Wednesday, 15 July 2026


Perluas Kapasitas Telur Cage-Free, WMU Bidik Jadi Produsen Terbesar di Asia Tenggara

22 Jun 2026, 11:49 WIBEditor : Herman

Peternakan ayam petelur cage-free

TABLOIDSINARTANI.Com, Jakarta --- Tren konsumsi pangan yang sehat, aman, dan memperhatikan kesejahteraan hewan semakin kuat di Indonesia. Seiring meningkatnya kesadaran konsumen, permintaan terhadap telur cage-free atau telur yang dihasilkan dari sistem peternakan tanpa kandang baterai terus menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Melihat peluang tersebut, PT Widodo Makmur Unggas Tbk (WMU) mengambil langkah agresif dengan memperluas kapasitas produksi telur cage-free. Bahkan, melalui ekspansi yang sedang dijalankan, perusahaan berpotensi menjadi produsen telur cage-free terbesar di Asia Tenggara dalam beberapa tahun ke depan.

Direktur Marketing WMU, Tri Mahawijaya Herlambang, mengungkapkan bahwa pasar telur cage-free di Indonesia berkembang semakin pesat.

Pertumbuhan itu tidak lagi hanya didorong oleh perusahaan makanan multinasional, tetapi juga oleh semakin banyaknya pelaku usaha domestik yang mulai beralih menggunakan produk telur yang lebih memperhatikan aspek kesejahteraan hewan.

“Untuk memenuhi kebutuhan pasar yang terus berkembang, WMU tengah memperluas kapasitas peternakan telur cage-free secara bertahap, dari populasi saat ini sekitar 200.000 ekor ayam petelur menjadi 500.000 ekor yang ditargetkan selesai pada 2027,” kata Mahawijaya di Jakarta.

Menurutnya, perusahaan optimistis permintaan telur cage-free akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Karena itu, WMU memilih menyiapkan kapasitas produksi lebih awal agar siap mengantisipasi lonjakan kebutuhan pasar.

Saat ini, telur cage-free produksi WMU dipasarkan melalui skema business-to-business (B2B) kepada berbagai sektor usaha, mulai dari perusahaan katering, jaringan hotel, restoran, hingga gerai makanan cepat saji.

Tak berhenti di situ, perusahaan juga tengah menyiapkan peluncuran merek telur cage-free sendiri untuk menyasar pasar ritel nasional.

Mahawijaya menegaskan, pengembangan bisnis ini bukan untuk menggantikan pasar telur konvensional yang sudah ada.

Sebaliknya, langkah tersebut bertujuan membuka segmen baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi sekaligus menjawab kebutuhan konsumen yang semakin peduli terhadap keberlanjutan, keamanan pangan, dan kesejahteraan hewan.

 

“Sebagai perusahaan terbuka, WMU memiliki komitmen kuat terhadap aspek sustainability. Penerapan animal welfare melalui sistem peternakan cage-free menjadi salah satu bentuk nyata implementasi komitmen tersebut,” ujarnya.

 

Rencana ekspansi WMU mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Lever Foundation yang selama ini aktif mendorong pengembangan sistem peternakan berkelanjutan.

Sustainable Poultry Program Manager Lever Foundation, Sandi Dwiyanto, menilai langkah WMU menunjukkan kesiapan industri dalam menjawab perubahan preferensi konsumen dan kebutuhan pasar global.

Menurut Sandi, dalam beberapa tahun terakhir permintaan telur cage-free meningkat secara konsisten, terutama dari sektor ritel, hotel, restoran, perusahaan FMCG, hingga layanan makanan.

“Lebih dari 2.000 perusahaan makanan global telah memiliki komitmen penggunaan 100 persen telur cage-free. Di Indonesia, berbagai merek internasional seperti KFC, Burger King, Hyatt, Marriott, dan Swiss-Belhotel International juga telah menyatakan komitmen serupa,” jelasnya.

Tak hanya perusahaan global, sejumlah perusahaan nasional juga mulai menerapkan kebijakan pengadaan telur cage-free atau sedang menjalani proses transisi. Di antaranya Super Indo, Ismaya Group, Bali Buda, dan Jiwa Jawi.

Potensi pertumbuhan pasar telur cage-free juga tercermin dari hasil survei GMO Research, perusahaan riset pasar asal Jepang. Survei tersebut menunjukkan bahwa 55 persen konsumen Indonesia lebih memilih membeli produk dari merek yang hanya menggunakan telur cage-free.

Selain itu, sebanyak 72 persen responden menyatakan setuju bahwa telur yang digunakan oleh perusahaan makanan seharusnya berasal dari peternakan yang menerapkan standar kesejahteraan hewan.

Faktor keamanan pangan turut menjadi pertimbangan penting. Studi lintas negara yang dilakukan European Food Safety Authority (EFSA) menunjukkan bahwa peternakan telur cage-free memiliki risiko hingga 25 kali lebih rendah mengalami kontaminasi strain tertentu bakteri Salmonella dibandingkan sistem kandang konvensional.

Ekspansi yang dilakukan WMU juga dinilai selaras dengan arah kebijakan pemerintah. Hal ini menyusul diterbitkannya Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) Nomor 32 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Kesejahteraan Hewan yang mendorong penerapan standar kesejahteraan hewan yang lebih baik di sektor peternakan.

Sandi berharap langkah WMU dapat menjadi contoh bagi produsen telur lainnya untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi perubahan kebutuhan pasar yang terus berkembang.

“Kami berharap semakin banyak produsen telur di Indonesia yang mulai bertransformasi. Lever Foundation akan terus mendukung penguatan ekosistem cage-free agar pertumbuhan permintaan pasar dan ketersediaan pasokan dapat berjalan seimbang,” tutupnya.

 

 

Reporter : Eko
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018