Wednesday, 14 April 2021


Survey, Suka-Duka Peneliti Sosial Ekonomi Pertanian

29 Mar 2021, 07:54 WIBEditor : Ahmad Soim

Petugas Survei KSA melakukan pengambilan sampel dengan gadget | Sumber Foto:ISTIMEWA

Survey adalah pekerjaan menyenangkan buat sebagian orang karena melepas diri kita dari kegiatan rutin di kantor. Boleh juga dianggap olahraga atau yang populer sekarang outbound.

 

 

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --  Namun kalau kita beranggapan bahwa survey adalah pekerjaan gampang itu adalah salah besar. Survey adalah pekerjaan yang serius. Survey harus mencatat data yang benar, objektif, mewakili populasi dan menggunakan metoda sampling yang benar. Selain itu diperlukan kemampuan menggali data yang baik. 

Survey tanah sebagai basis informasi bagi pembukaan lahan pertanian atau pemukiman memerlukan keberanian dan kondisi fisik yang prima. Perjalanan yang jauh dan harus ditempuh dengan jalan kaki lewat alam yang masih asing tidak jarang memakan korban. Sebagai mahasiswa kami kagum dengan kondisi fisik guru-guru kami yang prima walaupun usianya sudah tidak muda lagi. Perjalanan menembus hutan dan rawa tidak dapat dihindarkan. Kadang-kadang harus pula berhadapan dengan binatang buas yang terkenal ba- nyak di hutan tropis. 

Pengorbanan paling ringan paling tidak adalah digayuti lintah di hutan atau di rawa-rawa. Tapi bisa juga kehilangan nyawa. Ada salah satu mahasiswa IPB hanyut terbawa arus deras sungai besar di Jawa Barat. 

Banyak cerita yang seram, mulai dari menembus hutan perawan, menghadapi binatang buas sampai dengan cerita mistik. Sahabat saya Dr. Oteng Haridjaja cerita, ada dosen IPB yang terpaksa tinggal di pohon beberapa hari ditunggui gajah yang ngamuk sampai akhirnya diselamatkan oleh tim survey. 

Di daerah yang terisolir sekalipun, daerah perkam- pungan pastilah kondisi infrastrukturnya lebih baik karena sudah dihuni manusia. Pada tahun 1974 mahasiswa IPB ditugasi oleh Korem Suryakancana melakukan survey dalam rangka pembukaan perumahan prajurit di kawasan Gunung Geulis, Gadok, Bogor. Wawancara tim sosial ekonomi dengan responden dianggap tim survey tanah adalah ngopi-ngopi dan ngobrol dengan petani atau responden, sementara tim survey tanah harus berkotor-kotor berlepotan tanah. 

BACA JUGA:

Survey sosial ekonomi di sepanjang sungai Lalan, anak sungai Musi di Sumatera Selatan pada tahun 1978 termasuk salah satu survey yang sulit. Pada saat itu Dr. Sjarifudin Baharsjah yang pada saat itu menjadi Kepala Pusat Penelitian Agro Ekonomi (PAE), yang kemudian menjadi Menteri Pertanian RI (sekarang sudah almarhum), sempat melihat kondisi daerah survey di Bayunglincir, Jambi. Dengan medan yang berat dan tidak adanya jalan darat, maka perjalanan harus menggunakan speed boat. Jarak antar rumah yang berjauhan harus dilewati melalui ladang yang masih dipenuhi sisa tebangan hutan perawan sehingga membuat anggota tim survey sangat kelelahan. 

Jangan lagi ditanya soal binatang buas. Pada saat sur- vey di daerah yang sama diulang 6 bulan kemudian, tim kehilangan seorang responden karena tewas diterkam harimau. Demikian juga dalam tempo yang singkat itu telah terjadi banyak perubahan. Pemilik toko penjual keperluan sehari-hari bangkrut dirampok. Dia sudah pindah entah ke mana. Lalu seorang penebang dan sekaligus boss penampung kayu meninggal karena berkelahi berebut rezeki. 

Jangan pula dilupakan cara kita bertamu. Masuk rumah orang ada cara-caranya. Bertamu harus mengikuti tatakrama yang berbeda antara satu daerah dengan yang lainnya. Ada aturan yang harus diikuti. Jangan sekali-kali menghina orang yang tidak kita sukai karena jorok, kotor, bau atau berpenyakit. Meludah misalnya. Salah-salah kita dipelet. Katanya ada pegawai tinggi sebuah bank yang tidak mau pulang ke Jakarta karena akhirnya kawin dengan perempuan yang dia lecehkan. 

Jangan beramah-ramah, klemas-klemes wawancara isteri orang yang suaminya tidak di tempat. Bisa-bisa dibacok orang. Hal ini terjadi di Madura yang menimpa seorang tukang kredit dari Tasikmalaya. Karena terlalu ramah dan banyak cerita (sebenarnya modal utama tukang kredit harian adalah ramah dan pandai cerita) maka sang suami yang saat itu sedang berlayar salah terima. Tukang kredit tewas diclurit. Kabarnya selama beberapa bulan tukang kredit asal Tasikmalaya hengkang dari Madura. Hal ini menunjukkan betapa perlunya pengetahuan kultur dan budaya setempat bagi seseorang yang melakukan survey. 

Kawanku yang sekarang sudah menjadi orang besar di Departemen BUMN pada saat mahasiswa melakukan survey di pedalaman sebuah pulau besar. Tiba-tiba respondennya minta tolong agar anak perempuannya yang sakit perut di kamar sebelah diobati. "Aduh, pak, saya bukan dokter, saya tidak bisa mengobati", katanya bingung. Untung pengantarnya segera maklum dan bersedia menggantikan untuk mengobati. Pulang dari sana barulah kawanku maklum betapa tersinggungnya tuan rumah kalau anak perempuannya tidak diobati. 

Dalam sebuah survey irigasi di Jawa Barat sekitar tahun 1973, survey yang aku lakukan mengalami kegagalan total. Tak ada sama sekali data yang dapat digali. Datang ke lokasi berdua dengan Ir. Djidji Surjadji (sekarang almarhum) sekitar jam 10 pagi, didrop oleh mobil dinas. Setelah menunjukkan surat pengantar dari bupati kami berdua ditempatkan di rumah pak Kepala Desa. Katanya di rumah isterinya yang ke dua (..wah.. bahaya...). Kayaknya pak lurah tidak senang tapi terpaksa harus menerima walaupun tak suka. Maka sejak kami datang tidak ada komunikasi sama sekali. Sementara orang yang diajak bicara tak ada satupun yang menjawab pertanyaan kami. Boro-boro ditunjukkan di mana kami bisa tidur. Kami didiamkan sampai kami menyerah ketakutan. Akhirnya dengan berjalan kaki sekitar 6 kilometer kami kembali ke Tangerang dan melanjutkan perjalanan dengan bus ke pondokan proyek PROSIDA di Banten. 

Di balik semua itu yang paling susah adalah mendapatkan datanya. Bisa karena responden curiga, takut pajak, malas karena mengganggu waktu mereka, atau karena tidak mampu mengungkapkan dengan baik walaupun orangnya jujur. Soal pajak misalnya, petani bisa marah sekali. "Saya tak pernah berutang kenapa tiba-tiba harus bayar", katanya dengan nada yang emosional. 

Lain lagi survey di daerah Banten. Sepanjang perjalanan menuju desa sample anak-anak mengikuti dengan pandangan curiga. Ketika kami dekati sekedar untuk memberi permen, mereka lari tunggang langgang. Akhirnya teka teki terjawab sesudah kami mendapat penjelasan dari pak lurah, bahwa sehari sebelumnya ada petugas pemberi vaksin cacar datang ke desa. Anak-anak lari ketakutan disuntik cacar. 

Di sebuah pasar di Jatinegara dalam survey pemasaran kedelai, tim survey jadi bulan-bulanan. Setelah ngobrol sedikit tentang maksud kedatangan kami, dimulailah wawancara dengan pertanyaan awal. Sambil mengaduk-aduk kedelai yang ada di karung aku bertanya, 

"Ini jenis apa pak?"

"Lha kan bapak ahlinya kok tanya sama saya" katanya dengan mata agak menantang.

"Saya terus terang tidak tahu makanya tanya sama bapak" jawabku mencoba sabar.

"Kalau gak tahu ngapain bapak kerjain pekerjaan ini. Jadi bapak maunya apa?".

Wah...wah, ini berabe. Dia sederhana dan menembak tepat di sasaran. Bulls eye.

"Baik", aku bilang. "Dari mana barang ini dikirimnya pak" tanyaku.

"Mana saya tahu pak. Yang jelas turun dari truk. Saya tak peduli dari mana, yang penting harganya cocok" "Berapa harganya ini yang di karung ini".

"Wah tak tentulah pak. Kadang tinggi kadang kurang. Namanya juga pasar. Mustinya kan bapak juga tahu". Begitu seterusnya sampai kami babak belur tanpa ada secuilpun data diperoleh. 

Tidak semuanya seperti itu. Responden yang super curiga memang mudah terlihat dari matanya. Seringkali mereka masuk kamar dan kita dihadapi oleh anak kecil atau penjaganya yang sudah diatur untuk menjawab tidak tahu apa-apa. Survey mengalami kesulitan pada saat menghadapi perusahaan besar, pemilik yang berpengaruh atau orang penting. Pintu tinggi menghadang merupakan hambatan yang besar bagi pelaksana survey. Mereka selalu curiga. Jadi jika datang dengan jalan kaki atau diantar ojek, tak mungkinlah bakal direken. Hambatan psikologisnya besar. Paling tidak harus diantar dengan mobil plat merah. Waktu itu mobil plat merah masih sangat berwibawa. 

Dalam suatu survey tentang ubikayu di Lampung, data yang paling sulit diperoleh adalah dari perusaan pengolahan besar yang berlokasi di Bandar Lampung. Hanya untuk masuk ke halaman perusahaan saja diperlukan waktu menunggu yang sangat lama. Perlu izin dari pimpinan perusahaan yang ternyata ada di Jakarta. Izinpun ternyata tidak diberikan. Setelah berargumentasi dan mendapat telepon dari Kanwil Perindustrian, barulah kami diizinkan masuk. Menunggu lagi cukup lama. Wawancarapun tidak berjalan lancar karena tidak banyak keterangan dapat dikorek. Sebagian besar tidak boleh diberikan karena bersifat rahasia perusahaan. Memang ada indikasi pasar yang sangat tidak transparan yang akhirnya kami sampaikan dalam kesimpulan penelitian. 

Di antara responden, memang yang paling kooperatif adalah petani. Mereka kebanyakan membantu, tetapi karena waktu mereka tersita untuk wawancara, survey menjadi beban buat mereka. Tapi dengan tulus mereka terima tim survey dan mereka jawab semua pertanyaan. Berbagai kesulitan yang dihadapi lebih banyak pada keterbatasan kemampuan untuk mengungkapkan data yang mereka ketahui dan tidak adanya data tertulis yang mereka miliki. Biaya produksi dan pengeluaran lain pastilah banyak tetapi tak ada satupun catatan yang mereka buat. Inipun cermin bahwa usaha mereka lemah dalam perencanaan. Secara jujur kita juga yang melakukan survey, dengan berbekal pendidikan tinggi, tidak pernah melakukan pencatatan pendapatan dan pengeluaran. Sama saja. 

Tentang data umur saja yang paling sederhana ternyata tidak mudah diperoleh. Kebanyakan petani akan menyebut umurnya kelipatan angka lima. Bisa 25, 45, 50 dan sebagainya. Atau "Kata orangtua saya, saya lahir waktu ada gempa bumi yang merobohkan balai desa" katanya. 

"Kapan gempa itu terjadi?". Ada harapan di hatiku. "Ya waktu saya lahir itu, Pak", katanya lugu. Lha? 

Hati-hati kalau cerita penggunaan input produksi. Yang dia jawab pada umumnya adalah bukan banyaknya yang digunakan tetapi yang dia beli. Yang dibeli bisa digunakan untuk berbagai macam tanaman lain-nya. Bisa dibayangkan bahwa akan terjadi perkiraan yang salah akibat karena kesalahan dalam data survey. Survey memang sulit, dan memerlukan pengalaman menggali data yang baik. Dengan pendekatan seorang yang dipercaya oleh petani. Bukan hanya pekerjaan tanya jawab semata. Dia juga tidak berkaitan dengan tingginya tingkat pendidikan formal. 

Dr. A.T. Birowo (kini almarhum), yang aku kira orang genius, yang pada saat itu pimpinan SAE (Survey Agro Ekonomi), sebuah proyek antar departemen yang meneliti masalah pedesaan, ikut melakukan survey dan wawancara dengan petani. Serius juga beliau berbincang-bincang dengan petani, dan menulis sesuatu di questionnaire yang beliau bawa. Aku kagum karena beliau tidak pernah melakukan survey seperti itu. Sampai saat pemeriksaan kembali data di questionnaire, barulah ketahuan isinya. Yang beliau tulis adalah huruf-huruf besar yang berbunyi GENDENG, GILA dan sebagainya. Beliau sudah tidak sabar lagi barangkali mendengar jawaban responden yang tidak bisa dimengerti. 

Dr. Rudolf Sinaga (sudah almarhum) adalah pimpinan SDP (Studi Dinamika Pedesaan), sebuah proyek multi-year di bawah payung SAE. Beliau baru saja pulang menggondol gelar PhD di bidang ekonomi pertanian di University of Montana, USA. Banyak ilmu baru kami dapat dari beliau. Begitu juga untuk bekal di lapangan pada saat melakukan survey. Beliau memang sangat bersemangat menggunakan ilmu barunya bagaimana menggali data dan pemikiran petani. Antara lain yang dinamakan Tag Question, untuk mengetahui apa rencana petani apabila mereka diberi kesempatan. 

Di sebuah rumah sederhana kami semua duduk di tikar pandan, dijamu air teh tawar. Petani responden dengan hidmat duduk. Ramah dan hangat. Sebagaimana biasanya orang desa. Setelah bincang-bincang pembuka, lalu diteruskan dengan pertanyaan baku sampai selesai. Lalu keluarlah Tag Question pak Rudi (demikian kita biasa memanggil beliau). 

"Pak, dengan usaha bapak seperti ini, misalkan bapak punya modal tambahan Rp 100 ribu, apa yang akan bapak lakukan?", tanya pak Rudi.

Uang Rp 100 ribu pada tahun 1975 itu sangatlah banyak. Gajiku hanya Rp 30.000 sebulan. 

"Wah, saya tidak bisa membayangkan dari mana uang sebanyak itu, Pak" jawabnya.

"Seandainya diberi pinjaman", kata pak Rudi.

"Saya tidak mau pinjam pak. Takut tidak bisa bayar". "Katakanlah saya beri, bapak tidak usah bayar", tantang pak Rudi. 

Tanpa berpikir panjang petani itu menjawab,

"Saya akan beli kursi dan piring gelas yang bagus, Pak", katanya. Lho.

"Kenapa. Buat apa semua itu, Pak", serang pak Rudi tak percaya. 

"Lha wong bapak yang kasih uang, mana tega saya biarkan bapak duduk di tikar butut seperti ini. Jadi kalau bapak mampir ke sini pasti ada kursi dan piring gelas yang bagus buat menjamu bapak", katanya tanpa dosa. Satu nol. 

"Oh... gak" pak Rudi membela diri. "Kita dapat data penting. Dia tidak mau berutang. Jadi membantu mereka dengan kredit belum tentu satu solusi. Tapi itu cerita satu petani. Kita tidak boleh gegabah ambil kesimpulan" kata beliau. 

"Ya, Pak", jawab kami sambil mengangguk dan tersenyum. Sesampainya di pondokan baru kami tertawa terbahak-bahak. 

Ada lagi yang menarik dari pak Rudi. Beliau suka sekali diskusi. Salah satu adalah pada saat menginap di sebuah hotel kecil di Garut. Selesai makan malam kami berdiskusi di ruangan tamu di sekeliling meja besar. Diskusi semakin hangat sementara dalam frekuensi yang tinggi, gadis (atau bukan gadis) muda hilir mudik masuk dan keluar kamar di sebelah meja kami. Terus terang kami terganggu tapi pak Rudi terus bicara. Akhirnya kami berhenti. 

"Pak lebih baik berhenti terlalu banyak wereng" kata seorang peneliti senior kami. Dan pak Rudi mengerti, kami berhenti berdiskusi. Sampai sekarang istilah ”wereng” itu masih kami gunakan. 

Pak Rudi juga orangnya idealis. Kadang-kadang tidak menangkap keinginan tim yang ingin melepas sejenak dari pekerjaan survey dan diskusi. Di Jatibarang kami baru saja makan malam ketika ada ide untuk nonton. Filmnya bagus dan tiket bioskopnya murah. Kalau tidak salah pemainnya adalah Michael Douglass dan judulnya Fatal Attraction. Di Cirebon saja belum diputar. Menurut cerita orang hotel, rupanya dalam perjalanan dari Jakarta ke Cirebon film itu dibajak dulu di putar di bioskop kecil. Ketika minta ijin mau nonton pak Rudi memberi komentar. 

"You tahu apa untung ruginya nonton?".

Maka dibahaslah dengan berbagai teori dan berbagai model untuk mengukur kegunaannya sampai waktu nonton kelewat. Wah.... Memang dia tidak begitu berminat untuk nonton mungkin karena di kursi bioskop sederhana itu banyak tumbila atau kutu busuk. 

   ===

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018