Kamis, 22 Januari 2026


Penyuluh Pertanian Luwu Utara Cerita Bahagia Usai Jadi ASN Pusat

05 Jan 2026, 13:36 WIBEditor : Gesha

Senyum tak lepas dari wajah penyuluh pertanian di Luwu Utara. Setelah penantian panjang, status ASN pusat akhirnya diraih, jadi energi baru untuk mengabdi lebih luas dan profesional.

TABLOIDSINARTANI.COM, Luwu Utara -- Senyum tak lepas dari wajah penyuluh pertanian di Luwu Utara. Setelah penantian panjang, status ASN pusat akhirnya diraih, jadi energi baru untuk mengabdi lebih luas dan profesional.

Perasaan senang bercampur haru menyelimuti para penyuluh pertanian di Kabupaten Luwu Utara. Awal 2026 menjadi penanda babak baru pengabdian mereka.

Terhitung sejak Januari 2026, status penyuluh pertanian resmi beralih menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) pusat di bawah naungan Kementerian Pertanian (Kementan).

Kabar ini langsung menyebar cepat, dari balai penyuluhan hingga lini masa media sosial. Bagi para penyuluh, perubahan status ini bukan sekadar administrasi, melainkan pengakuan atas peran panjang mereka mendampingi petani di sawah, ladang, dan kebun, dari musim tanam hingga panen.

Pengalihan status ini juga menandai transformasi besar dalam struktur birokrasi sektor pertanian nasional.

Jika sebelumnya penyuluh pertanian berada di bawah pemerintah daerah dan melekat pada dinas teknis pertanian, kini mereka resmi menjadi bagian dari sistem pusat yang dikendalikan langsung oleh Kementan.

Langkah ini dinilai strategis untuk memperkuat keselarasan program ketahanan dan kedaulatan pangan nasional, dari tingkat pusat hingga desa.

Pemerintah ingin memastikan kebijakan pertanian tak lagi terputus di lapangan, melainkan mengalir lurus sampai ke petani sebagai ujung tombak produksi pangan.

Dengan status baru tersebut, penyuluh pertanian dituntut bekerja lebih optimal. Mereka bukan hanya pendamping teknis, tetapi juga perpanjangan tangan negara dalam menjaga stabilitas pangan, meningkatkan produktivitas, dan mendorong petani agar lebih adaptif terhadap teknologi serta perubahan iklim.

Di Luwu Utara, respons para penyuluh pertanian pun didominasi rasa bahagia dan optimisme. Media sosial menjadi ruang ekspresi yang paling jujur. Unggahan bernada syukur dan semangat baru berseliweran, seolah menandai lembaran baru yang siap ditulis bersama.

Salah satunya datang dari Rustam Taslim, penyuluh pertanian yang terang-terangan menyampaikan rasa bahagianya. Dalam unggahan singkat namun penuh makna, ia menyatakan kesiapannya bergabung sebagai bagian dari keluarga besar Kementerian Pertanian.

“Bismillah, we are ready!” tulis Rustam, kalimat sederhana yang langsung menuai respons dari sesama penyuluh.

Komentar pun mengalir. Ramsal, penyuluh pertanian dengan wilayah binaan Sukamaju, menanggapi dengan nada optimistis. Ia menyiratkan harapan besar terhadap peran penyuluh ke depan.

“Apabila para jenderal sudah turun gunung, persoalan di tingkat petani, insya Allah, akan selesai,” tulis Ramsal, menyamakan penyuluh sebagai garda terdepan yang langsung bersentuhan dengan masalah riil petani.

Nada serupa juga datang dari Santy Nur, fungsional penyuluh pertanian di Luwu Utara. Ia mengaku semakin bersemangat menyambut tahun 2026 dengan status dan tanggung jawab baru.

“Salam semangat, PPL Kementerian Pertanian,” tulisnya, seolah menjadi seruan bersama untuk seluruh penyuluh di Indonesia.

Pengalihan status penyuluh pertanian menjadi ASN pusat memang bukan tanpa tujuan. Pemerintah berharap, dengan perhatian yang lebih besar, para Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dapat meningkatkan kompetensi, profesionalisme, serta kapasitas pendampingan kepada petani.

Status ASN pusat juga diharapkan membuka akses lebih luas terhadap pelatihan, pengembangan karier, serta dukungan kebijakan yang lebih terintegrasi.

Dengan demikian, penyuluh tidak lagi berjalan sendiri-sendiri di daerah, melainkan menjadi satu barisan dalam orkestrasi besar pembangunan pertanian nasional.

Di tengah tantangan sektor pertanian yang kian kompleks, mulai dari perubahan iklim, fluktuasi harga, hingga regenerasi petani, kehadiran penyuluh yang kuat, solid, dan terkoordinasi menjadi kebutuhan mendesak.

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018