Jumat, 06 Desember 2019


Mugiyanto, Kopral TNI yang Jadi 'Jenderal' Klengkeng

13 Nov 2019, 11:50 WIBEditor : Yulianto

Kopral Mugiyanto di lahan kelengkengnya | Sumber Foto:Dok. Mugiyanto

Sosok Mugiyanto kini boleh dikatakan sebagai panutan petani. Khususnya untuk komoditas buah Klengkeng varietas Kateki. Di kalangan petani buah kelengkeng

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Seorang prajurit TNI memang dituntut siap untuk bertugas dimana saja, termasuk di daerah konplik. Begitu juga dengan Mugiyanto yang bertugas di batalyon Infantri 408. Saat terjadi kerusuhan di Maluku pada tahun 2001, ia mendapat tugas di lokasi konplik tersebut.

Namun musibah justru dialami Mugiyanto. Saat bertugas ia terkena ranjau dan membuat satu kakinya hilang. Namun cobaan tersebut tak membuatnya patah semangat. Apalagi kekasihnya yang kini menjadi teman hidup Mugiyanto tetap menemani dan memberikan semangat.

Setelah pulih, pada tahun 2004 Mugiyanto mendapat kesempatan mengikuti kursus pertanian oleh Pusat Rehabilitasi Kementerian Pertahanan untuk tingkat terampil. Kemudian tahun 2006, ia kembali mengikuti pelatihan pertanian tingkat mahir.

“Namun pada tahun 2015, saya baru mulai tanam lengkeng kateki,” ujar Kopral Mugiyanto saat berkunjung ke gedung Ditjen Hortikultura di Pasar Minggu, Jakarta, Selatan, Senin (11/11).

Untuk budidaya kelengkeng, Mugiyanto menyewa lahan milik desa seluas 1,3 ha. Lokasinya tidak jauh dari Candi Borobudur yakni hanya sekitar 300 meter dari pintu keluar candi terbesar di dunia itu. “Saya menyewa lahan BUMDes sebesar Rp 150 juta,” ujarnya.

Sosok Mugiyanto kini boleh dikatakan sebagai panutan petani. Khususnya untuk komoditas buah Klengkeng varietas Kateki. Di kalangan petani buah kelengkeng, ia kini menjadi contoh nyata bagaimana ketekunan dan keuletan bertani mampu mengantarkannya sebagai petani sukses meski dalam keterbatasan.

Sejak 2015 mengembangkan Klengkeng Kateki, Mugiyanto berhasil mengembangkan buah manis legit ini. Sekarang saya mengelola lahan 1,3 hektare. Ada sekitar 230 pohon (Klengkeng Kateki) yang saya budidayakan di Magelang," ujarnya.

Sebagai informasi, Mugiyanto, yang saat ini masih tercatat sebagai prajurit aktif TNI AD yang berdinas di Kodim 0705 Magelang. Prajurit berpangkat Kopral Kepala ini, di sela-sela kegiatan dinasnya juga menunjukkan membina sejumlah petani di beberapa daerah. Adapun di Magelang, dia memberdayakan Kelompok Tani Borobudur.

Alasan Memilih Kelengkeng

Mugiyanto bercerita alasannya memilih Klengkeng Kateki, karena komoditas ini mempunyai daya saing dan nilai ekonomi tinggi. "Pasarnya masih sangat luas. Kebutuhan dalam negeri saja mayoritas masih di-suply dari luar (impor). Artinya peluangnya sangat terbuka sekali," katanya.

Dari sisi budidaya, menurut dia, klengkeng salah satu jenis buah yang fleksibel. Bisa ditanam dalam kondisi pada 5 mdpl (meter di atas permukaan laut) hingga 1.000 mdpl (dataran tinggi). Bayangkan di lokasi yang dekat bibir pantai pun masih bisa berbuah,” ujara.

Kelebihan lain dari kelengkeng yang dibudidiayakan Mugiyanto adalah bisa berbuah di luar musim. “Tinggal kita tujuannya mau apa? Mau koleksi, apa hanya untuk pembuktian bisa berbuah atau tidak? Atau untuk skala produksi. Kalau untuk skala produksi panen disarankan pada umur tanaman 2,5-3 tahun. Tapi kalau untuk pembuktian bisa dalam hitungan bulan bisa kita panen,” tuturnya.

Kelebihan lainnya ungkap Mugiyanto, buah kelengkengnya juga mempunyai tingkat kemanisan cukup tinggi hingga 20 brix (tergantung cuaca). Daging buahnya juga tebal dan bisa bertahan di suhu ruang setelah panen hingga 5-7 hari.

Tanaman kelengkeng jenis keteki yang Mugiyanto tanam juga memiliki produktivitas cukup tinggi. Hitunganya tiap 1 tandan/ranting beratnya bisa mencapai 4 kg, bahkan ada yang mencapai 4,7 kg. Tiap 1 kg ada sebanyak 80-82 buah

Saat ini budidaya Klengkeng Kateki yang dirintis Mugiyanto membuahkan hasil yang luar biasa. Belum genap lima tahun, dia sukses memanen buah dengan kualitas unggul. "Untuk satu hektare (pohon klengkeng) menghasilkan sekitar 12 ton buah. Itu dari 200 pohon. Malah bisa lebih ada yang satu pohon bisa 75 kg. Jika dikalikan 200 pohon, artinya bisa mencapai 15 ton," lanjut dia.

Mugiyanto memperkirakan, untuk biaya usaha tani sekitar Rp10.000/kg. Sementara harga jual ke pasar sekitar Rp35.000-45.000. Dengan model pertanian intensif, harga tersebut sudah cukup menguntungkan, bahkan biaya sewa lahan sebesar Ro 150 juta/tahun bisa tertutupi.

Soal resep rahasianya mengembangkan Klengkeng Kateki, Mugiyanto menjabarkan ada dua kuncinya. Pertama benih yang unggul. Kedua agroklimat, bagaimana memahami iklim pertanian. Meliputi cuaca, kelembaban, hingga soal kondisi tanah. Semua itu akan mempengaruhi pola penerapan teknologi maupun treatment pohonnya," tuturnya.

 

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018