
Tempe kacang dari Malang, Jawa Timur
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Tahukah Anda kalau tempe bisa diolah dari kacang-kacangan selain kedelai?Di Malang, Jawa Timur, masyarakat masih terbiasa mengkonsumsi tempe dari bungkil kacang tanah. Bagaimana cara membuatnya?.
Tempe , makanan khas Indonesia yang terbuat dari hasil fermentasi biji kedelai menggunakan ragi. Makanan ini relatif mudah ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, khususnya Jawa, dalam berbagai ragam panganan. Dalam pembuatannya, tempe di masa lalu memiliki banyak variasi tergantung komoditas lokal setempat.
Salah satunya dari kacang tanah atau bungkil kacang tanah yang biasa dikenal oleh masyarakat Malang, Jawa Timur. Di pasar-pasar tradisional kota Malang seperti pasar Merjosari, Kebalen atau Kedungkandang, tempe kacang dijual mulai harga 2 ribu rupiah per balok (ukuran sekitar 5 x 8 x 2 cm).
Tekstur tempe kacang lebih kasar dan kurang padat dibandingkan tempe kedelai. Kalau tidak hati-hati saat memegangnya bisa ambyar. Karena itu, tempe kacang tidak bisa dijadikan bahan tambahan untuk sayur lodeh, atau dijadikan sambal goreng tempe misalnya. Biasanya, tempe kacang disajikan dengan cara digoreng memakai tepung, meskipun kalau digoreng langsung juga bisa dan rasanya juga tak kalah enak.
Mengenai cara pembuatan, tidak ada perbedaan. Hanya saja, penggunaan kacang tanahnya bukan kacang tanah biasa tetapi, bungkil kacang tanah (peanut press cake) merupakan produk hasil ikutan atau ampas hasil penggilingan biji kacang tanah setelah diekstraksi minyaknya
Selain bahan baku, perbedaan lainnya ada pada jenis ragi dan proses fermentasi. Tempe bungkil kacang menggunakan ragi berbentuk kepingan pipih berwarna putih, mirip dengan jenis ragi tape. Ragi tempe bungkil kacang mengandung mikroorganisme yang hampir sama dengan kandungan mikroorganisme di dalam ragi tape.
Proses pembuatan tempe bungkil kacang lebih sederhana dibandingkan membuat tempe kedelai. Bungkil kacang tanah direndam selama 6-10 jam. Selain menggunakan air biasa, proses perendaman bungkil kacang juga menggunakan air hasil perendaman sebelumnya. Tujuannya untuk memicu pengasaman sehingga bakteri fermentasi bisa muncul secara alami.
Setelah direndam, bungkil kacang kemudian ditiriskan selama 1 jam sebelum dikukus selama kurang lebih 2 jam. Setelah ditiriskan hingga dingin, bungkil kacang ditaburi ragi yang sudah dicairkan (proses inokulasi).
Fermentasi tempe bungkil kacang dilakukan secara terbuka tanpa penutup. Fermentasi terbuka (aerobik) dari tempe bungkil kacang untuk memastikan tumbuhnya kapang, karena jenis ragi yang digunakan lebih banyak mengandung khamir. Bungkil kacang yang sudah diinokulasi diletakkan dalam nampan plastik lalu didiamkan selama 36-48 jam. Sedangkan pada tempe kedelai, fermentasi dilakukan dengan menutup kedelai yang sudah diinokulasi.