Tuesday, 03 August 2021


Menyiasati Gejolak Harga

08 Apr 2021, 17:22 WIBEditor : Ahmad Soim

Gabah Petani | Sumber Foto:Memed Gunawan

 

 

Oleh: Memed Gunawan

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Fluktuasi harga musiman memang adalah mekanisme pasar, harga turun saat panen dan naik saat paceklik. Itu normal pada tataran teori.

Tapi kita bicara petani kecil yang lahan dan tentu penghasilan dari pertaniannya kecil, sehingga harga turun, pada besaran tertentu, akan membuat mereka  tersedak. Padahal, sekarang pun yang dinamakan keuntungan itu, seringkali hanyalah upah tenaga kerja mereka sendiri, dan sewa lahan yang tidak pernah diperhitungkan sebagai biaya. Gejolah harga terjadi setiap musim sehingga yang namanya pembelian gabah yang digerakkan pemerintah itu selalu ramai dan menjadi topik berita setiap musim.

 Pada era Bulog berperan penuh sebagai stabilator harga, pembelian gabah petani saat panen sudah jelas siapa yang bertanggungjawab. Demikian pada saat harga naik melebihi tingkat yang mengancam kemampuan masyarakat konsumen, Bulog pula yang melakukan operasi pasar. Konsekuensinya tentu semuanya tergantung kepada anggaran pemerintah. Sekarang semua sibuk. Kementan, Bulog, Pemda, Perbankan, Kodim, Perpadi bahu membahu mengurus pembelian gabah petani.

Resi gudang yang digadang-gadang menjadi solusi dan pernah diujicobakan di beberapa daerah ternyata kurang berhasil. Banyak faktor yang tidak diperhitungkan menjadi penyebabnya. Kondisi petani yang umumnya skala kecil dan miskin tentu jadi penyebab utama. Kebutuhan mereka sangat tergantung kepada hasil panen, sehingga produksi harus segera diujual untuk mendapatkan uang tunai untuk membayar utang biaya produksi dan kebutuhan keluarga, sehingga harga rendah hanya dianggap tamu nakal yang datang tidak diundang saja.

BACA JUGA:

Biaya resi gudang adalah masalah kedua. Walaupun diberikan subsidi oleh pemerintah, tetapi biaya angkut dari rumah ke gudang dan sebaliknya adalah besaran yang cukup membebani petani. Apalagi kalau lokasi gudang jauh dari rumahnya. Kenaikan harga bisa jadi masih belum menjadi insentif bagi petani untuk memanfaatkan jasa resi gudang.

Biaya angkut ini jarang diperhitungkan sebagai beban petani, sementara jarak lahan petani dengan rumahnya umumnya cukup jauh. Itulah sebabnya petani lebih suka menjual padinya dengan cara tebasan. Ini membebaskan mereka dari biaya angkut, biaya panen, biaya pengawasan, dan resiko kehilangan selama panen. Pada intinya, pilihan petani pada umumnya keputusan rasional, seperti halnya mereka yang menjual pupuk bersubsidi yang disinyalir banyak terjadi. Bisa jadi ini adalah keputusan rasional, karena perbedaan margin, menurut perhitungan petani lebih menguntungkan dibanding resiko dalam proses produksi yang mereka hadapi dan waktu menunggu sampai panen tiba.

Di Thailand, kredit pasca panen yang diberikan kepada petani untuk biaya hidup dan membayar kredit saprodi boleh saja jadi alternatif baru. Petani tidak menggunakan jasa resi gudang, tetapi diberikan kredit untuk memenuhi kebutuhan hidupnya agar bisa menunda penjualan hasil panennya sampai harganya lebih tinggi.

Yang lebih sustain tentu saja jika petani, melalui kelembagaan mereka mampu mengatasi gejolak harga yang merugikan. Korporasi berupa kelembagaan bisnis, koperasi, perusahaan atau apa pun bentuknya mampu meningkatkan posisi tawar petani sehingga tidak menjadi korban flukstuasi harga yang merugikan. Kelembagaan petani memang solusi ideal. Mereka tidak mungkin bisa mandiri sendirian, tetapi bisa mandiri dalam konsep kebersamaan.

   ===

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018