Sabtu, 15 Desember 2018


Melihat dari Dekat Budidaya Patin Berbasis Kawasan di Kotawaringin Timur

23 Sep 2018, 10:46 WIBEditor : Gesha

Budidaya patin di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Propinsi Kalimantan Tengah sampai saat ini sudah berkembang pesat. | Sumber Foto:Ditjen DJPB KKP

Masa Depan Kotawaringin ada di Patin

TABLOIDSINARTANI.COM, Kotawaringin Timur --- Budidaya patin di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Propinsi Kalimantan Tengah sampai saat ini sudah berkembang pesat. Bahkan, pembudidaya patin di Kotim pun telah menerapkan budidaya ikan berbasis kawasan yang ramah lingkungan. Sehingga, tak berlebihan kalau Kab.Kotim dijadikan sentra ikan patin nasional.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto mengapresiasi pengembangan budidaya patin di Kabupaten Kotim yang telah menerapkan kawasan budidaya berbasis komoditas. "Kab.Kotim punya potensi perikanan cukup besar, khususnya patin.

Pengembangan budidayanya pun berbasis kawasan sesuai dengan kebijakan  yang telah digariskan KKP”, kata Slamet  saat melakukan panen raya ikan patin di Kelompok Maju Bersama Desa Bapeang Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kab.Kotim, Kalimantan Tengah (4/9).

Karena potensi budidaya patin berbasis kawasan di Kab.Kotim cukup potensial, Slamet menetapkan daerah ini sebagai sentra patin nasional. Bahkan Desa Bapeang, Kec. Mentawa Baru Ketapang ditetapkan sebagai salah satu kawasan pengembangan patin.

Di Desa Bapeang terdapat lebih dari 220 kolam patin. Dari jumlah tersebut, sebanyak 45 kolam sudah siap dipanen sebanyak 40 ton. Tiap kolam berukuran rata-rata 20x10 m dengan benih pati  sebanyak 2.500 ekor. Setelah dipeliharan selama 5-6 bulan pembudidaya dapat panen 700 kg - 1 ton patin/kolam. 

Menurut Slamet, dengan biaya produksi  Rp 18-19 ribu/kg,  dan harga jual Rp 23-25 ribu/kg, pembudidaya  patin mampu meraup keuntungan  Rp 3-7 juta/kolam. "Pemerintah terus mendorong pengembangan usaha budidaya melalui klasterisasi kawasan berbasis komoditas unggulan daerah. Strategi ini sangat ampuh untuk percepatan pengembangan kawasan, karena pada prinsipnya setiap komoditas yang dikembangkan memiliki karakteristik yang khas sesuai kondisi lokasi," jelas Slamet.

Slamet juga mengatakan, budidaya ikan berbasis kawasan akan mendorong kenaikan konsumsi ikan masyarakat. "Konsumsi ikan per kapita kita terus naik, jika sebelumnya sebanyak 40 kg/ kapita pada tahun 2017. Pada tahun 2019 ditarget meningkat  sebanyak 53 kg/kapita. Agar tercapai, tentu harus diikuti keseriusan untuk meningkatkan produksi ikannya guna memperkuat ketahanan pangan nasional. saya rasa langkah pemda Kotim sudah tepat. Untuk itu Kotim saya rasa sangat pas menjadi sentra pengembangan Patin Nasional," papar Slamet.

Wakil Bupati Kotim, M. Taufiq Mukri,   menjelaskan,  komoditas perikanan yang dikembangkan masyarakat Kab. Kotim selain patin adalah nila dan jelawat (air tawar). Sedangkan komoditas air payau adalah udang dan bndeng. Masing-masing komoditas telah ditetapkan kawasan pengembangannya.

"Ada tiga strategi yang kami lakukan dalam mengembangkan perikanan di Kabupaten Kotim. Pertama kami tata kawasannya, ada yang khusus patin, nila dan tambak udang. Kedua pengemabangan dan pelestarian ikan Jelawat yang menjadi ikon Kota Sampit dan ketiga pengembangan ikan introduksi dengan pola budidaya kolam maupun sistem bioflok” papar Mukri.

 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018