
Tumpi Karangbolo
TABLOIDSINARTANIU.COM, Ungaran – Jelang Hari Raya Idul Fitri, Dusun Karangbolo kaki Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, mengalami peningkatan aktivitas yang luar biasa. Hal itu berkat produksi camilan khas daerah ini, tumpi yang meningkat dia kali lipat.
Sejak awal Ramadan, dapur-dapur rumah warga terus mengepul dari pagi hingga sore. Tumpi, keripik gurih berbahan dasar kacang hijau yang sering disebut rempeyek, menjadi buruan utama masyarakat.
Saking larisnya, para perajin tumpi bahkan harus menutup pesanan sejak 15 hari sebelum Lebaran karena permintaan yang membeludak.
Usaha Kecil, Omzet Besar
Pada hari biasa, sekitar 55 kepala keluarga di Karangbolo menggantungkan hidup sebagai pengrajin tumpi. Namun, ketika Lebaran dan Tahun Baru tiba, jumlahnya melonjak menjadi 80 keluarga.
Menurut Kepala Dusun Karangbolo, Mitwa Amir, jumlah tenaga kerja yang terlibat juga bertambah drastis. Jika biasanya satu pengrajin hanya mempekerjakan 2-3 orang, menjelang Lebaran jumlah pekerja bisa mencapai 5-7 orang per rumah produksi.
“Seiring dengan meningkatnya permintaan, produksi pun berkembang. Kini, selain tumpi kacang hijau, kami juga membuat keripik kacang tanah, keripik bayam, keripik pare, keripik rebon, hingga keripik pisang,” ujar Mitwa Amir, Ketua Paguyuban KUB (Kelompok Usaha Bersama) Mekarjati.
Dalam sehari, seorang pengrajin bisa memproduksi 30-40 kg aneka keripik. Namun saat menjelang Lebaran, angka itu bisa melonjak dua kali lipat, mencapai 60-80 kg per hari.
Fenomena ini terjadi sejak awal Ramadan hingga 15 hari setelah Lebaran, mencerminkan tingginya permintaan pasar terhadap camilan khas ini.
Rasa Autentik
Yang membuat tumpi Karangbolo begitu digemari adalah kualitasnya yang selalu terjaga. Para pengrajin hanya menggunakan bahan-bahan berkualitas terbaik, mulai dari tepung, kacang-kacangan, sayuran, hingga minyak goreng.
Bahkan, beberapa pengrajin masih mempertahankan cara tradisional menggoreng dengan kayu bakar untuk memberikan cita rasa sangit (smoky) yang khas.
Karena kualitasnya yang premium, tumpi dan aneka keripik produksi Karangbolo bisa bertahan hingga enam bulan.
Ini menjadi nilai tambah yang membuat produk mereka selalu diburu, baik oleh toko-toko langganan maupun reseller yang memasarkannya secara daring.
Salah satu pengrajin, Muawanah, mengaku bahwa tahun ini ia menerima lebih dari 150 pesanan.
Untuk memenuhi permintaan tersebut, ia mempekerjakan delapan orang dari kalangan tetangga dan keluarga.
“Belum selesai sampai hari ini, mohon maaf kami tidak bisa melayani pembelian langsung. Silakan datang lagi setelah Lebaran,” ujar Muawanah dengan senyum ramah.
Para pengrajin di Karangbolo mendapat bimbingan rutin dari Pemerintah Daerah Kabupaten Semarang melalui dinas terkait.
Mereka dibantu dalam hal pengelolaan usaha, permodalan, hingga pemeriksaan kesehatan pekerja oleh Dinas Kesehatan setempat.
Meski menghadapi persaingan dari produk pabrikan besar, para pengrajin tetap optimis. Permintaan yang terus meningkat membuat mereka yakin akan masa depan usaha ini.
Namun, mereka berharap ada dukungan lebih lanjut dari pemerintah, terutama dalam peningkatan standar dapur produksi agar semakin kompetitif di pasar yang lebih luas.
Dengan semangat dan kerja keras para pengrajin tumpi Karangbolo, tradisi dan cita rasa khas ini tetap lestari dan semakin dikenal luas.
Setiap gigitan tumpi tidak hanya menghadirkan kelezatan, tetapi juga menyimpan kisah perjuangan ekonomi rakyat yang penuh inspirasi.
Berita ini telah diolah menjadi lebih menarik, mengalir, dan enak dibaca. Jika ada yang ingin ditambahkan atau diperbaiki, silakan beri tahu saya!