
Kementan siapkan strategi jitu tata kelola benih padi. Stok 48 ribu ton disiapkan demi kawal musim tanam Okmar 2025, pastikan varietas tepat sasaran dan panen melimpah.
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Kementan siapkan strategi jitu tata kelola benih padi. Stok 48 ribu ton disiapkan demi kawal musim tanam Okmar 2025, pastikan varietas tepat sasaran dan panen melimpah.
Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat tata kelola perbenihan padi nasional sebagai upaya menjamin ketersediaan benih unggul bermutu bagi petani.
Melalui sinergi antara Direktorat Perbenihan Tanaman Pangan dengan Direktorat Serealia, Kementan memastikan rantai penyediaan benih berjalan lebih terintegrasi, mulai dari perencanaan, produksi, distribusi hingga pengawasan.
Dalam Webinar Kesiapan Sarana Produksi Pertanian Menyambut Musim Tanam Okmar yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bersama PT Pupuk Indonesia di Jakarta, Selasa (30/9), Direktur Perbenihan Tanaman Pangan Ladiyani Retno Widowati menjelaskan bahwa perbenihan padi kini dikelola melalui proses bisnis yang lebih transparan dan sistematis.
“Mulai dari identifikasi kebutuhan benih, perencanaan tanam, produksi, sertifikasi, hingga distribusi, semua tahapan kami kawal agar petani benar-benar mendapatkan benih yang tepat varietas, tepat mutu, dan tepat waktu,” ujar Ladiyani.
Dalam penyediaan benih tahun 2025, Kementan membagi dua skema utama: program dan non program.
Untuk program, ada dukungan OPLA dan CSR dengan target lahan sekitar 3 juta hektare, sementara skema non program mencakup LTT reguler seluas 17 juta hektare.
Proses dimulai dari identifikasi kebutuhan benih di tingkat daerah, yang kemudian diverifikasi dan ditetapkan melalui SK CPCL.
Setelah itu, dilakukan kontrak dengan penyedia, distribusi, hingga monitoring dan evaluasi.
Setiap tahapan ini diawasi ketat agar tidak ada benih yang tertahan, tidak sesuai varietas, atau terlambat sampai ke petani.
Tata Kelola Produksi dan Distribusi
Skema tata kelola perbenihan padi melibatkan berbagai pihak, mulai dari BRMP provinsi, BBI/BBU, produsen benih, hingga penangkar.
Produksi benih sumber dilakukan baik di Balai Benih maupun secara in situ.
Setelah melalui sertifikasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB), benih siap diproduksi massal untuk benih sebar.
Benih tersebut kemudian didistribusikan melalui jaringan distributor, toko, maupun penyaluran langsung.
Pengujian mutu dan pelabelan ulang juga diterapkan untuk menjaga standar kualitas benih yang beredar di pasar.
“Seluruh rantai pasok benih kami pastikan diawasi ketat. Tidak hanya soal jumlah, tetapi juga kualitas dan kesesuaian varietas dengan kondisi lahan masing-masing daerah,” tegas Ladiyani.
Fokus VUB
Kementan juga menekankan peningkatan penggunaan Varietas Unggul Baru (VUB) lebih dari 65 persen di seluruh wilayah. VUB dinilai mampu meningkatkan produktivitas hingga 0,5 ton per hektare.
Di sisi lain, area dengan skema pasar bebas (free market) tetap diberikan keleluasaan tanpa intervensi bantuan benih.
Hal ini bertujuan untuk mendorong dinamika pasar sekaligus memberi ruang bagi petani memilih varietas sesuai preferensi.
Dengan strategi perbenihan yang lebih solid, Ladiyani optimistis musim tanam Oktober–Maret (Okmar) 2025 berjalan lancar.
Pemerintah daerah bersama penangkar benih didorong untuk lebih aktif dalam memastikan distribusi berjalan tepat sasaran.
“Intinya, benih adalah kunci keberhasilan produksi. Dengan tata kelola yang baik, kita bisa jaga ketersediaan, menjaga mutu, sekaligus mendukung target swasembada pangan,” pungkasnya.