Monday, 10 August 2020


Trisila Juwantara dengan Carica, Pasok Camilan di Luar Negeri

07 Jul 2020, 19:11 WIBEditor : Gesha

Trisila Juwantara dan produk andalannya | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Wonosobo -- Hampir di seluruh daerah memiliki kekhasan camilannya sendiri. Seperti di kawasan dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah yang terkenal dengan Carica dan beberapa keripik buah. Tapi siapa sangka Carica Buavica keluaran Yuasa Food milik Trisila Juwantara ini bisa memasok ke mancanegara. Awalnya mimpi kini menjadi kenyataan.

“Dieng itu memang identik dengan Carica yang disebut juga pepaya Dieng karena memang bentuknya yang seperti pepaya tapi kecil-kecil. Di negara lain, jenis ini ada di Cile dan Peru. Keunikan inilah yang saya jadikan fokus bisnis di pasar ekspor,” ungkap Direktur Yuasa Food, Trisila Juwantara.

Awalnya Trisila hanya menjual Carica miliknya di pasar dalam negeri atau sekitar Dieng saja sejak tahun 2000an, namun lama kelamaan banyak yang mengikuti jejaknya di pasar dalam negeri dan membuat jenuh pasar karena terlalu banyaknya yang berjualan barang sama. “Saya mencoba mencari tahu tentang ekspor dan mulai mempelajarinya. 

“Kita branding merek Carica ini dengan nama Buavica, biar terdengar unik dan berima. Dulu waktu tahun 2000an saya bisa jual puluhan ton per bulan dan dijual ke supermarket-supermarket. Saya lihat di pasar internasional tidak ada produk seperti Carica Buavica ini, makanya saya beranikan untuk ekspor,” tutur Trisila.

Dari beberapa uji pasar yang dia lakukan, calon pembeli sangat menyukai rasa dan manfaat buah tropis dalam bentuk koktil carica. Setelah melalui uji coba produksi di SMKN 1 Temanggung, dia berhasil menemukan formula produksi carica yang tepat.

Trisila kemudian memproduksi carica in syrup (koktil carica) dengan standar kualitas dan sertifikasi keamanan pangan berdasarkan risiko skala internasional, yakni HACCP. Belakangan produknya berkembang, antara lain koktil carica kemasan kaleng, botol kaca, plastik, tub, cup kemasan air mineral, serta sirup, selai, jus, keripik, hingga dodol carica.

“Kami juga melakukan inovasi packaging dengan karton flut, duplek, plastik, isi 24, 12, 6, dan 8 per dus,” ujarnya. Semuanya kini bisa diperoleh di supermarket Timur Tengah, Asia, dan Eropa. 

Buavica menyasar segmen menengah-atas, dari anak-anak sampai dewasa. Jalur distribusinya tentu saja disesuaikan, yakni melalui supermarket, pusat oleh-oleh, restoran, pengusaha katering, dan hotel. Berbagai kegiatan promosi pun digelar, di dalam dan luar negeri. Dari pameran dan ekshibisi hingga aneka forum business matching. 

Dirinya bertekad terus berinovasi mengembangkan olahan carica, dari minuman pulpy sampai produk baru berbahan baku lokal lainnya dengan teknologi freeze dried. “Selain itu, kami juga menyiapkan second layer bisnis selain bisnis utama dengan memproduksi keripik jamur, keripik buah, manisan cabe, manisan salak, dan lain-lain dari bahan lokal yang tersedia,” paparnya.

Maju Bersama

Namun, Trisila tidak mau sukses sendiri karena itu dirinya membentuk kluster-kluster usaha mikro, kecil, menengah (UMKM) untuk mengolah carica. Dia menggandeng Dinas Koperasi setempat dan kelompok pemuda desa di Dieng. UMKM inilah yang kemudian menyerap pasokan carica yang berlebih dari petani.

Di 2008, Trisila mendirikan koperasi yang menangani tata niaga carica dari hulu sampai hilir. Namanya: Koperasi Serba Usaha (KSU) Karika. Koperasi ini menetapkan harga terendah di tingkat petani supaya petani tidak merasa rugi. KSU juga menetapkan harga tertinggi saat musim kemarau agar harga carica tak terlalu melonjak. “Sehingga, suplai bisa stabil, petani pun termotivasi,” kata dia.

Awal berdiri, koperasi ini baru beranggotakan 22 orang. Sekarang, anggotanya sudah bertambah menjadi 114 orang, mulai petani, UMKM pembuat produk olahan carica, hingga pemasar. “Tapi, di belakang anggota ini ada kelompok lain. Artinya, yang memanfaatkan nilai baik koperasi ini bisa sampai 300-an orang,” imbuh Trisila. 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018