Sabtu, 25 Mei 2019


Pembudidaya Ikan Korban Tsunami Pandeglang Bangkit Lagi !

25 Peb 2019, 16:07 WIBEditor : Gesha

Pembudidaya ikan Pandeglang dapat bantuan dari KKP | Sumber Foto:HUMAS DJPB

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Pandeglang--- Bencana tsunami yang terjdi di kawasan Pandeglang, Banten di akhir 2018 silam, membuat sejumlah pembudidaya ikan kehilangan pekerjaannya. Namun kini, dengan bantuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), perlahan tapi pasti mulai bangkit.

Melalui Ditjen Perikanan Budidaya, bantuan untuk pembudidaya ikan berupa 35.000 ekor benih lele dan 1,4 ton pakan ikan diserahkan langsung kepada pembudidaya,  KKP juga menyalurkan  bantuan paket sembako kepada 160 KK.

“Bantuan yang kami berikan ini bertujuan untuk membangkitkan kembali pembudidaya ikan di Kabupaten Pendeglang pasca tsunami Desember lalu,” ujar  Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto yang  secara langsung menyerahkan bantuan tersebut di Kampung Mataram, Desa Sukarame,  Kecamatan Carita,  Kabupaten Pandeglang, Senin (25/2).

Dengan bantuan tersebut, diharapkan pembudidaya ikan korban tsunami segera kembali melanjutkan usahanya. 

“Kami juga berharap, produksi perikanan baik dari budidaya maupun penangkapan segera kembali bangkit. Sebab, potensi perikanan budidaya yang dimiliki Pandeglang luar biasa,” tegas Slamet.

Slamet juga meminta Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Pandeglang untuk  mengidentifikasi lebih lanjut serta meng-up date kerusakan-kerusakan sarana prasarana budidaya dan jumlah pembudidaya yang terdampak bencana tsunami.

Dengan identifikasi tersebut diharapkan semua pembudidaya ikan di Pandeglang secara bertahap bisa segera dipulihkan usahanya dan prasarana  dan sarana budidaya perikanan yang rusak segera diperbaiki pemerintah.

Untuk mempercepat pemulihan pembudidaya ikan yang terdampak tsunami, lanjut Slamet, Ditjen Perikanan Budidaya mengharapkan kepada masyarakat membentuk kelompok berbadan hukum atau koperasi.

Hal tersebut dimaksudkan untuk  memudahkan pembinaan dan penyaluran bantuan dari pemerintah, perbankan, dan lembaga lainnya.

Salah satu pembudidaya ikan sekaligus korban tsunami Ade Nawawi,  mengaku sangat gembira dan  mengapresiasi bantuan dan perhatian dari KKP melalalui Ditjen Perikanan Budidaya.

“Sebelumnya kami stres. Dengan adanya bencana tsunami, selain rumah kami jadi korban, usaha budidaya lele kami juga hancur. Dengan adanya perhatian dan bantuan dari pemerintah ini, kami semangat lagi. Mohon kami terus dibimbing,” kata Ade.

Ia juga mengatakan, bencana tsunami sempat membuatnya sedih.  Sebab, beberapa hari sebelum terjadi bencana yang mengagetkan itu Ade baru saja menebar benih ikan lele. 

“Kami saat itu  punya 4 unit kolam dengan kapasitas 5.000 ekor/kolam. Karena diterjang tsunami,  benih ikan yang ditebar musnahlah sudah,” kenang Ade.

Bupati Pandegalang, Irna Narulita  juga bergembira  dan menyampaikan rasa terima kasihnya atas perhatian dari KKP untuk masyarakatnya. “Terima kasih atas bantuan sembako, pakan, benih dan lainnya yang sudah diberikan,” ujarnya.

Ia juga mengatakan,  Banten memiliki 51 pulau dan garis pantai 600 km, 300-an km diantaranya atau separuhnya di Pandeglang. 

“Karena itu, budidaya ikan yang dilakukan masyarakat Pandeglang  bisa menjadi peluang usaha bagi mereka,” ujar Irna.

Irna juga mengimbau pembudidaya ikan di Pandeglang memanfaatkan inovasi dan teknologi yang dikembangkan KKP. Melalui teknologi budidaya tersebut,  usaha budidaya iakn yang dilakukan masyarakat tak hanya meningkat produksinya, tapi bisa berhasil dan berkelanjutan.

Daerah Terdampak

Berdasarkan catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pandeglang, sentra-sentra perikanan budidaya di 6 kecamatan yakni Carita, Labuhan, Panimbang, Sumur, Sukaresmi, dan Cimanggu rusak terkena dampak tsunami. 

Tercatat 40 unit KJA beserta 33.000 ekor ikan kerapu dan bawal bintang di dalamnya, dan 8 unit bagan budidaya kerang hijau rusak. Bahkan,  11 unit budidaya rumput laut, 8 hektar tambak bandeng, 3 hektar kolam nila dan lele hancur diterjang tsunami.

Akibat terjangan tsunami tersebut, sebanyak 81 orang pembudidaya terkena dampak langsung bencana tersebut.

Data  juga menyebutkan,  sebanyak 7 backyard pembenihan udang di Kecamatan Carita Pandeglang mengalami kerusakan.

Sarana dan prasarana (sarpras)  backyard yang rusak meliputi, bangunan (rusak berat),  dan kolam, instalasi inlet, mekanik-elektrikal mengalami kerusakan sedang hingga ringan.

 

Sedangkan di Kecamatan Anyer,  Kabupaten Serang kerusakan sarpras terjadi di sembilan hatchery swasta milik  PT. Syaqua, Windu Sagara, Central Benur Anyer, Manunggal 23, PT. Central Proteina Prima, Graha Benus Unggul, Windu Prima Utama , Benur Alam Anyer dan Anyer Benur Lestari.

Sementara itu, di Lampung Selatan juga terjadi kerusakan sarpras budidaya sebanyak 196,2 unit bangunan hatchery/backyard dan 2 hektar tambak yang tersebar di Kecamatan Kalianda, Rajabasa, Sidomulyo, Ketapang, Katibung, Sragi dan Bakauhenii, serta 676 frame budidaya rumput laut di Kecamatan Ketapang

 

 

 

 

 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018