Kamis, 18 Juli 2024


BRIN Soroti Kebutuhan Besar Susu Nasional, Pengembangan Sapi Perah Malah Mandek

27 Jun 2024, 10:18 WIBEditor : Gesha

Industri sapi perah masih belum mencukupi | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Meski kebutuhan akan susu terus meningkat di Indonesia, upaya pengembangan sapi perah justru menghadapi stagnasi yang mengkhawatirkan. BRIN menyoroti tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan susu nasional di tengah kondisi ini. 

 

Kepala Organisasi Riset Peternakan dan Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Puji Lestari, dalam Webinar Nasional : Konsumsi Susu Nasional Meningkat, Pengembangan Ternak Sapi Perah Terhambat, Ada Apa?, Kamis (26/06) mengatakan kegiatan untuk memenuhi kebutuhan susu Nasional masih menjadi pekerjaan besar dunia peternakan. 

"Kalau melihat konsumsi susu Nasional dan produk olahannya terus meningkat selama 10 tahun terakhir, seiring meningkatnya kelas menengah dan kesadaran masyarakat akan pengaruh susu terhadap kesehatan," tuturnya. 

Hal ini diperkuat dengan laporan Bank Dunia tahun 2020 yang memaparkan, hampir setengah penduduk Indonesia menuju kelas menengah dengan jumlah hampir 110 juta penduduk. 

"Karena itu, produk konsumsi asal ternak harus ditingkatkan, tak terkecuali susu," tambahnya. 

Adapun pertumbuhan konsumsi susu Nasional sekitar 6,6 persen per tahun, dengan presentase terbesar adalah susu bubuk (60 persen). 

Puji mengakui meskipun konsumsi susu di Indonesia meningkat, namun secara global masih lebih rendah dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, rata-rata konsumsi susu per kapita di Indonesia mencapai 16,27 kg per tahun.

Angka ini masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia (26,20 kg/kapita/tahun), Myanmar (26,7 kg/kapita/tahun), dan Thailand (22,2 kg/kapita/tahun).

Kementerian Pertanian mencatat, hanya sekitar 20 persen bahan baku susu yang bisa dipasok dari dalam negeri. 

Di sisi lain, pertumbuhan produksi susu segar domestik rata-rata hanya mencapai 1?lam enam tahun terakhir, tidak sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan bahan baku untuk industri pengolahan susu yang tumbuh rata-rata 5,3%.

Bahkan dari Outlook Komoditas Peternakan Susu Tahun 2022 dari Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian (Pusdatin Kementan), Indonesia berpotensi kekurangan produksi susu sapi sampai 2026.

Pusdatin Kementan memperkirakan volume produksi susu sapi nasional selama 2022—2026 akan berkisar antara 916 ribu hingga 949 ribu ton per tahun, dengan pertumbuhan rata-rata sebesar 0,65 persen per tahun.

Namun, dalam periode yang sama, konsumsi susu sapi nasional diprediksi mencapai 989 ribu hingga 1,07 juta ton per tahun, melebihi volume produksinya.

Pusdatin Kementan juga menilai bahwa tanpa perubahan signifikan dalam produksi susu nasional, kondisi defisit akan terus berlanjut. Hal ini diperkirakan akan memicu impor susu dari negara-negara produsen seperti Amerika, Australia, Selandia Baru, dan Eropa. 

Kondisi ini diperparah dengan pertumbuhan Peternakan sapi perah di Indonesia yang mandek,... Cek selanjutnya.. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018