Tuesday, 16 June 2026


Pekebun Diajak Produksi Pupuk dan Pestisida Ramah Lingkungan

18 Nov 2021, 09:53 WIBEditor : Yulianto

Pupuk Organik perlu political will dari pemerintah

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Pemerintah dalam hal ini Ditjen Perkebunan mendoorng pekebun untuk melakukan budidaya ramah lingkungan dengan menggunakan pupuk organik dan pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dengan pestisida nabati. Untuk itu, pekebun didorong menghasilkan sarana produksi ramah lingkungan tersebut.

Kebijakan utama Ditjenbun melalui Direktorat Perlindungan Perkebunan dan UPT yaitu BBPPTP Surabaya, Medan, Ambon dan BPTP Pontianak adalah pertanian ramah lingkungan. Kegiatannya adalah bekerjasama dengan UPT provinsi mengadakan bimtek pertanian ramah lingkungan dengan penggunaan pupuk organik, pupuk hayati dan pengendalian OPT dengan pestisida nabati.

"Petani kami dorong menghasilkan pupuk organik, pupuk hayati dan pestisida nabati sendiri." kata  Ardi Praptono, Direktur Perlindungan Perkebunan, Ditjen Perkebunan di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pola budidaya yang dikembangkan adalah perkebunan zero waste dan bisa dikembangkan oleh kelompok tani/gapoktan dalam skala luas. Tidak ada limbah yang keluar karena semua diolah menjadi pupuk organik dan hayati sendiri. Sedang petani dalam skala kecil bisa membeli produk-produk ramah lingkungan dari kelompok tani ini.

Kelompok tani organik dan kelompok tani mitigasi iklim yang dibantu Ditjen Perkebunan mendapat alat pengolah kompos dan bangunan. Salah satunya kelompok tani di Bali produksi pupuk organiknya melimpah melebihi kebutuhan sehingga dijual. Artinya ada tambahan pendapatan.

Ardi juga mendorong semakin banyak petani yang memproduksi pupuk hayati. Sebab jika produksi banyak, maka harga akan murah dan semakin banyak yang menggunakanya. "Jadi masyarakat dibiasakan menggunakan pupuk organik dan pupuk hayati sehingga mindsetnya berubah, pupuk bukan lagi terus menerus kimia," katanya.

Momentum naik dan langkanya pupuk kimia sekarang merupakan saat yang tepat bagi pembuat pupuk hayati untuk meningkatkan pasarnya. Kelompok petani yang sudah dilatih membuat pupuk ini sesuai standar diharapkan tidak membuat untuk sendiri tetapi bisa masuk dalam skala komersial. Dengan banyaknya pemain dan produksi maka makin banyak pekebun yang menggunakannya.

Dengan harga yang lebih murah diharapkan biaya produksi perkebunan turun sehingga ada margin yang memadai bagi pekebun. Tanah yang menggunakan pupuk ini strukturnya lebih bagus, kadar C organik dalam tanah meningkat. 

Reporter : Humas Ditjen Perkebunan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018