Senin, 22 April 2019


Ekspor Daun Ketapang untuk Cupang

25 Mar 2019, 06:19 WIBEditor : Gesha

Daun ketapang ternyata diminati pasar luar negeri | Sumber Foto:HUMAS BARANTAN

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Banyumas ---  Daun yang berasal dari pohon ketapang atau Terminalia catappa biasanya jatuh dan menjadi sampah. Bahkan dibakar untuk membersihkannya. Namun, di Banyumas, sampah itu bisa diubah menjadi pundi-pundi rupiah.

Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan) Ali Jamil saat di Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah sampaikan, bahwa komoditas daun ketapang termasuk unik, tapi ini bisa menjadi potensi yang tersembunyi.

Hal ini dibuktikan Raeza Praditya Heryantoro, petani muda ini dapat menangkap potensi tersembunyi ini. Daun dibersihkan dan disiapkan untuk dikirim ke mancanegara seperti Kanada dan Amerika.

"Kalau orang lain mengikuti jejak Raeza, bukan berarti nanti keuntungan Raeza jadi berkurang, justru ini memacu untuk terus bertumbuh, rizki tidak akan tertukar," jelas Kepala Barantan saat lepas ekspor kayu olahan di Kabupaten Banyumas, Sabtu (23/3).

Daun ketapang yang diekspor tersebut ternyata digunakan dalam budidaya ikan cupang. Diantaranya untuk menstabil pH, membuat warna air menjadi sesuai habitat ikan cupang dan bisa mencegah jamur dan bakteri.

Menurut Raeza, ia hanya memunguti daun ketapang yang jatuh, kemudian dibersihkan dan dipersiapkan untuk ekspor.

Sedangkan harga jualnya dapat mencapai Rp 1 juta per kg. "Kalau biaya karantina kita atau PNBP nya cuma Rp 5.002 per kilonya," imbuh Jamil.

Dalam kesempatan tersebut Kementerian Pertanian (Kementan) bersama pemerintah Kabupaten Banyumas bersinergi juga melepas ekspor 57.672 meter kubik kayu olahan berupa barecore senilai Rp 7,9 miliar tujuan Tiongkok dan gula organik sejumlah 21 ton, senilai Rp 677,76 juta dengan tujuan Rusia dan Brasil (total ekspor Rp 8,58 miliar).

Kementan lewat Badan Karantina Pertanian (Barantan) ikut mendukung akselerasi ekspor di daerah lewat jaminan kesehatan terhadap produk yang diekspor agar sesuai dengan persyaratan sanitary dan phytosanitary (SPS) negara tujuan.

"Secara konsisten, kita mendorong pertumbuhan ekspor non migas di setiap daerah khususnya produk pertanian, nggak cuma menjamin kesehatan tapi kita juga berikan pelatihan bagi mereka yang ingin menjadi eksportir lewat program Agro Gemilang," jelasnya.

Menurut Jamil, data ekspor komoditas pertanian tahun 2018 yang tercatat di Barantan dan dilalulintaskan lewat Bandara Tunggul Wulung, Pelabuhan Tanjung Intan, dan Kantor Pos Besar Purwokerto mencatat berbagai komoditas unggulan dari empat kabupaten yang menjadi wilayah layanannya yaitu Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purworejo, dan Kebumen.

Diantara komoditas tersebut antara lain produk kayu yang ekspornya mencapai 959.945,21 m3 atau senilai Rp 2,98 triliun, daun ketapang sebanyak 55,37 kg seharga Rp 55,37 juta rupiah dan gula merah sebesar 892,88 ton, yang bernilai Rp 35,7 miliar.

Menurut Jamil, potensi tersebut tentu masih sangat bisa dinaikkan, tentu harus dibarengi kerjasama yang apik antara pemerintan, dinas terkait dan para pengusaha di daerah. "Barantan mendorong lewat serrifikasi dan program Agro Gemilang," tuturnya.

Kepala Stasiun Karantina Pertanian Kelas I Cilacap, Puji Hartono merinci bahwa rata-rata tujuan ekspor komoditas tersebut adalah Tiongkok, Jepang, Malaysia, Vietnam, Australia, India, Mesir, Algeria, Belanda, Inggris, Amerika, Ekuador dan Kanada.

Sedangkan pada awal tahun ini, ekspor yang dikirim dari tiga wilayah kerja Karantina Pertanian Cilacap tercatat sudah mengeskpor total 46.511,680 meter kubik kayu olahan senilai Rp 144,4 miliar, gula merah sebanyak 70,25 ton bernilai Rp 2,8 miliar, dan ekspor daun ketapang sebanyak 19,5 kg senilai Rp 19,5 juta.

"Karantina Cilacap siap memberikan pelayanan sertifikasi kesehatan, dan juga bimbingan pelatihan pada calon eksportir baru di Kabupaten Banyumas dan sekitarnya lewat program Agro Gemilang 2019," ungkap Puji.

Achmad Husein, Bupati Banyumas yang turut melepas ekspor kayu olahan tersebut sangat bangga, bahwa banyak potensi non migas di bidang pertanian di daerahnya yang masih bisa dikembangkan.

Ia berharap, selepas acara tersebut, para ekportir dan pengusaha lebih giat dan bersemangat lagi memasarkan produk pertanian dan perkebunan khususnya  dari wilayah Banyumas dan umumnya dari Jawa Tengah ke manca negara.

Husein ingin, ekspor dari Kabupaten Banyumas khususnya menjadi penanda bahwa daerahnya memiliki peran yang sangat strategis dalam menambah devisa negara sehingga secara tidak langsung akan menguatkan dan menggerakan pertumbuhan ekonomi khususnya di wilayah Jawa Tengah bagian Selatan-Barat.

Dalam sambutannya ia menyampaikan bahwa para eksportir tidak perlu khawatir, ia selaku bupati, siap mendukung dengan segala daya dan upaya demi memajukan Kabupaten Banyumas, khususnya di sektor pertanian dan perkebunan. 

Reporter : Tiara
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018