Monday, 23 May 2022


Transformasi Produk, PTPN Kenalkan Gula dan Migor Nusakita

17 Aug 2021, 16:49 WIBEditor : Yulianto

Peluncuran produk minyak goreng dan gula Nusakita oleh Menteri BUMN, Erick Tohir | Sumber Foto:Julian

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) mulai merambah masuk ke produki hilir lebih luas dengan diperkenalkan brand Nusakita untuk produk minyak goreng dan gula konsumsi. Peluncuran ini menjadi bentuk transformasi perusahaan plat merah yang selama ini lebih banyak bermain di bagian hulu.

Peluncuran dilakukan Menteri BUMN, Erick Thohir yang didampingi Dirut PTPN Holding, Abdul Ghani dan Direktur Pemasaran PTPN Holding, Dwi Suntoro bertepatan pada Dirgahayu RI ke-76, Selasa (17/8). “Kita akui selama ini PTPN up and down. Ini dapat merusak jika tidak diiringi transformasi human capital. Sejak awal perubahan, manajemen adalah kuncinya. Tidak ada artinya PTPN menjadi menara ganding, tapi justru petani miskin,” katanya.

Erick Thohir menegaskan, ke depan PTPN menjadi lokomotif industri pangan. Untuk itu bisnis model bagi perusahaan negara bidang perkebunan menjadi penting agar bisa sustainable (berkelanjutan).  Ke depan ia berharap, industri sawit dan gula milik PTPN menjadi penyeimbang pasar.

“Yang membedakan adalah PTPN mendapat penugasan dari pemerintah untuk kegiatan publik service. Ini beda swasta dan BUMN. Kalau PTPN rubuh, tidak ada lagi penyeimbang pasar,” tegasnya.

Khusus untuk produksi gula, Erick Thohir mengatakan, sesuai pesan Presiden Joko Widodo, dalam 5-6 tahun mendatang, Indonesia tidak lagi menjadi negara importir gula konsumsi. Bahkan mampu menjadi negara yang swasembada gula.

“Swasembada gula konsumsi kita lakukan ke depan. Ini kita harus jalankan. Kita pastikan akan mengurangi impor gula. Saya tidak anti impor dan swasta, tapi kita perbaik role game-nya,” katanya.

Hal lain yang Erick Thohir pesankan adalah bagaimana PTPN bisa melakukan reposisi produk. Namun demikian, PTPN harus menggalang petani agar pendapatan petani meningkat. Sebab, hal ini bagian dari restrukturisi PTPN secara keseluruhan.

“Dengan merek Nusakita dari Bumi Sendiri, sudah seyogyakan kita bangun brand lokal, balance market dan  bagian dari trasnformasi. BUMN harus go global, stronge brand dan miliki brand image,” tuturnya.

Perluas Market

Sementara itu, Direktur Utama PTPN Holding, Abdul Ghani mengatakan, sebenranya PTPN sudah cukup lama bermain dibidang gula dan sawit. Bahkan, PTPN merupakan pionernya dengan adanya pabrik minyak makan pertama di dunia yang berada di Serdang Bedagai. “Sudah ada brand kecil, tapi ke depan kita harus bekerja dalam prespektif nasional. Kita harus go global,” katanya.

Untuk produk minyak makan sudah ada pabrik yang berdiri sejak 3 tahun lalu di Sumatera Utara dengan kapasitas 550 ribu ton. Produksi minyak makan sudah berjalan, meski masih sebatas pasar di wilayah Sumatera Utara. “Secara bertahap produksinya akan kita terus tingkatkan, targetnya bisa mencapai 240-250 ribu ton atau 6 persen dari pasar,” ungkapnya.

Sedangkan untuk produksi gula, Abdul Ghani mengakui, saat ini Indonesia menjadi importir terbesar. Ke depan pihaknya akan membenahi organsiasi PTPN gula, menambah luas areal penanaman tebu. Sata ini luas areal hanya 20 ribu ha di Jawa, targetnya seluruh Indonesia akan mencapai 85 ribu ha dengan bekerjasama dengan Perhutani dan petani.

Selain menambah luas areal, Abdul Ghani menambahkan, PTPN Holding juga akan memperbaiki pabrik, bangun pembibitan tebu, perbaiki cara penanaman dan pemeliharaan tebu, serta perbaikan pasca panen.

“Target kami, petani sejahtera, PTPN kuta, kurangi impor, masyarakat juga dapat harga gula lebih murah. Swasembaga gula konsumsi bisa terwujud. Ini  tidak susah, tiketnya ada di PTPN,” tegasnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018