
DKP3 Cirebon membuktikan budidaya udang vaname bisa dilakukan di perkotaan, bahkan di pekarangan rumah, dengan sistem bioflok salinitas rendah yang efisien dan cepat panen.
TABLOIDSINARTANI.COM, Cirebon -- DKP3 Cirebon membuktikan budidaya udang vaname bisa dilakukan di perkotaan, bahkan di pekarangan rumah, dengan sistem bioflok salinitas rendah yang efisien dan cepat panen.
Pemerintah Kota Cirebon terus mendorong inovasi di sektor perikanan, terutama di tengah keterbatasan ruang perkotaan. Salah satu terobosan terbaru adalah budidaya udang vaname dengan salinitas rendah, yang memungkinkan udang dibudidayakan tanpa mengandalkan air laut.
Program ini dijalankan oleh Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon sebagai langkah strategis untuk memperluas peluang usaha perikanan di lingkungan perkotaan. Dengan inovasi ini, warga bahkan bisa mencoba membudidayakan udang vaname di pekarangan rumah atau lahan terbatas.
Kepala DKP3 Kota Cirebon, Elmi Masruroh, menjelaskan bahwa budidaya udang vaname salinitas rendah masih dalam tahap uji coba, dengan fokus utama pada pengelolaan kualitas air agar tetap sesuai kebutuhan udang.
“Pengelolaan air menjadi kunci utama. Salinitas harus terus dipantau agar tetap rendah. Saat ini masih dalam tahap uji coba, tetapi potensinya cukup menjanjikan,” ujar Elmi, Senin (19/1/2026).
Menurut Elmi, udang vaname dipilih karena memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan air payau dengan kadar garam rendah. Hal ini membuatnya cocok dibudidayakan di perkotaan, termasuk di lahan terbatas dan lingkungan rumah tangga.
Salah satu keunggulan dari program budidaya ini adalah penggunaan metode bioflok dengan kolam bundar, yang terbukti efektif dan relatif mudah diterapkan. Sistem bioflok ini memanfaatkan mikroorganisme untuk menjaga kualitas air sekaligus menyediakan pakan alami bagi udang, sehingga mengurangi ketergantungan pada pakan komersial.
“Metode bioflok dengan kolam bundar terbukti efektif dan relatif mudah diterapkan. Sistem ini fleksibel dan dapat diterapkan di kawasan perkotaan,” tambah Elmi.
Selain itu, fleksibilitas lokasi menjadi keunggulan utama. Budidaya tidak memerlukan air laut, sehingga memungkinkan penebaran benur dilakukan di pekarangan rumah atau lahan terbatas.
Uji coba budidaya udang vaname salinitas rendah di Kota Cirebon telah berlangsung selama satu tahun dan kini memasuki tahun kedua. Pada tahap sebelumnya, DKP3 berhasil melakukan panen dengan masa pemeliharaan antara 60 hingga 90 hari.
Dalam setiap kolam, jumlah benur yang ditebar berkisar antara 2.000 hingga 3.000 ekor. DKP3 saat ini tengah mempersiapkan penebaran benur sebagai kelanjutan uji coba di tahun kedua, sekaligus mengumpulkan data hasil panen sebelumnya sebagai bahan evaluasi dan pengembangan lebih lanjut.
“Hasil panen sebelumnya masih kami evaluasi dan kumpulkan datanya sebagai bahan pengembangan ke depan,” kata Elmi.
Inovasi ini membuka peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkan budidaya udang vaname di rumah sebagai sumber pendapatan tambahan. Keunggulan sistem salinitas rendah dan bioflok membuatnya hemat air, efisien, dan cocok untuk skala rumah tangga maupun usaha mikro perikanan
“Budidaya ini memungkinkan dilakukan di pekarangan rumah karena tidak membutuhkan air laut. Jadi sangat cocok untuk skala rumah tangga dan usaha kecil.” sebut Elmi.
Selain potensi ekonomi, program ini juga mendukung ketahanan pangan lokal dengan meningkatkan ketersediaan protein hewani dari sektor perikanan di perkotaan.
DKP3 Kota Cirebon berencana untuk memperluas sosialisasi program ini agar masyarakat bisa memanfaatkan peluang usaha perikanan baru. Targetnya adalah memberikan pelatihan dan pendampingan kepada warga yang ingin mencoba budidaya udang vaname salinitas rendah, baik di rumah maupun di lokasi terbatas lainnya.
“Ke depan, program ini akan kami sosialisasikan kepada masyarakat agar bisa dimanfaatkan sebagai peluang usaha,” pungkas Elmi.
Selain itu, DKP3 juga menekankan pentingnya pengelolaan kualitas air dan pemantauan salinitas secara rutin agar budidaya udang vaname tetap produktif dan sehat.
Inovasi ini menunjukkan bahwa budidaya perikanan tidak harus selalu bergantung pada wilayah pesisir. Dengan teknologi dan metode yang tepat, udang vaname bisa dibudidayakan di perkotaan, mendekatkan sumber protein laut ke konsumen, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru.
Pengalaman Cirebon bisa menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia untuk mengembangkan urban aquaculture atau budidaya perikanan perkotaan. Dengan dukungan pemerintah dan pelatihan bagi masyarakat, skema ini berpotensi meningkatkan kesejahteraan warga dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Budidaya udang vaname salinitas rendah di perkotaan membuktikan bahwa inovasi perikanan bisa dilakukan di lingkungan terbatas. Dengan metode bioflok dan pengelolaan kualitas air yang tepat, program ini membuka peluang usaha baru, mendukung ketahanan pangan lokal, dan menjadi inspirasi urban aquaculture di kota-kota lain di Indonesia.
DKP3 Kota Cirebon terus memantau uji coba ini sambil menyiapkan sosialisasi lebih luas agar masyarakat dapat memanfaatkan program budidaya udang vaname di rumah sebagai sumber pendapatan dan alternatif usaha perikanan modern.