
Peternakan Ayam
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Menindaklanjuti arahan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman, PT Berdikari menyiapkan 30.000 ton Soybean Meal (SBM) atau bungkil kedelai untuk memperkuat akses bahan baku pakan bagi peternak ayam ras.
Dari total pasokan tersebut, sebanyak 5.000 ton SBM saat ini telah diakses melalui Koperasi Produsen Usaha Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Rakyat (LPER). Bahan baku pakan itu disiapkan untuk memenuhi kebutuhan peternak rakyat yang menjadi anggota maupun binaan koperasi di berbagai daerah.
Direktur Operasional PT Berdikari Agung Aulia mengatakan, kerja sama tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas akses bahan baku pakan dengan harga dan tata kelola yang lebih terencana.
“ Kami berkomitmen mengawali dari 5.000 ton ini. Target kami adalah membangun ekosistem peternakan ayam ras yang terintegrasi dan berkeadilan,” ujar Agung.
Menurut Agung, kebutuhan SBM dari peternak rakyat tidak hanya datang dari Koperasi LPER. Sejumlah koperasi peternak lainnya juga telah mengajukan kebutuhan bahan baku kepada Berdikari dan kini masih dalam proses.
Kondisi tersebut membuka peluang penyaluran SBM dalam skala yang lebih luas sehingga semakin banyak peternak rakyat dapat memperoleh akses bahan baku pakan secara lebih terjamin.
Langkah Berdikari ini merupakan tindak lanjut Rapat Koordinasi Perunggasan Nasional yang dipimpin Mentan Amran di Pusat Veteriner Farma (Pusvetma), Surabaya, pada 11 Agustus 2026.
Dalam rapat tersebut, pengendalian biaya pakan menjadi salah satu perhatian utama pemerintah. Tingginya biaya pakan selama ini menjadi salah satu tekanan terbesar yang dihadapi peternak dalam mempertahankan keberlanjutan usaha.
Akses awal 5.000 ton SBM melalui LPER kemudian dituangkan dalam nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara PT Berdikari dan Koperasi LPER yang ditandatangani di Jakarta, 18 Agustus 2026.
MoU tersebut ditandatangani Direktur Utama PT Berdikari Maryadi dan Ketua Umum Koperasi LPER H. Mulyadi Atma. Penandatanganan disaksikan Direktur Operasional PT Berdikari Agung Aulia bersama jajaran kedua pihak.
Agung menilai kolaborasi tersebut bukan sekadar transaksi pengadaan bahan baku pakan. Lebih jauh, kerja sama ini diarahkan untuk membangun tata kelola peternakan yang lebih terintegrasi dan memberikan akses yang lebih kuat kepada peternak rakyat.
“Kami berkomitmen mengawali dari 5.000 ton ini. Target kami adalah membangun ekosistem peternakan ayam ras yang terintegrasi dan berkeadilan,” katanya.
Ketua Umum Koperasi LPER H. Mulyadi Atma menyambut positif kerja sama tersebut. Ia menilai kepastian memperoleh bahan baku pakan menjadi faktor penting bagi peternak di tengah tekanan biaya produksi.
“Ini bukti nyata negara tidak meninggalkan peternak rakyat. Dengan SBM 5.000 ton di awal ini, kami optimis harga pokok produksi telur dan ayam bisa ditekan dan peternak bisa bangkit kembali,” ujar Mulyadi.
Pemerintah melihat konsolidasi kebutuhan melalui koperasi sebagai salah satu strategi untuk memperkuat posisi peternak rakyat dalam memperoleh bahan baku pakan.
Direktur Pakan Kementerian Pertanian (Kementan) Tri Melasari mengatakan, pengadaan yang dilakukan secara terkonsolidasi dapat membuat kebutuhan bahan baku lebih terencana sekaligus meningkatkan efisiensi rantai pasok.
“Kami mendorong agar akses peternak terhadap bahan baku pakan semakin mudah dan efisien. Konsolidasi melalui koperasi menjadi salah satu cara untuk memperkuat posisi peternak, sehingga kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi secara lebih terencana dan rantai pasoknya semakin efisien,” ujar Tri.
Menurutnya, kolaborasi antara BUMN, koperasi, dan peternak tidak berhenti pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek. Pemerintah ingin membangun sistem pengadaan dan distribusi bahan baku pakan yang mampu memberikan kepastian bagi peternak dalam jangka panjang.
“Yang kita bangun bukan hanya soal penyaluran bahan baku, tetapi ekosistem pakan yang memberikan kepastian bagi peternak. Ketika biaya pakan dapat dikendalikan, peternak memiliki ruang yang lebih kuat untuk mempertahankan produktivitas dan keberlanjutan usahanya,” katanya.
Dalam skema tersebut, pemerintah berperan melalui kebijakan dan fasilitasi. Berdikari memperkuat kesiapan pasokan, sedangkan koperasi mengonsolidasikan kebutuhan para anggotanya.
Pola ini diharapkan membuat pengadaan bahan baku pakan berlangsung lebih efisien, sekaligus membuka akses bagi lebih banyak peternak rakyat.
Kesiapan 30.000 ton SBM yang disiapkan Berdikari menjadi bagian penting dari upaya memperkuat pasokan bahan baku pakan nasional. Dari jumlah tersebut, 5.000 ton telah diakses melalui LPER, sementara kebutuhan dari sejumlah koperasi peternak lainnya masih dalam proses.
Langkah ini menjadi sinyal bahwa upaya menekan biaya produksi peternak mulai diarahkan pada pembenahan rantai pasok, bukan sekadar intervensi jangka pendek.
Arahan Mentan Amran agar biaya produksi tidak terus membebani peternak rakyat pun mulai diterjemahkan melalui kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan koperasi.