Friday, 18 June 2021


Jagung dan Kedelai di Lesotho, Sebuah Wisata Pertanian

05 May 2021, 10:55 WIBEditor : Ahmad Soim

Lesotho | Sumber Foto:Memed Gunawan

 

Oleh: Memed Gunawan

 TABLOIDSINARTANI.COM, Lesotho --  Lesotho adalah negara kecil yang sebagian besar lahannya bergunung-gunung, berada di tengah negara Afrika Selatan. Negara yang tidak mempunyai akses ke laut ini (landlock) pertaniannya sangat terbatas, tak mampu menyediakan bahan pangan yang cukup walaupun penduduknya hanya 1,8 juta jiwa. Tidak kurang dari 60 persen bahan makanan harus diimport dari luar negeri, terutama Afrika Selatan.

Lahan pertanian penduduk umumnya kering mendekati gersang, tumbuhan terserak di sana sini. Penduduknya sebagian besar miskin, hidup dari pertanian dengan menananm jagung dan memelihara ternak. Walaupun demikian, soal mengolah tanah mereka menggantungkan sepenuhnya pada traktor besar empat roda. Tidak ada cangkul. Yang menggunakan cangkul hanya petani imigran Cina yang datang ke negeri ini, yang umumnya berusaha di bidang perdagangan retail bahan makanan dan pakaian.

Negara cantik ini miskin. Tanahnya terbengkalai.  Tidak diolah dengan semestinya. Hampir tidak ada petani yang bekerja penuh di lahannya, karena mereka merasa tanahnya tidak memberikan penghidupan yang memadai. Tanahnya adalah gunung batu, dan sering ditimpa kekeringan waktu summer atau frost waktu winter. Jika terlambat tanam berarti petani harus siap-siap dengan serangan frost yang bisa menghancur-luluhkan tanaman. 

Hujan seperti saudara jauh di lahan ini.  Khususnya di Mafeteng, yang tinggi dan bergunung, hujan cuma datang dalam hitungan jari saja dalam setahun.  Di catatan para para statistician angkanya 700 ml per tahun. Ini pun masih lumayan katimbang di Quetta, Balochistan, yang hanya 200 ml per tahun.  

BACA JUGA:

Berbagai upaya dilakukan untuk membantu petani agar mereka meningkatkan produksi. Tapi dari tahun ke tahun produksi terus menurun. Pada tahun 2008, produksi jagung per hektare hanya 300 kg, jauh dari cukup untuk menghidupi keluarga petani. Negara kecil ini di ambang kelaparan kalau tidak mendapat bantuan dari berbagai negara. Petani mengira masalahnya adalah air. Satu ironi, karena sungai besar dan dam raksasa jauh tinggi di pegunungan mampu menampung air dalam jumlah besar yang dijual ke Afrika Selatan. Air yang melimpah di sungai itu tidak dijadikan sumber air irigasi untuk mengairi lahan pertanian. Air yang melimpah, yang ditampung dalam bendungan raksasa, Katse Dam dan Mohale Dam itu dijual murah ke South Africa untuk air minum dan pengairan. Tidak dijadikan untuk irigasi pertanian atau usaha perikanan. Padahal ikan salmon dan bass hidup subur di sungai-sungai yang mengalir di lembah tanah Lesotho. Orang Lesotho yang disebut Basotho tidak makan ikan. Hanya daging. 

Sebatang sungai selebar 30 meter melintasi kota Maseru, ibukota Lesotho. Memerah membawa tanah. Pendangkalan sungai terus berlangsung.  Suatu saat sungai itu akan hilang, bersama hilangnya lapisan organik yang sekarang sudah menipis.  Lalu apa yang diharapkan dari tanah semacam ini buat pertanian?

Sekarang air yang melimpah di dam besar itu hanya dijual. Padahal perjalanan air mulai dari hulu, lalu ke dam besar sampai menyerap lagi di hilir ke dalam tanah bisa menghasilkan sekian banyak manfaat kepada manusia. Dia bisa menjadi penghasil energi, dan air yang sama bisa memenuhi kebutuhan manusia untuk air minum, untuk mengairi sawah melalui irigasi yang bercabang-cabang, dan untuk menghidupi ternak dan tanaman. Air yang sama. Itulah sebabnya jaringan irigasi selalu dibuat panjang berliku dan bercabang-cabang mencapai seluas mungkin kawasan dan sebanyak mungkin manusia, hewan dan tumbuhan. 

Negara kecil yang luasnya 30 ribu km persegi ini berpenduduk 1,8 juta. Pukul rata 60 orang per km persegi.  Indonesia yang luasnya mendekati 2 juta km persegi penduduknya 260 juta, atau sekitar 130 orang per km persegi, sudah menghitung lahan hutan, rawa dan gambut yang kurang produktif di Kalimantan dan Papua.  

Lahan kosong terbentang luas, beberapa kelompok tanaman pinus dan tanaman khas daerah pegunungan bergerombol dan hijau.  Pohon itu tumbuh subur.  Tanah ini perlu ditekuni dengan menanam pohon.   

 Tanah semacam ini memang seperti di Flores dan Sumbawa.  Perlu upaya khusus untuk dijadikan lahan produktif. Negara kecil ini cukup luas untuk penduduk yang jumlahnya sangat sedikit.  

Pemandangan indah sepanjang perjalanan dari ibukota ke lokasi proyek itu ditempuh dalam waktu 2 jam, melewati jalan mulus yang banyak belokan dan naik turun.  Lewat jalan tanah berbatu sampailah di desa Maphutseng di atas gunung, setelah Land Cruiser bermesin 4,5 liter ini melalap tidak kurang dari 10 km dengan kecepatan 70 km per jam. Di lembah itu berdiri sekelompok bangunan tua dan pohon-pohon rimbun.  Itulah Bethesda Mission.   Di samping kiri jurang dan sebelah kanan berserak rumah batu.  Sebagian ada rumah yang bagus dan cantik, berdinding bata merah atau batu gunung.  Pemiliknya kebanyakan adalah migran yang bekerja di South Africa, tetapi sekarang kembali menjadi petani miskin.  Lahan di sini begitu kering dan berbatu.  Bukit batu itu barangkali diciptakan Tuhan untuk bahan bangunan.  Batu yang berkualitas baik, indah, tetapi memerlukan kerja keras untuk memotong dan mengangkutnya. 

Augustus adalah seorang pendeta Bethesda yang berasal dari Afrika Selatan.  Dia sudah menyatu dengan masyarakat karena sudah berada di negara itu lebih dari 16 tahun.  Fasih berbahasa setempat dan kenal semua pelosok negeri.  Mulai dari pengalamannya yang begitu susah berkhotbah di depan penduduk yang lapar, maka dimulailah pilot project demi pilot project melalui kegiatan yang didanai oleh Belanda dan Australia.  Hasilnya adalah model Conservation Agriculture. Intinya adalah menyimpan sebanyak mungkin kelembaban tanah dan mengurangi penguapan air tanah sehingga air dapat dimanfaatkan sebanyak mungkin oleh tanaman.  Caranya adalah dengan pengolahan tanah seminimal mungkin (minimal tillage) dan menutup permukaan tanah dengan sisa tanaman sehingga penguapan bisa dikurangi.  

“This is a holly agriculture,” kata Dr.  Marabe, seorang soil scientist dari National University. 

“Not only because of the high involvement of the Holly Church, but also because we make hole to put the seed, without ploughing,” lanjutnya.

Lubang sedalam 5 sampai 15 cm dibuat dengan traktor yang sekali gus memasukkan benih jagung ke dalamnya.  Sesudah itu rumput tebal di sekelilingnya disemprot herbisida untuk mengurangi kehilangan air dan hara.  Sesudah tanaman tinggi, baru penyiangan dilakukan dengan cangkul dan sisa tanaman pengganggu itu diserakkan sekitar tanaman jagung.   Rumput di lahan kosong dibiarkan tumbuh, sementara tanaman  jagung tumbuh sehat, tanahnya lembab tertutup oleh sisa tanaman yang dibiarkan menutup tanah sekitar tanaman jagung.

“We will have better coverage in the second year after the remains of this crop cover the soil,” kata pendeta Agustus.

Pergiliran tanaman pun menjadi syarat mutlak dalam Conservation Agriculture.  Pupuk nitrogen yang dihimpun tanaman legum menjadi penyubur tanah.  Tanaman cowpea menjadi pilihan.  Sebagian ditanam tumpangsari dengan jagung, sebagian lagi monokultur cowpea sesudah panen jagung.

“Tuhan telah memberikan kita lahan ini.  Lahan ini hanya kekurangan air, selebihnya adalah lahan yang baik.  Kita harus bersyukur pada Tuhan.  Kalian jangan mengomel.  Tuhan sudah begitu berbaik hati kepada kita,” kata Menteri dalam sambutan dan doanya.

“Kita harus memanfaatkannya sesuai dengan karakteristik lahan yang kita punyai, dengan berbagai cara,” katanya lagi. 

Betapa besar potensi lahan ini kalau diolah dengan cara yang benar.  Kita memang tidak bisa melawan alam.  Itu tidak mungkin.  Tapi harus memanfaatkan alam yang ada dengan berbagai upaya agar alam secara optimal memberikan manfaat kepada kita.  Gandring menyalami Menteri itu dan menyatakan salut atas pemikirannya.  

“We need people with new ideas.  We need people who want to work for themselves.  To whom the government will provide full supports,” katanya berjanji.

Dia tahu banyak rakyatnya yang lapar, tapi kelaparan itu bukan alasan untuk meminta, tapi mereka harus bekerja.  Dan itulah yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah dan pemberi bantuan, jangan hanya memberikan bantuan melalui emergency, tapi bantu mereka bangkit untuk menolong dirinya sendiri.

 === 

Sahabat Setia SINAR TANI bisa berlangganan Tabloid SINAR TANI dengan KLIK:  LANGGANAN TABLOID SINAR TANIAtau versi elektronik (e-paper Tabloid Sinar Tani) dengan klikmyedisi.com/sinartani/ 

Reporter :
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018