Saturday, 23 October 2021


inilah Lima Fintech Daring Pembiayaan Pertanian, Apa Saja?  

03 Mar 2021, 13:12 WIBEditor : Yulianto

Petani hortikultura di Lembang | Sumber Foto:Dok. Sinta

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Petani dan pelaku usaha tani menghadapi tantangan berat di era pandemi Covid-19 dalam setahun terakhir ini. Keadaan tersebut mengakibatkan pendapatan sebagian petani menurun drastis. Padahal petani perlu modal agar bisa bertahan dan meneruskan usahanya sampai kondisi harga membaik.

Ada banyak solusi yang bisa dimanfaatkan petani mengatasi masalah pembiayaan usaha tani. Pemerintah melalui Bank BUMN menyediakan dana puluhan triliun rupiah melalui program KUR berbunga rendah. Di lain pihak pegadaian, salah satu BUMN milik pemerintah juga menyediakan skema pembiayaan ultra mikro, khusus petani dengan model gadai. Nilai pinjamannya fleksibel dan jangka waktu pembayaran yang bisa diatur petani.

Di sisi lain, sekarang ada beberapa lembaga keuangan non bank yang juga bergerak di bidang pembiayaan pertanian. Lembaga yang dikenal dengan fintech ini mulai berkembang dan membidik sektor pertanian yang dianggap punya potensi yang sangat besar kebutuhan pendanaannya.

Cara kerja lembaga fintech ini ialah dengan menghimpun dana dari masyarakat untuk membiayai proyek-proyek pertanian yang melibatkan petani dan kelompok tani skala kecil dan menengah. Beberapa fintech pembiayaan yang bisa diakses oleh petani melalui daring antara lain;

Crowde

Platform ini lahir pada 2015 lalu dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia. Crowde menghimpun dana dari masyarakat sebagai modal kerja petani. Hasil proyek petani tersebut nantinya akan dikembalikan kepada masyarakat bersama imbal hasilnya yang telah meminjamkan modalnya.

Ada banyak proyek pertanian yang bisa terlibat didalamnya untuk jangka waktu tertentu. Tak hanya proyek berkebun atau berternak, bagi yang memiliki modal bisa sebagai investor yang terlibat dalam supply hingga distribusi hasil kerja petani.

Sederhananya, investor akan menyetor sejumlah uang minimal Rp10 juta kepada Crowde. Uang tersebut nantinya untuk mengerjakan proyek pertanian mulai dari sayuran, buah-buahan hingga produk peternakan. Nanti akan ada bagi hasil antara investor, petani dan pihak Crowde dari proyek yang dimodali tersebut.

Tanifund

Platform satu ini merupakan anak usaha dari TaniHub, sebuah marketplace produk pertanian. Cara kerja TaniHub adalah menampung hasil budi daya para petani untuk didistribusikan kepada konsumen sehingga memutus mata rantai para tengkulak.

Sementara TaniFund dibangun untuk memberikan pembiayaan terhadap petani yang berasal dari masyarakat atau investor. Bagi yang memiliki modal bisa menjadi salah satu investor. Nantinya dana itu digunakan untuk proyek budidaya sayuran, buah-buahan, umbi-umbian hingga perikanan.

Para investor akan mendapat informasi perkembangan terbaru dari kebun atau lahan yang sedang dikerjakan petani mitra TaniFund. Begitu juga dengan keuntungan yang nantinya para investor akan memperoleh imbal hasil yang telah disepakati.

Vestifarm

Mulai berdiri pada 2017, platform investasi online di bidang pertanian satu ini sudah mengumpulkan dana masyarakat atau dari para investor hingga lebih dari Rp21 miliar. Vestifarm mengajak para investor sama-sama membantu petani mengerjakan proyek budidaya mulai dari padi, bawang, udang hingga penggemukan sapi potong. Hingga saat ini sudah lebih dari 350 kalangan petani, peternak, dan penambak di seluruh Indonesia telah memperoleh pembiayaan melalui Vestifarm.

Kalau tertarik menjadi salah satu investor untuk menggandakan uang, bisa langsung terlibat menjadi salah satu pemodal di Vestifarm. Hingga kini sudah lebih dari 1.710 investor yang terlibat dalam proyek pertanian yang dikelola Vestfarm. Imbal hasil yang bisa kamu terima bisa sampai 18 persen.

iGrow

Beralamat kantor di Depok, iGrow sebagai salah satu platform pembiayaan pertanian hingga saat ini telah lebih mengumpulkan sekitar 3.000 investor, 1.200 petani, dan 800 ha lahan pertanian bersama mitra petani.

iGrow mengajak pemilik uang yang tidak mempunyai kemampuan bertani dan lahan pertanian, tetapi ingin terlibat dalam proyek pertanian. Begitu juga bagi petani yang punya kemampuan dan lahan, tetapi tidak punya modal untuk mengembangkan dan membudidayakan lahannya. Disinilah keduanya bisa saling melengkapi satu sama lain.

Beberapa proyek yang tengah dikerjakan iGrow bersama mitra petani antara lain pengerjaan kampung teknologi perikanan ikan patin, ayam petelur, budidaya komoditas jagung, hingga budi daya tebu. Semua pengerjaan proyek ini membutuhkan permodalan dari para investor yang hasilnya akan dibagi sesuai kesepakatan.

Tanijoy

Sama seperti platform-platform sebelumnya, Tanijoy juga menghimpun dana dari masyarakat untuk membantu petani membudidayakan proyek pertanian mulai dari komoditas kentang, jamur, wortel, brokoli, tomat hingga jagung. Hingga kini sudah lebih dari 500 hektare lahan telah dikelola, dari 1.900 petani, 35.000 pohon yang ditanam dari 112 proyek yang dijalankan.

Perbedaan Tanijoy dengan platform lainnya adalah pada skema pembiayaan. Saat ini Tanijoy melaksanakan skema bisnis secara syariah. Dengan prinsip syariah maka akan tercipta pembagian keuntungan yang adil bagi Tanijoy, petani mitra, mitra lahan, dan Investor.

Tanijoy mengawasi semua proses budidaya hingga pasca panen secara langsung melalui Field Manager. Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor pertanian, konsep syariah yang ditawarkan Tanijoy dinilai lebih adil. Hal ini karena investor, petani, dan pengelola merasakan resiko yang sama. Dengan begitu semua pihak akan menanggung resiko kerugian secara seimbang sedangkan di dalam skema konvensional tidak.

 

Reporter : Iqbal
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018