Thursday, 06 August 2020


16 Kabupaten Jadi Lokasi Pertanian Cerdas Iklim

19 Sep 2019, 18:10 WIBEditor : Yulianto

Kepala BPPSDMP, dedi Nursyamsi saat membuka launching SIMURP | Sumber Foto:julian

Kegiatan CSA bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, mengajarkan petani dan penyuluh pertanian budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim

TABLOIDSINARTANI.COM, Depok---Kementerian Pertanian melalui Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) menetapkan 15 daerah di 16 kabupaten pada delapan provinsi menjadi lokasi proyek SIMURP (Strategic Irrigation Modernisasi on and Urgent Rehabilitation Project). Dengan adanya proyek ini daerah bisa melakukan pertanian yang cerdas iklim.

Dari 15 daerah tersebut berlokasi di 13 daerah irigasi dan dua daerah rawa. Ke-15 daerah itu berada di delapan provinsi yakni Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat.

Dari delapan provinsi itu berlokasi di 16 kabupaten yaitu Serdang Bedagai, Deli Serdang, Banyuasin, Indramayu, Cirebon, Karawang, Subang, Purworejo, Purbalingga, Banjarnegara, Jember, Katingan, Bone, Takalar, Pangkajene Kepulauan, dan Lombok Tengah.

Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyamsi mengatakan, dalam kegiatan SIMURP ini, pihaknya fokus dalam kegiatan CSA (Climate Smart Agriculture) atau Pertanian Cerdas Iklim. Kegiatan CSA bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, mengajarkan petani dan penyuluh pertanian budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim.

Selain, mengurangi resiko gagal panen, mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK), serta meningkatkan pendapatan petani, khususnya di daerah irigasi proyek SIMURP. "Dengan perbaikan irigasi akan meningkatkan produktivitas pertanian persatuan waktu. Dalam arti indeks pertanaman yang semula hanya 100, bisa naik jadi 200, bahkan 300," katanya di sela-sela Launching Proyek SIMURP di Depok, Kamis (19/9).

Dengan adanya perbaikan irigasi, Dedi mengatakan, juga akan ada peninhkayan produktivitas persatuan luas. Dalam hal ini produktivitas tanaman yang sebelumnya hanya 4-5 ton/ha naik menjadi 7-8 ton/ha, karena terjamin kecukupan air untuk tanaman.

Dalam proyek SIMURP lanjut Dedi, juga akan memasukkan inovasi teknologi. Khususnya teknologi dalam menghadapi perubahan iklim dengan kegiatan CSA. Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian telah memperkenalkan teknologi budidaya untuk adaptasi perubahan iklim. Misalnya, benih padi berumur genjah tahan kekeringan, teknologi budidaya Jarwo super, pemupukan berimbang  dan hemat dan teknologi hemat air lainnya.

"Kita ketahui semua, perubahan iklim menyebabkan El Nino dan La Nina berkepanjangan. Kita rasakan jika sebelumnya La Nina berlangsung 10 tahun sekali, sekarang bisa 3 tahun sekali. Musim kemarau juga kita rasakan lebih panjang," ungkapnya.

Faktor SDM
Hal lain yang penting lagi dalam proyek SIMURP menurut Dedi adalah faktor SDM pertanian, baik penyuluh, petani dan stakeholder pertanian lainnya. Diharapkan ke depan dengan adanya perbaikan irigasi, petani juga bisa merawat  jaringan irigasi agar bisa berumur lebih lama.

"Kegiatan dalam SIMURP ini menggarap tiga faktor tersebut.  Infrastukturnya, inovasi dan SDM pertanian, termasuk petani sebagai pelaksana pertanian. Jadi tujuan SIMURP tidak lepas dari tiga komponen itu yang akan meningkatkan produktivitas pertanian," tuturnya.

Dedi mengatakan, SIMURP merupakan proyek yang bersumber dari Loan Agreement antara Pemerintah Indonesia dengan World Bank dan Asian Infrastructur Bank (AIIB). Dalam pengelolaannya dilakukan lintas kementerian dan lembaga yakni Bappenas, Kementrian PUPR, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pertanian.

Tujuan dari proyek SIMURP adalah optimalisasi dan modernisasi layanan sistem irigasi yang efektif, efisien dan berkelanjutan. Target luas arealnya sekitar 276.000 ha di delapan provinsi.

Sementara itu Kepala Pusat Penyuluhan, BPPSDMP, Leli Nuryati mengatakan, proyek SIMURP ini tidak lepas dari  upaya pemerintah dalam mitigasi  perubahan iklim global yang berdampak nyata pada pertanian. Misalnya adanya kenaikan suhu udara dan pola hujan yang makin tidak menentu. "Perubahan itu mempengaruhi budidaya dan teknologi terapan pertanian," katanya.

Proyek SIMURP ini akan dimulai tahun 2019 hingga 2024. Tahun ini akan dimulai pelaksanaan Training of Master bagi petugas yang berasal dari berbagai profesi antara lain disebabkan dari Polbangtan, Widyaiswara, penyuluh pertanian provinsi dan pusat.

Sedangkan tahun 2020, kegiatan akan dilanjutkan yakni training of trainer (TOT), training of Farmer teknologi berbasis CSA, dukungan penerapan teknologi CSA Padi dan non padi. "Kita juga akan melakukan penguatan Balai Penyuluh Pertanian berbasis CSA dan pengembangan produk dan jejaring pasar," katanya.

Reporter : TABLOID SINAR TANI
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018