Minggu, 18 Agustus 2019


Cara Kreatif Petani agar Tetap Tanam Saat Musim Kemarau

23 Jul 2019, 11:55 WIBEditor : Gesha

Jaringan irigasi yang terus diperbaiki dan dijaga agar tetap mengalirkan air ke sawah petani | Sumber Foto:TABLOID SINAR TANI

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau (MK) tahun ini lebih panjang dan akan berlangsung hingga Desember 2019.  Dampak MK sangat dirasakan petani, seperti di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah dan Indramayu, Jawa Barat.

Tapi petani tak patah arang. Selagi masih ada sumber air, petani bisa memanfaatkan untuk bertani. Di Boyolali, petani memanfaatkan sumur pantek dan sumur dalam untuk budidaya padi dan palawija.

“Kami sudah ada beberapa solusi agar petani bisa bisa bertanam di musim kemarau tahun ini. Petani bisa memanfaatkan sumur pantek dan sumur dalam yang sudah disiapkan di sejumlah kecamatan,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, Supardi.

Diperkirakan kekeringan yang melanda salah satu lumbung pangan di Jateng ini  per  Juni 2019 sudah seluas 1.305 ha dari total luas lahan sekitar 22 ribu ha. Lahan pertanian yang terdampak kekeringan di Boyolali, seluas  16 ha termasuk kekeringan ringan, 350 ha kekeringan berat dan seluas 939 ha lahan pertanian puso (sama sekali tak bisa ditanami).

Pada musim kemarau ini, Supardi menghimbau petani yang di daerahnya memang masih ada potensi sumber air untuk memanfaatkan air tersebut agar bisa tetap tanam. Pemda Boyolali sudah menyiapkan sumur pantek yang kedalamannya 20 meter di setiap kawasan pertanian. Begitu juga sumur dalam (kedalamannya 100 meter) juga sudah disiapkan di sejumlah kawasan pertanian seperti di Kecamatan Nagasari, Simo, dan Sambi.

“Pada tahun 2018 kami sudah siapkan pompa air di 19 kecamatan sebanyak 131 unit. Dan tahun 2019 ada tambahan pompa air dari provinsi 11 unit,”  ujarnya. 

Supardi berharap, sumur tersebut mampu membantu petani mengantisipasi musim kemarau tahun ini. Namun agar tak menambah lahan pertanian yang puso, petani juga telah dihimbau supaya tak menanam padi apabila memang sumber airnya sudah tak memungkinkan.

Manfaatkan Sodetan

Sementara itu petani di Desa Sindangkerta, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, petani membuat sodetan sungai agar air mengalir ke sawah agar bisa tetap tanam padi. Cara tersebut ternyata cukup jitu, sehingga program luas tambah tanam (LTT) tetap berjalan.

Kepala Seksi (Kasie) Mitigasi Iklim, Subdirektorat Iklim, Konservasi Air dan Lingkungan Hidup, Direktorat Irigasi Pertanian, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Dyah Susilokarti mengatakan, petani membuat saluran sodetan sepanjang 36 meter dengan terpal. Lalu air didistribusikan dengan saluran air sepanjang 750 meter dengan lebar 120 cm dan kedalaman 50 cm. Ujung saluran pun berada pada posisi 750 meter dari ujung sodetan.

“Walaupun sumber air lebih rendah dari lahan, tetapi debit besar (6 liter/detik)  dan digiring dengan menggunakan saluran terpal sepanjang 36 meter, sehingga mampu mencapai lokasi sejauh lebih kurang lebih 1 km,” kata Dyah.

Kreativitas dari poktan ini terpantau ketika kegiatan monitoring kekeringan yang dilakukan Tim Ditjen Prasarana dan Sarana Pertanian melakukan monitoring kekeringan di wilayah Pantura.  Dyah berharap jika sodetan yang sama dibuat di desa lain, maka potensi lahan yang dapat diselamatkan dari kekeringan akan bertambah luas, diperkirakan mencapai 440 ha.

Lahan tersebut dikelola 3 kelompok tani yaitu Purwawinangun 2 seluas 155 ha, Purwaguna Asih seluas 148 ha dan Puwaguna Asih I seluas 155 ha. Dengan adanya air dari sodetan, diharapkan mampu mengairi 160 ha di Desa Kapringan dan 100 ha di Desa Singakerta, sehingga total luasan yang dapat diairi mencapai 460 ha.

“Petani di Kecamatan Krangkeng sekarang ini bisa tetap bertanam dimusim kemarau ini dengan mengandalkan air dari sodetan sungai yang berada di sekitar lahan. Dengan air sodetan tersebut lahan seluas 200 ha di Desa Sindangkerta sudah dapat diairi dan melakukan tanam padi,” tuturnya.

Sementara itu Ketua Poktan Sri Lestari, Tasmad mengatakan, saluran air tersebut  dibuat dengan dana swadaya masyarakat sebesar Rp 15 juta dan dalam waktu kurang dari 1 bulan sudah menampakkan hasil yang menggembirakan. Terlihat lahan seluas 200 ha sudah dapat diairi, sehingga bisa dilakukan pertanaman padi, meski aliran air tidak maksimal.

Reporter : TABLOID SINAR TANI
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018