Kamis, 09 Februari 2023


Prospek Pertanian Lahan Sempit di Pekarangan dan Perkotaan

24 Jan 2023, 08:51 WIBEditor : Gesha Yuliani Nattasya

Urban farming di DKI Jakarta | Sumber Foto:dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pemanfaatan lahan pekarangan dan "Urban Farming" muncul di berbagai kota dan telah menghasilkan kegiatan ekonomi skala kecil yang memberikan dampak positip terhadap ekonomi keluarga dan lingkungan.

Pembatasan gerakan penduduk akibat pandemi Covid mengakibatkan peningkatan kegiatan masyarakat di sekitar rumah. Tidak ada data resmi, tetapi menurut Kementan, selama pandemi penjualan benih hortikutura meningkat lima kali lipat, ekspor produk hortikultura naik signifikan dan petani hortikultura meningkat khususnya dari kelompok milenial. Hal yang sama, penjualan bahan tanaman, pupuk dan peralatan hidroponik meningkat selama pandemi.

Fenomena ini terjadi juga di negara-negara lain, Filipina adalah salah satu yang aktip membangun program khusus untuk kegiatan ini. Rusia yang merupakan produsen kentang nomor empat terbesar di dunia, 78 persen produksinya yang sebesar 22 juta ton itu dihasilkan di lahan pertanian sekitar rumah penduduk (The Agriculture News, 2018). 

Singapura dan kota-kota besar di Jepang pun telah memanfaatkan halaman dan ruangan di sekitar gedung tinggi untuk pertanian. Urban Farming di Tokyo, bisa memenuhi kebutuhan sayuran untuk 700.000 orang penduduk kota.

Lahan pekarangan di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, rata–rata sangat kecil. Sekitar 40 persen luas lahan pekarangan hanya berukuran kurang dari 100 m2, 25 persen berukuran 100-200 m2, 11,7 persen berkisar 200-300 m2 dan 22,7 persen berukuran lebih dari 300 m2.

Bandingkan dengan rata-rata luas pekarangan atau backyard di USA yang sekitar 6,000 feet persegi atau 550 m2. Rumah-rumah di California and Nevada umumnya mempunyai pekarangan seluas 900-1600 m2. Total luas lahan pekarangan di Indonesia menurut Kementan adalah sekitar 10 juta hektar (bandingkan dengan luas lahan sawah yang hanya 8 juta hektar). 

Dengan tradisi masyarakat yang sejak lama selalu memanfaatkan pekarangan untuk ditanamin sayuran, tanaman obat-obatan, rempah dan buah-buahan, pemanfaatan pekarangan dengan baik akan memberikan dampak ekonomi yang tinggi.  Produk tanaman pekarangan merupakan sumber pangan, obat atau rempah yang bisa dikonsumsi keluarga atau sebagai dijual.

Tanaman bunga di negara-negara Eropa di halaman yang sempit merupakan atraksi yang terkenal dan mengundang turis. Di Filipina kegiatan pemanfaatan pekarangan selama pandemi menggeliat. Istilah "Plantito/Plantita home gardening" menjadi sangat populer. Plantito/Platita adalah istilah bagi Laki-Laki dan Perempuan pencinta tanaman. 

Gerakan home gardening di Indonesia cukup masif. Pemanfaatan halaman dan lahan kosong di perkotaan menjadi kegiatan ekonomi, bukan sekedar hobi.  Selain memberikan manfaat pangan dan bahkan finansial bagi keluarga, juga berdampak positif terhadap lingkungan perkotaan karena kota menjadi lebih baik, lebih hijau dan lebih sejuk.

Dengan semakin berkembangnya minat masyarakat dalam pertanian pekarangan dan perkotaan, mungkin sudah saatnya pemerintah mempunyai program dan kebijakan khusus agar pemanfaatan pekarangan dan lahan perkotaan jadi bagian penting dalam penyediaan pangan.

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018