
ejaring Agripreneur, From Field To Feed: Menghubungkan Petani dan Pasar Lewat Jejaring Komunikasi yang berlangsung di Polbangtan Bogor, Kamis (29/10).
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor---Di era digitalisasi, pelaku usaha yang terjun ke dunia pertanian akan makin mudah dalam memasarkan produknya. Apalagi bagi generasi muda yang ingin terjun bisnis di dunia pertanian, tak perlu lagi ragu dan khawatir karena dengan memanfaatkan digitalisasi jangkauan pasar makin luas.
Data BPS menyebutkan 83 persen petani milenial aktif di media sosial. Sayangnya, kurang dari 30 persen terhubung ke pasar digital. Sementara data Kementerian Perdagangan oada tahun 2024, nilai transaksi e-commerce agribisnis tumbuh di ayas 45 persen per tahun. Bahkan hampir 72 persen, pelaku agribisnis percaya komunikasi digital meningkatkan transparansi harga dan akses pasar.
Dosen Program Manajemen Agribisnis Sekolah Vokasi IPB University, Doni Sahat Tua Manalu mengatakan, saat ini pelaku usaha tidak bisa lagi meninggalkan hal-hal yang update, seperti digitalisasi. Bahkan menjadi suatu keharusan dalam membangun usaha, termasuk pertanian. Sebab, jika tidak masuk dalam digitalisasi, maka kompetitor akan masuk.
“Jadi kalau kita bicara agribsisnins peran digitalisasi sangat besar dan tidak bisa ada tawar menawar lagi. Apalagi kondisi pasar dan global, siapa yang eksis di pasar, mereka yang survive,” kata Doni saat Jejaring Agripreneur, From Field To Feed: Menghubungkan Petani dan Pasar Lewat Jejaring Komunikasi yang berlangsung di Polbangtan Bogor, Kamis (29/10).
Dari digital marketing, menurut Doni banyak yang bisa digunakan pelaku usaha pertanian, khususnya generasi muda. Misalnya, market place yang dapat menghubungkan produsen dan konsumen secara langsung, menciptakan transaksi yang lebih transparan, adil, dan kompetitif tanpa perantara.
Selain itu pelaku usaha juga bisa memanfaatkan E-Commerce yang menjadi kanal penjualan strategis. Dengan e commerce memudahkan petani memasarkan produk secara langsung, mempercepat distribusi, produk pertanian dengan skala nasional. “Digital marketing berperan dalam seluruh tahapan agribisnis, bahkan tidak ada batasan jarak dan waktu,” katanya.
Karena itu, Doni menyarakan beberapa hal. Pertama, memperkuat promosi di sektor hulu. Tidak ada batasana jarak dan waktu Kedua, memperluas jangkauan pasar hasil on farm. Ketiga, mendukung branding produk olahan. Keempat, mempercepat distribusi melalui markepat place. Kelima, memperkuat layanan penunjang berbasi teknologi.
“Melalui digital marketing seluruh mata rantai nilai agribisnis menjadi lebih efisien, transparan dan terintegrasi secara digital. Jadi pendekatan digital marketing bisa berbagai cara business to business, business to customer dan customer to customer,” ujarnya.
Doni mengakui, memang petani pada umumnya belum melek dalam digital marketing. Namun bagi petani Gen Z dan milenial saat ini telah melek digital. Catatan Doni, mereka masih perlu memperkuat kepercataan (trust), transparansi (transparency), story, dan kekuatan dalam komunikasi (power of communication) agar konektivitas agribisnis lebih kolaboratif, bernilai, dan berdaya saing di era digital.
Namun dalam memasarkan produk melalui digital marketing, Doni juga mengingatkan, perlu adanya strategi untuk bisa menggaet konsumen, kemudian memberikan nilai pada produk dengan membuat brand pada produk, serta taktik. “Dengan demikian, komunikasi digital akan menggeser paradigma petani sebagai produsen menjadi petani sebagai brand,” tambahnya.
Doni melihat fenomena saat ini, petani konvesional, sudah melek digotal, tapi belum memanfaatkan digitalisasi. Bahkan, petani sering ragu pada harga pasar dan sistem pembelian online. “Hal ini bisa jadi karena petani jarang dikomunikasikan dengan nilai dan cerita dari value produksnya,” katanya.
Kondisi ini berbeda dengan petani milenial. Mereka sudah mampu memasarkan produknya melalui platform digital tanpa batasan ruang dan waktu. Apalagi konsumen modern lebih tertarik pada kisah dan keberlanjutan produk. ”Dengan memanfaatkan marketplace menjadi solusi bagi petani milenial untuk mengurangi rantai distribusi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Substansi Pengelolaan Informasi Publik, Erwin Zulkarnaen berharap kegiatan Jejaring Agripreneur, From Field To Feed menjadi wadah berebagi pengalaman, inspirasi dan harapan membuka peluang kerjasama pelaku usaha di sektor pertanian. Harapan lainnya akan ada kolaborasi pelaku usaha, industri dan pelaku kepentingan untuk membangun ekosistem bisnis yang berkelanjutan.
“From Field dan to Field mencerminkan semangat kolaborasi untuk meningkatan kerjasama melaui komunikasi dan mempertemukan petani milenial, pelaku usaha dan stakeholder lain, untun menjajaki kerjasama dan mendapatkan pasar,” tuturnya.