Jumat, 06 Desember 2019


Budidaya Udang Berbasis Lingkungan Menjadi Tumpuan Ekspor Perikanan

03 Des 2019, 16:59 WIBEditor : GESHA

KKP kembali menggenjot produksi udang, namun kali ini berbasis lingkungan | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Udang (vaname) masih menjadi salah satu komoditas unggulan ekspor Indonesia.  Pada tahun 2018, komoditas udang menyumbang devisa sebesar USD 1,27 miliar atau 36,96 persen dari total nilai ekspor perikanan. Sedangkan  dari volumenya, udang hanya menyumbang 18,35 persen dari keseluruhan volume ekspor komoditas perikanan.

Guna meningkatkan target ekspor udang sebanyak 250% hingga tahun 2024 mendatang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus melakukan percepatan budidaya udang di masyarakat. “Untuk mendukung program tersebut, Menteri Kelautan dan Perikanan telah meminta kepada saya untuk meningkatkan produksi udang dari tambak mulai dari yang tradisional dengan melakukan transfer teknologi kepada pembudidaya,” kata Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam sambutannya pada acara pelatihan bisnis budidaya udang vaname skala ekspor berbasis teknologi, di Jakarta, pekan lalu.

Selain menggunakan teknologi, lanjut Slamet, KKP mendorong pembudidaya udang menerapkan SOP yang benar. “Seperti, sumber induk, sistem pembenihan, pengelolaan lingkungan hingga penanganan penyakit merupakan hal esensial yang harus diperhatikan dan diterapkan oleh pembudidaya,” ujar  Slamet.

Slamet optimistis, dengan mengaplikasi peta jalan yang telah ditetapkan Ditjen Perikanan Budidaya, target peningkatan ekspor udang hingga 250% sampai 2024, kurun lima waktu ke depan bisa tercapai. “Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah investor, teknologi serta kecakapan pembudidaya dalam melakukan bisnis budidaya udang telah menunjukkan peningkatan yang menggembirakan,” ujarnya.

Slamet mengakui,  keberhasilan program budidaya udang yang berkelanjutan ini tidak dapat dipisahkan dari peran serta berbagai pihak. Karena itu,  sinergitas lintas sektor terutama dari sisi makro seperti dukungan dan kebijakan pemerintah daerah serta ketersediaan listrik dan BBM sangat penting dalam pengembangan budidaya udang. “Sedangkan dari sisi mikro seperti kualitas benih dan pakan, penyiapan wadah budidaya, optimaslisasi sarana produksi, hingga SDM yang mumpuni menjadi faktor yang menentukan keberhasilan dan keberlanjutan usaha,” kata Slamet.

Guna mendorong budidaya udang di masyarakat, KKP selama ini telah melakukan terobosan dengan sejumlah program seperti  Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP), bantuan alat berat, bantuan benih, Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil, dan penataan kawasan Budidaya Udang Berbasis Klasterisasi.

Slamet mengatakan, KKP juga bekerjasama dengan Pemda Kabupaten Mamuju Utara (kini Kabupaten Pasangkayu) membangun tambak udang semi intensif bebasis klaster sebanyak 2 klaster seluas 8 hektar (ha) di Desa Sarjo, Kecamatan Sarjo. Hasilnya, produktivitas meningkat dari 50-200 kg/ha menjadi 5.000-10.000 kg/ha. S

Selain itu ada pengembangan klaster kawasan budidaya udang  berkelanjutan di empat  Kabupaten wilayah utara,  yakni Kabupaten Buol (Sulawesi Tengah), Gorontalo Utara (Gorontalo), Bone Bolango (Gorontalo), dan Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) yang telah dituangkan dalam nota kesepahaman sebagai bentuk komitmen bersama.  “Sebagai diversifikasi komoditas, KKP juga telah mendorong pengembangan udang asli Indonesia seperti udang Jerbung (Penaeus merguensis) dan udang putih (Panaeus indicus) yang akan dimasyarakatkan lebih luas pada tahun mendatang,” ujarnya.

Budidaya komoditas baru ini telah dilakukan uji multilokasi dengan hasil yang memuaskan dan dengan tingkat penyakit yang dapat dikendalikan hingga saat ini.  “Tentunya komoditas ini akan dimasyarakatkan dengan menganut sistem budidaya yang berbasis lingkungan serta berkelanjutan," ujar Slamet.

 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018