Rabu, 14 Januari 2026


Herbal, bak Raksasa yang Tertidur

05 Des 2025, 12:40 WIBEditor : Yulianto

Herbal Indonesia, ibarat raksasa yang tertidur

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Indonesia mempunyai kekayaan herbal yang luar biasa. Dari jahe, kunyit, kencur, hingga jeruk nipis, menjadi bahan baku utama bagi pabrik herbal. Komoditas herbal tersebut mempunyai peran penting menjadikan Indonesia sebagai produsen herbal kelas dunia, sekaligus mendukung petani dan pelaku industri untuk terus berinovasi.

Industri jamu dan herbal Indonesia menunjukkan geliat yang makin kuat. Permintaan terhadap bahan baku alami meningkat tajam, terutama dari kelompok tanaman rimpang yang sudah lama dikenal sebagai warisan obat tradisional Nusantara.

Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi mengatakan, setidaknya sepuluh jenis tanaman obat yang kini paling banyak diburu industri dalam negeri. Rimpang jahe emprit menempati posisi teratas dengan kebutuhan mencapai 1.901 ton per tahun, diikuti jahe merah yang dibutuhkan sekitar 864 ton.

Kencur juga masuk daftar teratas dengan 705 ton, sementara pegagan dibutuhkan 605 ton dan temulawak 483 ton. Sementara adas, kunyit, akar alang-alang, rimpang lempuyang emprit, serta lengkuas juga masuk dalam daftar bahan baku yang permintaannya cukup tinggi, masing-masing mencapai ratusan ton.

“Lonjakan permintaan ini tak hanya berasal dari industri besar, tetapi juga dari UMKM yang bergerak di bidang jamu gendong, minuman rempah, dan suplemen herbal modern,” katanya saat Workshop Herba Medika “The New Era of Downstream Processing for Herbs and Medicinal Plants” di Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Rempah, Obat, dan Aromatik (BRMP-TROA), Selasa (11/11).

Indonesia memang kaya akan tanaman obat. Berdasarkan data BRIN, ada sekitar 2.850 spesies tanaman obat yang telah teridentifikasi, dengan lebih dari 22.000 ramuan tradisional tercatat. Jahe, temulawak, kencur, sambiloto, pegagan, dan meniran,  bahkan telah digunakan secara turun-temurun dalam pengobatan tradisional.

Data juga menunjukkan produksi nasional tanaman biofarmaka pada 2022 mencapai sekitar 861.000 ton, dengan ekspor sekitar 279.300 ton, naik 5,5% dibanding tahun sebelumnya. Namun, sebagian besar masih dijual mentah, sehingga nilai ekonominya rendah. Nilai ekspor jamu Indonesia pada 2021 tercatat 41,5 juta dollar AS, masih kecil dibanding potensi besar yang ada.

Untuk itu, Kepala BRMP Perkebunan, I Ketut Kariyasa menekankan pentinya inovasi dan modernisasi. Proses modernisasi mencakup penggunaan alat dan mesin pertanian, termasuk digitalisasi, agar budidaya dan pengolahan tanaman herbal bisa lebih cepat, lebih akurat, dan menghasilkan produk berkualitas tinggi.

Dengan modernisasi dan hilirisasi menurutnya, akan membuka jalan bagi petani untuk naik kelas: dari produsen bahan mentah menjadi bagian dari rantai nilai yang lebih panjang. UMKM juga punya peluang besar untuk mengolah produk herbal menjadi suplemen, kapsul, atau kosmetik dengan nilai jual tinggi.

Potensi besar, namun masih jalan sendiri-sendiri. Itu yang terjadi pada industri herbal dalam neri. Baca halaman selanjutnya.

 

Reporter : Tim Sinta
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018