Monday, 09 February 2026


Merdeka Pangan dan Kemiskinan

21 Aug 2025, 11:02 WIBEditor : Herman

Ilustrasi

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Perayaan Kemerdekaan ke 80 berlangsung meriah di seluruh pelosok tanah air, dengan aneka kegiatan yang menggugah rasa kebangsaan dan kebanggaan sebagai anak negeri.

Tetapi sesudah 80 tahun merdeka terbukti soal pangan adalah yang paling pelik bagi negeri ini. Terbukti bahwa Program dan Anggaran terbesar Pemerintah masih terkait pangan dan pertanian.

Sebutlah subsidi pupuk, bantuan alsintan, pembukaan lahan pertanian baru, bantuan pangan dan sembako sampai dengan MBG. Pangan bisa berkembang liar menjadi issu ekonomi, politik dan sosial.

Bagaimana perkembangannya dalam waktu dekat ke depan? Pidato Presiden Prabowo yang menitikberatkan pada peningkatan kesejahteraan rakyat kecil menunjukkan bahwa kebijakan pangan dan kemiskinan masih menjadi perhatian penting.

Jujur harus diakui, walaupun angka kemiskinan turun, tetapi dengan sedikit saja meningkatkan batas garis kemiskinan, persentase masyarakat miskin melonjak. Kemiskinan terjadi terutama di sektor petanian.

Pembangunan pertanian tidak hanya akan meningkatkan produksi, kualitas produk, pendapatan dan kesejahteraan petani tetapi akan sekaligus berdampak besar terhadap pengentasan kemiskinan nasional.

Kemiskinan juga terkait dengan pendidikan dan kualitas SDM dan lingkaran permasalahan ini terus berlangsung sehingga penangannya harus totalitas, dari semua aspek. Tuntutannya mendesak karena perubahan teknologi semakin memerlukan pengetahuan masyarakat yang mumpuni agar dapat meraih manfaat terbaiknya.

Pekerjaan besar sektor pertanian masih sekitar pangan, produksi, teknologi dan lingkungan. Jadi kita mengamini jika program beberapa tahun ke depan masih fokus ke soal pangan dan pertanian. Karena semua itu berpengaruh terhadap kesiapan sumberdaya manusia kita dalam meraih bonus demografi.

Kejutan terjadi ketika ada kenaikan harga beras pada beberapa bulan terakhir di tengah berita kenaikan produksi padi, sampai perlu intervensi Bulog.

Kondisi pangan/beras 2025 (per Agustus 2025), memang menggembirakan.  Produksi padi 2024 sebesar 53,14 juta ton GKG (turun 1,55?ri capaian tahun  2023). Luas panen 2024 sebesar 10,05 juta ha (turun 1,64%). Tapi produksi beras Januari–Agustus 2025 mencapai 24,97 juta ton (naik 14,09% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya-yoy).

BMKG memprakirakan La Niña lemah hingga awal 2025 lalu netral, musim kemarau 2025 lebih singkat dan umumnya menguntungkan untuk tanaman padi.  FAO/GIEWS memprakirakan produksi padi Indonesia 2025 sekitar 55,6 juta ton (GKG), sedikit di atas rata-rata.” Dengan konversi standar ke beras (0,62), ini menyiratkan kisaran 34–35 juta ton beras jika kondisi iklim dan  tanam terjaga.

OECD-FAO Outlook 2025-2034 memperkiraakan produksi pangan Indonesia tumbuh sekitar 1,3% per tahun jangka menengah, seiring permintaan domestik terutama dari perbaikan hasil intensifikasi (irigasi, varietas, mekanisasi, manajemen input) yang dianggap lebih kredibel untuk menambah output berkelanjutan.

Merdeka Pangan memerlukan pertanian yang terus berperan penting dan meningkat dalam perekonomian nasional, yang menjamin ketersedian pangan melalui pertanian yang berkelanjutan di tengah tantangan perubahan alam yang sedang terjadi saat ini.

Reporter : Memed Gunawan
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018