
Memelihara kucing kini menjadi hobi yang tengah tren di masyarakat
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Memelihara hewan kesayangan, termasuk kucing kini menjadi tren di kalangan masyarakat. Tren tersebut kemudian diikuti pertumbuhan kios pakan hewan dengan segala fasilitasnya seperti hotel pet dan dokter hewan.
Ada banyak pilihan hewan peliharaan yang bisa menjadi pertimbangan. Kucing menjadi salah satu pilihan. Wajah dan tingkahnya yang menggemaskan, serta bulunya yang lembut menjadi banyak orang memutuskan untuk memelihara hewan ini.
Selain itu, kucing juga menjadi salah satu hewan yang banyak jenisnya. Dari mulai yang memiliki bulu lebat, tipis, coraknya yang beragam, warna matanya yang beragam, ukuran yang macam-macam, dan lain sebagainya.
Namun ada anggapan yang kerap muncul dimasyarakat: “memelihara kucing bisa bikil mandul.” Apakah hal tersebut benar adanya? Terkait mitos dan fakta seputar hubungan memelihara kucing dengan kesehatan reproduksi manusia, Dosen Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB University, Dr drh Leni Maylina menepis anggapan tersebut.
Menurutnya, memelihara kucing tidak menyebabkan kemandulan secara langsung. “Isu yang kerap beredar di masyarakat tersebut berkaitan dengan infeksi parasit Toxoplasma gondii, bukan karena kucing itu sendiri,” kata Dr Leni seperti dikutip dari kanal YouTube IPB TV.
Dr. Leni menjelaskan, Toxoplasma gondii merupakan parasit protozoa berukuran sangat kecil. Hanya bisa dilihat di bawah mikroskop. Tidak semua kucing terinfeksi parasit ini. Bahkan, berdasarkan sejumlah penelitian, jumlah kucing yang terinfeksi tergolong sangat kecil.
“Tidak semua kucing bisa terinfeksi Toxoplasma gondii. Banyak penelitian menunjukkan prevalensinya sangat rendah, apalagi pada kucing yang dipelihara di dalam rumah,” ujarnya.
Kucing kata Dr. Leni, dapat terinfeksi toksoplasma, terutama jika memakan daging mentah atau hasil buruan seperti tikus yang telah mengandung kista parasit. Kucing yang terinfeksi dapat mengeluarkan parasit dalam bentuk ookista melalui feses. Namun, ookista tersebut tidak langsung bersifat infektif.
“Ookista yang keluar dari kotoran kucing itu awalnya belum infektif. Perlu waktu sekitar satu sampai lima hari untuk menjadi infektif. Karena itu, membersihkan kotoran kucing setiap hari sangat penting,” katanya.
Namun ia menambahkan, kucing yang sudah pernah terinfeksi umumnya akan membentuk antibodi, sehingga kecil kemungkinan kembali mengeluarkan ookista infektif dikemudian hari.
Nah, untuk memastikan infeksi secara medis, Dr. Leni menyarakan untuk melakukan pemeriksaan melalui feses kucing, meskipun hasilnya tidak selalu akurat. Pemeriksaan lanjutan seperti PCR atau uji imunologi juga dapat dilakukan di fasilitas kesehatan hewan.
Penyakit pada kucing dipengaruhi faktor makanan. Baca halaman selanjutnya.