Thursday, 12 March 2026


RUU Pangan Jadi Sorotan, JP2GI dan GAIN Dorong Transformasi Sistem Pangan Indonesia

17 Jun 2025, 11:06 WIBEditor : Herman

Jejaring Pasca Panen untuk Gizi Indonesia (JP2GI) bersama Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) menggelar seminar nasional bertajuk “Bincang Pangan Sehat Lestari, Seri 3”.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Jejaring Pasca Panen untuk Gizi Indonesia (JP2GI) bersama Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) kembali menggelar seminar nasional bertajuk “Bincang Pangan Sehat Lestari, Seri 3”.

Mengangkat tema “Arah Transformasi Sistem Pangan dalam RUU Pangan”, forum ini menjadi ruang diskusi penting di tengah urgensi pembenahan sistem pangan nasional yang makin kompleks.

Diselenggarakan di Jakarta, seminar ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari kalangan legislatif, eksekutif, masyarakat sipil, akademisi hingga pelaku usaha, dalam upaya merumuskan arah kebijakan pangan Indonesia ke depan.

Fokus utamanya adalah memberikan masukan terhadap Rancangan Undang-Undang Sistem Pangan yang kini tengah dibahas, agar mampu menghadirkan sistem pangan yang berdaulat, mandiri, adil, dan berkelanjutan bagi seluruh rakyat.

Anggota Komisi IV DPR RI, Dr. Daniel Johan yang menjadi salah satu pembicara utama, menegaskan bahwa RUU Sistem Pangan harus benar-benar menjawab tantangan zaman, bukan sekadar revisi administratif.

“Ketersediaan pangan hari ini tidak cukup hanya soal produksi. Kita harus melihat dari akses, distribusi, nilai gizi, hingga keberlanjutan lingkungan. Negara harus hadir secara utuh untuk menjamin hak rakyat atas pangan sehat,” tegasnya di hadapan peserta seminar.

Senada dengan itu, Direktur Pangan dan Pertanian Kementerian PPN/Bappenas, Jarot Indarto, Ph.D., mengaitkan urgensi transformasi pangan dengan visi pembangunan jangka panjang Indonesia.

“Pangan adalah elemen strategis dalam pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Transformasi sistem pangan harus menyatu dengan ekonomi hijau, ekonomi biru, dan digitalisasi,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa ketahanan pangan nasional hanya bisa dicapai bila ada sinergi kuat antar sektor dan pemanfaatan teknologi secara cerdas.

Sementara itu, dari sisi masyarakat sipil, Puji Sumedi dari Koalisi Sistem Pangan Lestari (KSPL) mengangkat isu yang jarang tersorot: potensi besar dari pangan terbuang.

“Kita terlalu banyak membuang makanan yang sebenarnya masih layak konsumsi. Ini bukan hanya pemborosan, tapi juga ironi di tengah ancaman kerawanan pangan. Kita perlu kebijakan yang mendorong redistribusi pangan berlebih ke masyarakat yang membutuhkan,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya menggali kekayaan pangan lokal seperti tempe, umbi-umbian, dan hasil laut sebagai pilar ketahanan pangan yang murah, bergizi, dan berkelanjutan.

RUU Sistem Pangan yang tengah digodok sendiri memuat sembilan pokok perubahan mendasar. Di antaranya adalah penguatan cadangan pangan nasional, kewajiban negara dalam menjamin kebutuhan pangan, upaya penyelamatan pangan, hingga strategi pengurangan kehilangan dan pemborosan pangan secara sistemik.

Moderator seminar, Muhammad Ulil Ahsan dari Rikolto Indonesia, menilai bahwa forum ini bukan sekadar ajang tukar pikiran, melainkan bagian dari gerakan kolektif.

“Kita perlu bergeser dari diskusi ke aksi. Sistem pangan yang adil dan berkelanjutan hanya bisa terwujud lewat kolaborasi antarsektor yang konsisten,” ujarnya.

Dalam laporan penutupnya, Ketua JP2GI, Dr. Soen’an Hadi Poernomo, menekankan bahwa transformasi pangan bukan tanggung jawab satu pihak saja.

“Seminar ini adalah bentuk kontribusi bersama. Kita semua punya peran dalam menciptakan sistem pangan nasional yang inklusif, sehat, dan adil,” ungkapnya.

Acara yang berlangsung secara luring dan daring ini juga menghasilkan rekomendasi strategis untuk memperkuat substansi RUU Pangan.

Beberapa poin krusial yang disorot adalah pentingnya mendukung produksi pangan dalam negeri dan pangan lokal, menekan susut dan sisa pangan melalui pendekatan pencegahan serta redistribusi pangan layak konsumsi, serta penguatan kelembagaan sebagai fondasi kebijakan yang berkelanjutan.

Seluruh hasil seminar dirangkum dalam sebuah dokumen kebijakan yang akan didorong sebagai masukan resmi kepada pihak legislatif dan eksekutif.

JP2GI sendiri merupakan jejaring yang berkomitmen pada pengurangan susut dan sisa pangan serta peningkatan ketahanan pangan nasional melalui inovasi dalam rantai pasok.

Sementara itu, GAIN yang telah beroperasi di Indonesia sejak 2013 terus mendukung upaya perbaikan gizi melalui program fortifikasi pangan, perbaikan gizi remaja, tata kelola pangan sehat di perkotaan, dan promosi konsumsi pangan lokal yang berkelanjutan.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018