Kamis, 09 Februari 2023


Urban Farming Perlu Komitmen Dukungan

24 Jan 2023, 08:57 WIBEditor : Gesha Yuliani Nattasya

Irda Nur Ismi, penggiat Urban Farming DKI Jakarta | Sumber Foto:Dok. Irda

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Lahan sempit tidak lagi menjadi kambing hitam atas ketidakberdayaan usaha pertanian. Masing-masing usaha ada jurusnya tersendiri. Ada teknologinya tersendiri.

Pemanfaatan lahan kecil pekarangan dan lahan kosong di perkotaan, dengan menerapkan teknologi hemat lahan dan bahkan tanpa lahan telah memberikan imbalan penghasilan yang tinggi.

Teknologi hidroponik, aquaponik, aeroponik, vertical farming dan kebun skala kecil yang memproduksi komoditas hortikulutura bernilai tinggi menjamur di perkotaan, dipadukan dengan nilai estetika dan wisata. Hidroponik merupakan seni dan kreativitas menanam untuk menghasilkan sayuran berkualitas tanpa menggunakan tanah. Teknisnya tidak terlalu rumit tetapi memerlukan dukungan dan fasilitasi.

Luas pekarangan kita sangat kecil, umumnya kurang dari 100 m2 walaupun dalam prosentase kecil ada yang lebih dari 300 m2. Tetapi dengan perkiraan total luas pekarangan di seluruh negeri (menurut Kementan) mencapai 10 juta hektar, maka pertanian lahan sempit di pekarangan merupakan potensi ekonomi yang luar biasa. Itu semua terpulang pada kemampuan kita untuk memanfaatkannya. Apa saja yang diperlukan untuk mengembangkan pertanian seperti ini?

Pertanian di lahan perumahan dan perkotaan memerlukan persyaratan khusus yang harus sinkron dengan pertimbangan kesehatan, keindahan, dan sistem lingkungan di lokasi tersebut. Misalnya harus bebas dari bau, kotor, ketidakteraturan, dan hal lain yang mengurangi kenyamanan.

Urban farming harus menerapkan prinsip keindahan, kenyamanan dan berfungsinya mekanisme sistem kehidupan kota selain bertujuan memperoleh keuntungan. Tidak diragukan, pemanfaatan lahan pekarangan dan gerakan pertanian keluarga merupakan salah satu solusi atas berbagai ancaman krisis.

Bisa dipastikan fasilitas yang diperlukan untuk urban farming dan pekarangan akan lebih khusus karena tuntutan teknologi dan lokasinya di perkotaan. Fasilitas peralatan, benih, pupuk, air, input lain dan sistem budidaya berbeda dibandingkan dengan pertanian konvensional di lahan luas.

Dengan pelatihan, penyuluhan, dukungan teknologi, informasi aturan dan pemasaran, gerakan pertanian keluarga ini bisa berkembang. Pertanian keluarga dan perkotaan merupakan kegiatan intensif keluarga, melibatkan generasi muda dalam kegiatan yang positif dan selaras dengan pemeliharaan lingkungan.

Umumnya instalasinya sederhana, mudah dibongkar pasang, tetapi memerlukan ketersediaan peralatan yang mudah dijangkau masyarakat baik lokasi maupun biaya. Masalah utama rancangan pertanian perkotaan ini adalah bagaimana mengintegrasikan sebuah fungsi edukatif dan wisata menjadi suatu fasilitas publik dengan tetap menjaga kelangsungan hidup tanaman di dalamnya.

Prinsip yang harus dipegang adalah mengoptimalkan kinerja ruang dengan memperhatikan kenyamanan penghuni dengan disain arsitektur yang tepat.

Rencana Aksi Nasional dan Rencana Strategis Nasional Pertanian Keluarga telah dibahas melibatkan Kementan dengan beberapa kementerian terkait.

Kebijakan yang efektif akan memperkuat pertanian keluarga untuk menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan saat ini. Mudah-mudahan program inisiatif Pekarangan untuk Pangan Berkelanjutan menjadi program unggulan yang dapat segera diimplementasikan secara efektif.

 

 

 

 

 

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018