Monday, 06 December 2021


KBHI Kawal Petani Hadapi La Nina

26 Nov 2021, 10:02 WIBEditor : Yulianto

Senyum petani sayuran di Lembang | Sumber Foto:Dok. Sinar Tani

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan berat yang harus dihadapi petani dalam budidaya tanaman. Bahkan BMKG memperkirakan akan terjadi fenomena cuaca ekstrim La Nina pada akhir tahun ini hingga awal tahun depan.

Dampak La Nina berupa bencana banjir, gangguan hama dan penyakit diprediksi akan mengancam produksi pertanian baik pangan maupun tanaman hortikultura. Khusus pada tanaman cabai merah dan bawang, curah hujan tinggi yang turun terus menerus akan menyebabkan penurunan produktivitas dan kualitas hasil panen secara signifikan.

Ketika produksi terganggu, bukan hanya petani yang akan merugi, namun akan mengakibatkan kelangkaan pasokan di pasaran hingga mengakibatkan harga melonjak tinggi memberatkan konsumen. Untuk membantu petani, Kontak Bisnis Hortikultura Indonesia (KBHI) siap mendampingi petani dalam menghadapi tantangan perubahan iklim ini.

“KBHI terus bergerak untuk meningkatkan teknologi mulai dari bibit, pupuk, mekanisasi sebagai upaya menuju pertanian yang terukur,” kata Sekretaris KBHI, Suci Puji Suryani saat webinar Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim pada Tanaman Sayuran yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani, Rabu (24/11).

Suci menjelaskan, ada beberapa langkah mitigasi yang dilakukan KBHI dalam upaya antisipasi dampak cuaca ekstrim. Diantaranya, identifikasi dan pemetaan untuk mengetahui ancaman kekeringan maupun banjir sebagai wilayah yang diprioritaskan untuk penanganannya.

Disamping itu, koordinasi dengan pihak BMKG dalam menyiapkan sistem peringatan dini  (early warning system) agar petani bersiap menghadapi keadaan terburuk ketika terjadi banjir. “Pemantauan informasi berupa perkembangan iklim global dan prediksi hujan juga kami lakukan secara kontinyu. Informasinya kami sebar ke seluruh anggota,” katanya.

Selain itu, KBHI juga mensosialisasikan kalender tanam terpadu untuk semua anggotanya agar bisa menyesuaikan musim tanam dengan cuaca. Terakhir, kata Suci, pihaknya rutin mengadakan kegiatan bimbingan teknis adaptasi dan mitigasi perubahan iklim sektor pertanian horti dengan mengundang ahli dan pakar sebagai narasumbernya.

Satgas di 17 Wilayah

Terkini, KBHI juga membentuk satgas (satuan tugas) di 17 wilayah yang akan bergerak secara aktif di lapangan. Mereka memberikan saran dan rekomendasi kepada petani hortikultura mengenai penggunaan varietas yang tahan terhadap hujan yang cukup ekstrem bekerjasama dengan beberapa produsen benih.

Selain penggunaan benih, satgas juga merekomendasikan beberapa model teknologi tepat guna dalam rangka antisipasi pada petani. Antara lain pemakaian mulsa pelindung dan guludan tinggi, ujar wanita yang sehari-hari menekuni budidaya hidroponik ini.

Untuk pemupukan, Suci mengatakan, satgas merekomendasikan penggunaan zeolite sebagai tambahan pemupukan yang akan berfungsi menahan pupuk agar tidak mudah terbawa air hujan serta penggunaan smart farming agar pemupukan lebih presisi. Pembuatan embung sebagai tandon air juga menjadi rekomendasi pada wilayah yang mengalami kekeringan, agar bisa menangkap air di musim hujan dan menyimpan untuk dipergunakan pada musim kemarau.

Menurut Suci, saat ini satgas horti memang baru dibentuk dan berkegiatan aktif di beberapa wilayah di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sumatera Utara. “Ke depan, kami akan memperluas pembentukan satgas horti ke beberapa provinsi penghasil tanaman horti lainnya,” tuturnya.

Reporter : Iqbal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018