
Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Sumatera Utara untuk pertama kalinya menyelenggarakan Seminar Outlook Peternakan, yang digelar di Ruang Amaryllis, Hotel Grand Mercure Medan, Selasa (6/1).
TABLOIDSINARTANI.COM, Medan – Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) Sumatera Utara untuk pertama kalinya menyelenggarakan Seminar Outlook Peternakan, yang digelar di Ruang Amaryllis, Hotel Grand Mercure Medan, Selasa (6/1).
Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi pelaku industri peternakan dan kesehatan hewan di Sumut dalam menyikapi dinamika bisnis tahun 2026.
Selama ini, seminar serupa rutin diselenggarakan oleh ASOHI Pusat melalui Seminar Nasional Outlook Bisnis Peternakan, serta oleh ASOHI Jawa Timur.
Di bawah kepemimpinan baru Ketua ASOHI Sumut Ir. Taviv Ritonga, dan dengan dukungan penuh ASOHI Pusat, ASOHI Sumut akhirnya menginisiasi seminar outlook tingkat provinsi untuk pertama kalinya.
Seminar ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan strategis, mulai dari perwakilan Dinas Peternakan Provinsi Sumatera Utara dan Kota Medan, Ketua PDHI Sumut, Kepala BVet Medan, para peternak, anggota ASOHI Sumut, hingga peserta dari Pekanbaru.
Tiga pembicara utama dihadirkan dalam seminar ini, yakni Drh. Arif Wicaksana, MSi selaku Ketua Kelompok Substansi Pengawas Obat Hewan Kementerian Pertanian, Drh. Bambang Sutrasno selaku Regional Head Sumatera PT CPI, serta Drh. Akhmad Harris Priyadi, Ketua Umum ASOHI periode 2025–2029.
Berbagai isu strategis dibahas, di antaranya regulasi baru perizinan usaha obat hewan, perubahan kebijakan penunjukan PT Berdikari (BUMN) sebagai importir jagung dan soybean meal (SBM) untuk pakan ternak, serta dinamika sektor kesehatan hewan yang mendorong kebutuhan mendesak akan pendirian apotek veteriner di setiap provinsi.

Selain itu, seminar juga mengulas peluang usaha di segmen obat hewan kesayangan, obat hewan kuda, hingga obat-obatan untuk satwa liar. Tak ketinggalan, dampak penerapan Permenkes Nomor 14 Tahun 2021 terhadap praktik dan peran dokter hewan turut menjadi sorotan.
Isu kebencanaan juga menjadi perhatian penting. Pasca banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, pelaku industri peternakan dihadapkan pada tantangan serius, mulai dari terganggunya suplai jagung hingga terputusnya jalur logistik.
Padahal, Sumatera Utara menyumbang sekitar 20–25 persen produksi unggas nasional, baik daging maupun telur.
“Terhambatnya pasokan jagung dari Aceh serta rusaknya infrastruktur jalan dan jembatan jelas berdampak pada distribusi hasil unggas dari Sumut ke Aceh,” mengemuka dalam diskusi seminar tersebut.
Rencana pemerintah terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026 juga turut dibahas, khususnya potensi peningkatan permintaan daging dan telur ayam yang telah dipastikan masuk dalam menu MBG.
Kondisi ini membuka peluang pertumbuhan signifikan bagi industri peternakan, termasuk sektor obat hewan sebagai salah satu pilar pendukungnya.
Tak kalah penting, isu Antimicrobial Resistance (AMR) turut menjadi topik diskusi yang mendapat perhatian peserta. AMR dipandang sebagai isu bersama lintas sektor, tidak hanya dalam kesehatan hewan, tetapi juga telah menjadi agenda utama dalam sektor kesehatan manusia.
Seminar Outlook Peternakan ASOHI Sumut 2026 ini diketuai oleh drh. Hakmal Razak, dengan melibatkan seluruh pengurus ASOHI Sumut sebagai panitia pelaksana.
Kesuksesan kegiatan ini menjadi langkah awal ASOHI Sumut untuk terus berkontribusi aktif sebagai mitra strategis pemerintah, khususnya Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, serta mitra bagi berbagai organisasi dan asosiasi pemangku kepentingan peternakan dan kesehatan hewan di Indonesia.
Ke depan, ASOHI Sumut berkomitmen menghadirkan kegiatan-kegiatan lanjutan yang semakin memperkuat peran industri obat hewan dalam mendukung ketahanan pangan nasional.