
Dari pengalaman transmigrasi, sawah produktif lahir dari metode manual dan kearifan lokal. Pelajaran ini penting untuk cetak sawah masa kini yang ramah lingkungan.
TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor -- Dari pengalaman transmigrasi, sawah produktif lahir dari metode manual dan kearifan lokal. Pelajaran ini penting untuk cetak sawah masa kini yang ramah lingkungan.
Pengalaman cetak sawah pada masa transmigrasi menyimpan banyak pelajaran berharga untuk pertanian modern. HM. Yadi Sofyan Noor, SH, Ketua Umum KTNA Nasional, menekankan bahwa keberhasilan program tersebut bukan hanya soal luas lahan yang digarap, tapi bagaimana cara mengelolanya agar produktif dan ramah lingkungan.
Menurut Yadi, ada dua pola cetak sawah yang pernah diterapkan: menggunakan alat berat dan manual. “Metode manual justru memberi hasil terbaik. Struktur tanah tetap terjaga, air mengalir alami, dan produktivitas lebih tinggi. Sedangkan alat berat mempercepat proses, tapi sering merusak tutupan tanah dan mikroba penting bagi kesuburan,” jelasnya.
Pengalaman lapangan di Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, hingga wilayah transmigrasi lainnya menunjukkan, metode manual mampu menumbuhkan varietas unggul seperti IR64 atau IMPARI bahkan di lahan kritis. “Ini lesson learn penting: teknik yang tepat dan perawatan lahan yang hati-hati menentukan hasil panen,” tambah Yadi.
Selain soal metode, kunci keberhasilan cetak sawah jaman transmigrasi juga terletak pada sinergi lintas disiplin. Yadi menekankan bahwa tidak cukup hanya mengandalkan agronomi. “Kita butuh ahli tanah, pakar penyakit tanaman, dan petani lokal yang menguasai kondisi sosial-ekonomi. Semua elemen ini bekerja bersama agar cetak sawah berhasil,” ujarnya.
Dari sisi biaya, metode manual juga terbukti lebih efisien. Yadi mencontohkan, cetak sawah dengan alat berat bisa menghabiskan Rp10 juta per hektare, sementara metode manual hanya Rp5 juta. Selain hemat biaya, metode ini memberdayakan masyarakat lokal karena mereka yang bekerja langsung di lapangan.
Pelajaran lain dari masa transmigrasi adalah pentingnya mengikuti pola alami aliran air dan menjaga ekosistem mikroba tanah.
Cara ini memastikan lahan tetap subur dan mampu menopang produksi padi tinggi. Prinsip ini relevan untuk cetak sawah modern: memaksimalkan hasil tanpa merusak lingkungan.
“Pelajaran dari program transmigrasi sangat relevan untuk sawah jaman sekarang. Kearifan lokal, partisipasi masyarakat, dan teknik yang tepat tetap menjadi kunci sukses,” tutup Yadi.
Dengan meneladani kesuksesan transmigrasi, pembangunan sawah baru di Indonesia bisa lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan—menggabungkan pengalaman masa lalu dengan teknologi pertanian modern.