Thursday, 06 August 2020


Permintaan Udang di Era New Normal Cenderung Meningkat

01 Jul 2020, 15:34 WIBEditor : Indarto

Komoditas udang | Sumber Foto:Dok. Humas DJPB

Ada tren permintaan udang di era new normal yang ke depannya cukup prospektif dikembangkan, yakni strategi layanan eceren langsung yang menyasar kepada konsumen.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta--- Permintaan komoditas udang di era new normal mengalami peningkatan. Seperti seafood mix, frozen dan conned frozen permintaan pasarnya cenderung meningkat. Sedangkan tempat pembelian mulai mengalami pergeseran.

Direktur Supply Asosiasi Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Indonesia (AP5I), Harry Yuli Susanto mengatakan, covid 19 tak menginfeksi seafood, namun secara tak langsung mempengaruhi sektor ini dalam banyak hal.  Sebab,  pasar seafood sangat tergantung dengan sektor food service seperti hotel, restoran,  dan catering yang selama pandemi covid 19, nyaris tutup.

“ Sektor food service yang nyaris tutup selama pandemi covid 19, berdampak sekitar 70 persen dalam penjualan. Di era new normal, telah terjadi pergeseran tempat penjualan, seperti penjualan yang memanfaatkan e-comerce dan daring mengalami peningkatan,” papar Harry, dalam sebuah webinar , di Jakarta, Rabu (1/7).

Harry juga mengatakan, pasar seperti wholesaler atau retailer, koperasi konsumen (khususnya pasar Jepang) dan super market yang melakukan aktivitas penjualan barang langsung ke konsumen juga mengalami peningkatan. Mengapa  seafood, khususnya udang mengalami peningkatan pada saat new normal? Menurut Harry, karena konsumen melihat produk seafood dan olahannya mendukung nutrisi kesehatan dan pembentukan imunitas tubuh yang sangat diperlukan untuk mencegah covid 19.

Meski ada peningkatan permintaan di komoditas seafood (udang), lanjut Harry,  komoditas ikan dan udang hidup/segar, dan kerang mengalami penurunan permintaan.  Sebab, komoditas ikan segar ataupun udang segar umumnya untuk memenuhi permintaan restoran, hotel, taman hiburan, event organization (EO), kapal pesiar dan layanan pariwisata lainnya, yang saat ini belum pulih.

Menurut Harry, ada tren permintaan udang di era new normal yang ke depannya cukup prospektif dikembangkan, yakni strategi layanan eceren langsung yang menyasar kepada konsumen. “Sehingga, permintaan udang melalui delivery ataupun online shoping akan mengalami peningkatan. Meski sebagian restoran sudah buka, umumnya konsumen tak makan di tempat (take away),” jelas Harry.

Harry juga memperkirakan tatanan kehidupan baru belum dapat kembali normal dalam waktu dekat. Karena itu, social dan physical distancing tetap harus berjalan sampai sampai vaksin covid 19 ditemukan (kemungkinan sampai 12-24 bulan).

“Kalau melihat performa impor dan penjualan di pasar utama udang, maka produk udang berpotensi tak terjual sebagaimana biasanya. Sehingga kami perkirakan ke depan akan banyak komoditas udang yang disimpan di cold storage,” kata Harry.

Lantaran stock udang di sejumlah negara importir masih tinggi, lanjut Harry, kemugkinan timming permintaan produk baru tak akan sekuat biasanya. Kendati begitu, masih potensi menguat saat musim liburan di UE sampai Agustus dan di AS sampai September mendatang.

“ Sedangkan potensi harga di tingkat produsen untuk bahan baku pada size tertentu kemungkinan akan stabil sampai Agustus. Namun, akan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan dari negara produsen dengan segala keterbatasannya. Sebab, pada April lalu tingkat tebar benur menurun di seluruh dunia,” papar Harry.

Sementara itu , Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Haris Muhtadi mengatakan,  di era new normal, budidaya udang akan mulai menggeliat. Mengingat, suplai impor broodstock dan distribusi benur melalui udara yang tiga bulan lalu terganggu, saat ini sudah mulai pulih.

 “Karena di sejumlah negara importir sempat lock down, demand pasar internasional berkurang. Harga udang pun turun pada April – Mei. Namun penurunannya hanya sesaat, karena suplai internasional juga turun, sehingga jelang new normal mulai terjadi pemulihan harga,” kata Haris.

Haris juga mengatakan, petambak tetap berproduksi normal, karena sudah terbiasa melakukan biosecurity, mirip dengan protocol covid 19. “Saya kira covid 19 berpengaruh sesaat dan tak signifikan secara technical maupun finasial. Sebab, pelaku budidaya lebih fokus pada problem teknis seperti penyakit yang kerap kali masih muncul,” pungkasnya.

 

 

 

 

 

 

Reporter : Dimas
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018