Wednesday, 15 April 2026


Program Prioritas 2025, Benih Padi 2025 Sudah Siap Tebar!

01 Oct 2025, 15:02 WIBEditor : Gesha

Program prioritas Kementan 2025 dipastikan aman. Stok benih padi 87 ribu ton siap ditebar untuk 2,6 juta hektare lahan, kawal musim tanam Okmar agar petani panen berlimpah.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Program prioritas Kementan 2025 dipastikan aman. Stok benih padi 87 ribu ton siap ditebar untuk 2,6 juta hektare lahan, kawal musim tanam Okmar agar petani panen berlimpah.

Musim tanam Oktober–Maret (Okmar) 2025 bakal jadi ujian penting bagi sektor pangan Indonesia.

Di tengah tantangan iklim dan kebutuhan beras yang terus meningkat, Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan satu hal yakni stok benih padi nasional aman dan sudah siap ditebar.

Direktur Perbenihan Tanaman Pangan, Ladiyani Retno Widowati, menegaskan, benih menjadi kunci dari suksesnya program prioritas Kementan 2025.

“Penyediaan benih bukan hanya soal jumlah. Lebih penting adalah ketepatan varietas sesuai kebutuhan agroekologi di setiap daerah. Dengan begitu, petani bisa panen optimal,” ujarnya dalam webinar Kesiapan Sarana Produksi Pertanian Menyambut Musim Tanam Okmar yang digelar Tabloid Sinar Tani bersama PT Pupuk Indonesia di Jakarta, Selasa (30/9).

Kementan memetakan kebutuhan benih berdasarkan program prioritas nasional.

Dari Optimalisasi Lahan (OPLA), cetak sawah baru, padi gogo, hingga pompanisasi tadah hujan, semuanya dipersiapkan secara detail.

OPLA 2024: 351.000 hektare, kebutuhan 14.040 ton benih.

OPLA 2025: 500.000 hektare, kebutuhan 20.000 ton benih.

Cetak Sawah Baru 2025: 225.000 hektare, kebutuhan 30.000 ton benih.

Padi Gogo: 300.000 hektare, kebutuhan 12.000 ton benih.

Pompanisasi Tadah Hujan: 500.000 hektare, kebutuhan 12.500 ton benih.

Program PUPR: 300.000 hektare, kebutuhan 7.500 ton benih.

Biofortifikasi: 50.000 hektare, kebutuhan 1.250 ton benih.

Peningkatan Produktivitas: 450.000 hektare, kebutuhan 11.250 ton benih.

Totalnya mencapai 2,67 juta hektare lahan dengan kebutuhan 87.540 ton benih padi.

Angka ini dipastikan tercukupi melalui stok nasional dan produksi insitu di daerah.

Strategi 

Strategi yang ditempuh Kementan difokuskan pada penguatan ekosistem perbenihan agar setiap daerah tidak lagi bergantung pada suplai dari luar.

Produksi benih dilakukan secara insitu, sehingga daerah memiliki kemandirian sekaligus jaminan pasokan yang lebih stabil.

Menurut Ladiyani, langkah awal yang dilakukan adalah mengidentifikasi stok benih eksisting di seluruh provinsi untuk memastikan distribusi berjalan tepat sasaran.

Selain itu, pemerintah juga memberikan prioritas pada penggunaan varietas unggul baru yang adaptif terhadap perubahan iklim dan tahan terhadap hama penyakit, seperti Inpari 32 HDB dan Inpari 42 Agritan GSR.

Kehadiran varietas tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

Tidak hanya itu, Kementan juga mendorong pelaksanaan Program MANTAP, yakni upaya menumbuhkan produsen benih baru di wilayah non-sentra perbenihan.

Program ini diproyeksikan menjadi stimulus lahirnya produsen benih lokal yang mampu menyuplai kebutuhan di daerahnya masing-masing.

Guna menjamin kualitas, pemerintah memperkenalkan mekanisme uji cepat mutu benih atau RE test, sehingga proses sertifikasi dan pengecekan mutu dapat dilakukan lebih singkat namun tetap akurat.

Di sisi lain, pemanfaatan varietas lokal bersertifikat, seperti Pandan Wangi dan Cianjur, juga terus digencarkan agar petani memiliki alternatif pilihan yang sesuai dengan karakter agroekologi setempat.

Ladiyani menambahkan, Kementan juga telah menyiapkan langkah-langkah antisipatif agar distribusi benih tidak mengalami kendala di lapangan.

Salah satunya melalui penerapan regulasi yang lebih tegas, di mana seluruh benih yang beredar, baik melalui pasar bebas maupun bantuan pemerintah, diwajibkan merupakan benih berkelas BR atau Benih Resmi.

Dengan cara ini, kualitas benih yang sampai ke tangan petani dapat lebih terjamin.

Selain itu, Balai Benih di tingkat provinsi diberikan kewenangan khusus untuk memproduksi benih sumber (BS), sehingga ketersediaan benih tidak lagi menunggu suplai dari pusat.

Kementan juga secara aktif melakukan sosialisasi dan pembinaan kepada petani agar semakin terbiasa menggunakan benih unggul bersertifikat.

Dengan stok nasional yang sudah menembus 48 ribu ton hingga September 2025, Kementan optimistis program prioritas benih padi tahun depan akan berjalan mulus.

Musim tanam Okmar pun diyakini mampu menghasilkan panen berlimpah, yang pada akhirnya akan memperkokoh ketahanan pangan Indonesia di tengah tantangan global yang semakin dinamis.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018