
Dulu dianggap gulma pengganggu, kini kayu apu disulap menjadi pupuk organik super yang mampu menyuburkan tanah sekaligus mengurangi limbah perairan.
TABLOIDSINARTANI.COM, Tapin – Dulu dianggap gulma pengganggu, kini kayu apu disulap menjadi pupuk organik super yang mampu menyuburkan tanah sekaligus mengurangi limbah perairan.
Tumbuhan kayu apu (Pistia stratiotes) yang selama ini dikenal sebagai gulma pengganggu di sungai, rawa, dan saluran irigasi kini mulai dilirik sebagai bahan baku pupuk organik.
Melalui inovasi PEKASAI PUPUR (Pengolahan Kayu Apu sebagai Pupuk Organik), tanaman air tersebut diolah menjadi pupuk organik hayati yang dapat meningkatkan kesuburan tanah sekaligus mendukung sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Selama ini, kayu apu tumbuh sangat cepat hingga menutupi permukaan perairan.
Kondisi tersebut kerap menghambat aliran air, mengurangi intensitas cahaya yang masuk ke perairan, serta mengganggu ekosistem sungai maupun saluran irigasi.
Namun di balik pertumbuhannya yang agresif, kayu apu menyimpan kandungan bahan organik dan unsur hara yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pupuk.
Inovasi PEKASAI PUPUR diperkenalkan melalui kegiatan sosialisasi dan pelatihan kepada kelompok tani.
Dalam pelatihan tersebut, petani mempraktikkan langsung proses pembuatan pupuk, mulai dari pengumpulan kayu apu, pencacahan, pencampuran dengan bahan organik lain, penambahan bioaktivator atau dekomposer, hingga proses fermentasi sebelum pupuk siap diaplikasikan ke lahan.
Pendekatan praktik langsung ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan petani sehingga mereka dapat memproduksi pupuk organik secara mandiri dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di sekitar lingkungan.
Pemanfaatan kayu apu sebagai pupuk organik juga didukung hasil penelitian.
Studi yang diterbitkan dalam Journal of Ecological Engineering pada 2022 menunjukkan bahwa penambahan Pistia stratiotes dalam campuran kompos mampu meningkatkan kualitas kompos melalui peningkatan kandungan unsur hara serta memperbaiki pertumbuhan dan hasil tanaman padi gogo dibandingkan penggunaan kompos jerami tanpa campuran kayu apu.
Penelitian lain menunjukkan kompos berbahan kayu apu memiliki kandungan bahan organik tinggi serta unsur fosfor (P) dan kalium (K) yang lebih baik dibandingkan beberapa jenis kompos lain.
Kandungan tersebut berperan dalam memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme, dan mendukung pertumbuhan tanaman.
Selain bermanfaat bagi lahan pertanian, pemanfaatan kayu apu juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan.
Tanaman ini dikenal mampu menyerap nutrien berlebih dari perairan seperti nitrogen dan fosfat.
Penelitian terbaru bahkan menunjukkan Pistia stratiotes efektif membantu menurunkan kadar bahan pencemar pada limbah cair, sehingga pemanfaatannya setelah dipanen menjadi pupuk organik memberikan nilai tambah bagi pengelolaan lingkungan.
Bagi petani, inovasi ini menjadi alternatif untuk menekan biaya produksi di tengah tingginya harga pupuk kimia.
Dengan memanfaatkan gulma yang tersedia melimpah di sekitar lahan, petani dapat menghasilkan pupuk organik secara mandiri dengan biaya lebih rendah tanpa mengurangi upaya menjaga produktivitas lahan.
Penggunaan pupuk organik secara berkelanjutan juga sejalan dengan upaya meningkatkan kesehatan tanah.
Kandungan bahan organik dapat memperbaiki kemampuan tanah menyimpan air dan unsur hara, meningkatkan aktivitas mikroba tanah, serta menjaga produktivitas lahan dalam jangka panjang.
Hal ini menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan sistem pertanian yang berkelanjutan.
Melalui inovasi PEKASAI PUPUR, kayu apu yang sebelumnya hanya dianggap gulma kini memiliki nilai ekonomi baru.
Jika diterapkan lebih luas, inovasi ini tidak hanya membantu mengurangi limbah gulma air, tetapi juga mendukung kemandirian petani dalam penyediaan pupuk organik, meningkatkan efisiensi usaha tani, serta memperkuat praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan.