Monday, 08 August 2022


Biaya Mahal, Sertifikasi Bibit jadi Keluhan Petani

02 Nov 2021, 15:15 WIBEditor : Yulianto

Pemberian bantuan bibit untuk petani Luwu Utara | Sumber Foto:Humas Horti

TABLOIDSINARTANI.COM, Luwu Utara --Proses sertifikasi bibit masih menjadi ganjalan bagi petani, terutama mahalnya biaya. Seperti yang dialami salah satu petani milenial  di Luwu Utara, Umbar.

Ia mengakui selama ini terkendala dalam proses sertifikasi bibit tanaman hasil kebun bibit yang dikelola petani. Salah satunya, proses sertifikasi bibit tanaman berbiaya mahal, sehingga banyak petani tidak mampu melakukannya.

“Selama ini yang mendapat untung adalah para kontraktor yang memiliki sertifikat dalam proyek pengadaan sejumlah bibit tanaman hortikultura di Luwu Utara. Para kontraktor sering menekan harga hingga Rp3.000 per bibit, padahal harga wajar di tingkat petani Rp5.000 per bibit,” kata Umbar saat berbincang dengan Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat di Luwu Utara, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu.

Sementara itu pembimbing petani milenial, Masnah berharap pihaknya masih memerlukan dukungan berupa sarana pelatihan, beasiswa, dan bantuan peralatan untuk meningkatkan minat kalangan muda di sektor pertanian. 

Menyikapi hal tersebut, Lestari menegaskan, sejumlah persoalan tersebut harus segera diatasi agar potensi yang ada bisa segera mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Lestari juga berharap proses sertifikasi benih produksi petani milenial dapat didampingi hingga tuntas agar bisa menjadi percontohan proses sertifikasi bagi kelompok tani lainnya.

Menurutnya, pertanian merupakan salah satu sektor yang menjanjikan untuk pemberdayaan masyarakat. Karena itu, para pemangku kepentingan harus responsif dalam upaya pemberdayaan masyarakat yang memiliki potensi pengembangan usaha di sejumlah sektor di daerah.

"Berbagai langkah pemberdayaan masyarakat lewat pengembangan sektor pertanian sangat menjanjikan, karena itu perlu langkah yang strategis untuk mengatasi berbagai hambatan yang terjadi," kata Lestari.

Pada kesempatan yang sama, Plt Direktur Perbenihan Hortikultura Kementerian Pertanian, Inti Pertiwi Nashwari berkomitmen untuk segera menuntaskan hambatan yang terjadi dalam proses sertifikasi benih tanaman. Inti menegaskan dalam proses sertifikasi benih tanaman tidak dipungut biaya.

“Kami berkomitmen untuk menyelesaikan masalah sertifikasi yang dihadapi hingga tuntas. Semakin banyak penangkar benih yang bersertifikat di tanah air, akan mempercepat pengembangan tanaman hortikultura di Indonesia,” ungkap Inti.

Sehari sebelumnya, Lestari mengunjungi  Lembaga Pengembangan Teknologi Tepat Guna Masyarakat Lokal Indonesia (LPTTG Malindo), di Masamba, Sulawesi Selatan. Direktur LPTTG  Malindo, Sakaruddin mengungkapkan, pihaknya menyelenggarakan berbagai pelatihan antara lain memproduksi makanan ringan dari bahan baku buah yang dikeringkan.

“Pilihan memproduksi buah yang dikeringkan itu karena nilai tambah yang dihasilkan bisa di atas 100 persen dengan masa untuk pemasaran yang panjang,” ujar Sakaruddin.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018