahan yang disuntik bahan kimia supaya warnanya menarik? Terigu yang dicampur tepung lain supaya untung? Apalagi mempermainkan timbangan? Itu cara yang sangat primitif. Gampang diditeksi. Kecurangan tak mungkin bisa disembunyikan. Dan dampaknya adalah kehilangan kepercayaan seumur hidup. Hanya kejujuran yang akan bertahan.

BACA JUGA:

Orang Indonesia sangat menghargai kejujuran seperti itu, buktinya mereka piawai membuat peribahasa untuk mengemukakannya dengan banyak kata kiasan. Katanya, Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya; Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh; Pembeli adalah raja. Itu semua adalah kiat berbisnis. Quran juga mengingatkan, Sempurnakan takaran dan timbangan dan jangan kamu kurangkan (QS 7:85). Begitu besar nilainya kejujuran, dan betapa manusia mudah berbuat curang, sampai-sampai Tuhan pun harus memperingatkan. Kepercayaan itu mahal dan harus dipertahankan. Sekali dicederai maka akan sulit untuk dipulihkan.

Keuntungan besar bisa saja datang mendadak dengan cara menekan mitra bisnis, tetapi cara itu tidak akan bertahan lama. Karena prinsip bisnis adalah saling membesarkan atau yang dikenal dengan istilah keren win-win game.  Pelaku yang curang tak mungkin bisa memperdaya semua orang apalagi dalam jangka waktu lama. Sekarang ini pelaku akan segera ketahuan dengan semakin canggihnya teknologi informasi. Dunia bisnis akan menghukumnya, tinggal sejauh mana hukum formal diterapkan sehingga membuat mereka yang curang jera. 

Kemitraan yang dibangun oleh para inovator muda yang sekarang sedang moncer, saya yakin melewati jalan yang tidak mudah dan pasti pada awalnya menemukan banyak kendala. Tidak kurang kemitraan bisnis yang berakhir dengan kesedihan. Sebut saja kemitraan pengusaha/pengolah dengan petani nenas, tembakau, rumput laut, jamur atau komoditas lainnya. Harga, kualitas, bantuan input dan bibit serta aturan sudah ditetapkan dan disepakati. Saat panen tiba dan transaksi dilakukan, sebagian pihak mencederai kesepakatan akibat harga tiba-tiba berubah. Petani tidak menjual kepada mitra karena harga di luar lebih tinggi, atau mitra tidak menepati janji karena harga di luar turun drastis. Akhirnya kedua pihak sama-sama merugi. Bisnis tidak berkembang.

Jadi? Kerjasama itu penting kalau ingin maju. Kerjasama sangat penting karena pelaku usaha skala kecil tak mungkin bisa bangkit sendirian, dan dalam kerjasama keadilan (tentu saja sesuai dengan besarnya peran masing-masing pihak) harus ditegakkan. Sekarang sudah pada masa di mana jalan sendirian untuk mendapatkan keuntungan sendiri secara berkelanjutan tidak lagi memungkinkan. Apalagi menjadi besar di atas penderitaan yang kecil, mustahil bisa berkembang. Selain termasuk perbuatan jahat, juga tidak akan langgeng. Pesan seorang kawan, walaupun dengan maksud bergurau, bahwa untuk berbisnis cukup dengan modal tamak, tidak akan berhasil. Syaratnya bukan tamak, tetapi berbagi.

Melihat kondisi petani yang pada umumnya skala kecil ini, kerjasama kemitraan, dan pengembangan kelembagaana pemasaran adalah suatu keharusan. Petani harus punya kekuatan posisi tawar yang seimbang dengan pengusaha besar yang memasarkan atau mengolah. Di sinilah diperlukan kerjasama dengan dasar kejujuran dan berbagi yang berkeadilan untuk saling membesarkan. Pemerintah memasilitasinya dan memberikan bantuan itu.

 

   ===

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018