Friday, 03 April 2020


Begini Inovasi Akuakultur untuk Antisipasi Lonjakan Kebutuhan Pangan

23 Oct 2018, 12:28 WIBEditor : GESHA

Budidaya Lele Bioflok, salah satu inovasi teknologi akuakultur berbasis mitigasi perubahan iklim berkelanjutan | Sumber Foto:INDARTO

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Perubahan iklim secara tidak langsung mempengaruhi keberlangsungan pangan di Indonesia. Namun di sisi lain, perikanan budidaya (akuakultur) telah banyak dilirik dalam alternatif pemenuhan pangan. 

Kedua hal yang menjadi tantangan tersebut haruslah bisa dipecahkan melalui inovasi teknologi akuakultur berkelanjutan berbasis mitigasi.

Menurut Slamet, inovasi teknologi akuakultur berkelanjutan berbasis mitigasi sangat penting untuk mendorong produktivitas tetap optimal.

“Kalau kita lihat data FAO dan prediksi peran akuakultur ke depan, maka sudah saatnya kita melakukan inovasi teknologi akuakultur berkelanjutan yang berbasis mitigasi perubahan iklim," kata Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, Selasa (23/10).

Slamet memberikan gambaran bahwa berdasarkan data FAO sampai dengan tahun 2021 diperkirakan tingkat konsumsi ikan dunia perkapita mencapai 19,6 kg per tahun dan tahun 2030 diprediksi tingkat konsumsi ikan dunia perkapita sebesar 22,5 ton per tahun.

Nilai ini diperkirakan memacu peningkatan produksi perikanan budidaya sebesar 172 juta ton.

Disisi lain FAO juga mempediksi hingga tahun 2030, kontribusi akuakultur terhadap kebutuhan perikanan dunia diperkirakan akan mencapai 58%. 

Hingga tahun 2019, pemerintah memproyeksikan tingkat konsumsi ikan Indonesia mencapai lebih dari 50 kg per kapita.

Artinya untuk mencukupi kebutuhan tersebut dibutuhkan suplai minimal 14,6 juta ton ikan konsumsi per tahun.

"Saya perkirakan, suplai tersebut nantinya akan banyak tergantung pada produk ikan hasil budidaya yakni paling tidak sekitar 60 persen dari total kebutuhan atau setidaknya sebanyak 8,76 juta ton pada tahun 2019," jelas Slamet.

Baca Juga : Atasi Stunting Dengan Makan Ikan

Bioteknologi Jembatan Penghubung Akuakultur dengan Industri

Untuk mendorong pemenuhan kebutuhan pangan berkelanjutan, Ditjen Perikanan Budidaya telah mendorong berbagai inovasi akuakultur yang orientasinya untuk meningkatkan produktivitas dan berbasis mitigasi. 

Berbagai teknologi akuakultur yang mulai berkembang tersebut diantaranya, penerapan integrated multitrophic aquaculture (IMTA), pengembangan teknologi bioflok yang memungkinkan peningkatan produktivitas tinggi, ramah lingkunganan efisien dalam penggunaan lahan dan sumberdaya air.

Kemudian, pengembangan minapadi, pengembangan recirculating aquaculture system (RAS) atau close system yang mampu menggenjot produktivitas hingga 100 kali lipat, efisien dalam penggunaan air dan lahan.

Lalu ada inovasi teknologi ultrafine bubble oksigen yang mampu meningkatkan produktifitas. Kemudian mendorong pengembangan budidaya ikan lokal seperti papuyu, belida, tawes, semah, gabus, ikan batak, dan jenis lokal lainnya. 

"Inovasi-inovasi teknologi semacam inilah yang akan terus kita dorong dan diaplikasikan di masyarakat secara massif, sehingga tantangan berkaitan dengan penurunan daya dukung dan perubahan iklim ini dapat diantisipasi sejak dini. Saya rasa ini langkah strategis untuk mewujudkan pangan berkelanjutan”, tegas Slamet.

Langkah Nyata

Beragam inovasi tersebut tentu saja tidak berjalan sendiri, perlu dibangun sebuah sistem dan langkah nyata. 

Slamet sendiri mengatakan, ada (empat) poin penting yang perlu dilakukan, yakni : Pertama, pengelolaan akuakultur melalui pendekatan ekosistem (Ecosystem Approach for Aquaculture).

Kedua, Asuransi pembudidaya ikan sebagai bagian dari langkah adaftif dari sisi ekonomi.

Ketiga, pengembangan teknologi akuakultur yang adaptif dan berbasis mitigasi.

Keempat, penentuan zonasi akuakultur yang tepat sebagai langkah adaptasi yang penting dalam mengantisipasi perubahan iklim. 

“Saya kira itu yang akan kita dorong mulai saat ini, dan tentunya berkaitan dengan momen Hari Pangan Sedunia ke 38 tahun ini harus dijadikan titik balik khususnya bagi para pelaku akuakultur, bahwa kita semua memiliki tanggungjawab bersama dalam mecukupi kebutuhan pangan masayarakat dunia," harap Slamet. (Idt)

 

Reporter : Indarto
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018