Senin, 17 Juni 2024


Mengapa Peternak Kesulitan Pakan Jagung? Ini Fakta Lapangan

11 Okt 2023, 11:36 WIBEditor : Yulianto

Produksi jagung selama setahun tak merata, padahal kebutuhan selalu ada tiap bulannya | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Jagung menjadi bahan baku utama pakan ternak. Meski secara kalkulatif produksi jagung dalam negeri surplus, tapi industri pakan ternak hingga kini masih harus memenuhi kebutuhan bahan baku dari luar negeri. Mengapa?

Tarik ulur keberadaan jagung di dalam negeri, terutama untuk bahan baku pakan ternak memang kerap membuat peternak unggas rakyat meradang. Di satu sisi, angka produksi menyebutkan produksi jagung melebih kebutuhan. Di sisi lain, justru peternak unggas kerap kelimpungan mendapatkan jagung untuk pakan. Begitu juga industri pakan ternak besar yang harus memenuhi kebutuhan jagung dari luar negeri.

Seperti apa kondisi ril produksi jagung dalam negeri? Indra Rohmadi, Koordinator Jagung dan Serealia, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian mengatakan, berdasarkan data BPS produksi jagung tahun 2022 sekitar 25,18 juta ton.

Namun menurutnya, yang harus menjadi perhatian sangat penting bahwa 62 persen produksi dipasok dari musim hujan (MH) 1 dan MH 2, sisanya dihasillan saat musim kemarau (MK) 1 dan MK 2. “Kita tahu memang Januari, Februari dan Maret menjadi penopang produksi untuk nantinya kita bertahan dalam satu tahun,” katanya.

Begitu juga perkiraan produksi tahun 2023, Indra mengatakan, alurnya hampir sama dengan tahun 2022. Namun diprediksi produksi pada MH 1 dan MH 2 lebih besar dibandingkan tahun 2022 yakni mencapai 67 persen dari total produksi nasional.

”Jadi posisi pertanaman jagung kita memang seperti itu. Kondisinya ini yang menyebabkan kita harus waspada terhadap kebutuhan sepanjang tahun yang hampir sama ,”  ungkapnya.

Indra menjelaskan, kebutuhan jagung untuk pakan ternak totalnya sebanyak 16,9 juta ton. Untuk pabrik pakan skala besar. yang menjadi anggota GPMT jumlahnya paling besar sekitar 8 juta ton, sedangkan industri pakan skala kecil atau menengah sekitar 4,7 juta ton dan jagung untuk kebutuhan benih sekitar 85.000 ton.

Jadi menurut Indra, pengguna jagung terbanyak untuk industri pakan, bisa sampai 75,63% dengan rata-rata penggunaan jagung sekitar 700.000 ton per bulan dan 400.000 untuk pakan peternak layer. ”Kebutuhanya tersebut stabil dari Januari sampai Desember. Tapi produksi jagung kita pada Januari-Maret sangat tinggi, terus turun pada bulan-bulan selanjutnya,” tuturnya.

Sedangkan sentra jagung di Indonesia berada di Sumatera Utara, Sumatarea Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Barat, Gorontalo, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Provinsi lain penyuplai di luar sentra adalah Kalimantan Timur. Sedangkan provinsi lain yang produksinya hanya untuk kebutuhan sendiri adalah Papua, Papua Barat, Maluku Utara dan sekitarnya.

Untuk wilayah Jawa ungkap Indra, memang banyak peternak dan pabrik pakan. Bahkan hampir 70% pabrik pakan beraada di Jawa. Padahal pemasok jagung berada di 12 provinsi besar, terutama provinsi di Sumatera, Sulawesi, ada juga di  NTT dan NTB. “Ini yang menjadi kendala juga. Kita membutuhkan transportasi antar pulau, termasuk infrastruktur,” ujarnya.

Saat ini produktivitas tanaman jagung yang dibudidayakan petani baru sekitar 5,5 ton/ha. Padahal negara produsen jagung lainnya, seperti AS bisa sampai 11 ton/ha, Perancis  9-10 ton/ha dan China 6-7 ton/ha. ”Kita masih sedikit sekali. Kalau kita melihat, ini merupakan peluang yang harus kita manfaatkan untuk peningkatan produksi jagung,” katanya.

Reporter : Echa
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018