Thursday, 23 September 2021


Mengangkat Citra Sagu

27 Aug 2021, 13:31 WIBEditor : Yulianto

Mie sagu | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Lirik lagu Sio Mama ciptaan Melky Goeslaw begitu menyentuh dan kental kasih sayang terhadap mama. "Beta inga tempo dulu/Sio mama gendong-gendong betae/Sambil mama bakar sagu/Mama manyanyi buju-buju/La sampe basa bagini/Beta tra lupa mamae." Sagu, itu yang menginspirasi sorotan Tabloid Sinar Tani edisi kali ini.

Memed Gunawan

Bagi masyarakat di Maluku plus pulau-pulau sekitarnya dan Papua, sagu adalah makanan pokok, walau bagi sebagian orang mungkin bakar sagu hanya nostalgia karena konsumsinya semakin berkurang tergantikan oleh nasi dan terigu. Tapi konon, kalau lama tak menyantap makanan pokok lokal seperti sagu atau jagung, badan sering terasa lemas-lemas.

Sagu dan bahan pangan non beras lainnya setara, atau bahkan lebih baik, dalam hal gizi dan manfaat bagi tubuh dan kesehatan. Kandungan karbohidrat, mineral dan lainnya sangat baik. Proteinnya memang rendah tapi papeda, kapurung, sempolet dan bubur sagu, selalu dimakan bersama  dengan pangan lain sumber protein, khususnya ikan. Kalau hanya dengan sambal saja memang kurang nikmat makan papeda.

Masih ragu? Lihatlah postur tubuh para pemakan sagu dan pangan non beras lainnya. Secara rata-rata badannya lebih besar dan tinggi dibandingkan dengan pemakan beras. Mereka juga kuat dan cerdas. Selain itu produktivitas tanaman non padi lebih tinggi, dan proses produksi serta kebutuhan sarana pendukungnya lebih sederhana dibandingkan dengan untuk tanaman padi. 

Luas arealnya luar biasa, mencapai 5,5 juta hektar, dan saat ini baru 5,79 persen yang dieksploitasi.  Semua itu menunjukkan bahwa upaya mempromosikan sagu dalam diversifikasi pangan sumber karbohidrat sangat tepat dan strategis. Sagu menyebar di seluruh wilayah Nusantara. Pengolahannya tidak memerlukan biaya mahal. Kita perlu mengapresiasi inisiatif mengangkat kembali citra sagu ini, ikut mendukung dan melakukan upaya-upaya serius.

Barang berharga itu ada dan melimpah tetapi serasa tiada karena hampir semuanya masih ada di hutan, belum tersedia di pasar, toko dan warung seperti halnya mie instan.

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018