
Florikultur terus digenjot untuk produksi
TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (GraTiEks) yang dicanangkan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) ibarat angin segar bagi pelaku usaha ekspor di Indonesia. Dengan berbagai fasilitas dan dukungan penuh pemerintah, kreatifitas eksportir komoditas pertanian semakin berkembang.
“Ekspor tanaman hias ini ibarat sleeping giant atau raksasa tidur sebab potensinya sangat besar yang bisa dimanfaatkan secara maksimal. Value ekspor 1 Hektar tanaman hias bisa sama dengan 10 Hektar tanaman sawit, karena kelebihan tanaman hias ini adalah adanya unsur seni," kata Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura, Ir Bambang Sugiharto, M.Eng.Sc.
Bahkan, diakui Bambang nilai seni tersebutlah yang menyebabkan harga tanaman hias tidak bisa jadi patokan lagi. "Ada tanaman hias 1 pot kecil saja harganya USD 7000 dan itu diekspor ke Amerika,” tambahnya dalam International Dissemination Conference (IDC) yang dilaksanakan oleh Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian (BUTTMKP) Badan Karantina Pertanian (Barantan) secara virtual pada Selasa (25/5).

berdasarkan data BPS tahun 2021, terjadi kenaikan volume ekspor hortikultura sebanyak 2,7 persen dibandingkan tahun 2019, dengan nilai ekpornya naik 37,5 persen.
Dalam strategi “Gedor Horti” mendukung GraTiEks, tanaman hias dikembangkan menuju skala ekonomi. Ditjen Hortikultura kini semakin memberikan perhatian besar pada komoditas tanaman hias, dengan pengembangan beberapa kawasan seperti di Lembang, Bogor, dan Cipanas.
“Tanaman hias yang kami kembangkan bukan berupa cut flower atau bunga potong, melainkan ornamental plant atau tanaman hidup. Keuntungan bisnis florikultura ini adalah cukup dengan media tanam yang efisien, tidak perlu lahan luas yang harus subur tanahnya, dan tidak perlu membajak seperti di areal persawahan. Kami juga akan mengembangkan smart farming tanaman hias, green house dan berbagai fasilitas pendukung lainnya,” tuturnya.
Hal penting yang menjadi potensi adalah pengembangan plasma nutfah atau tanaman hias dari Sumber Daya Genetik (SDG)yang merupakan tanaman asli Indonesia. Namun ini sangat dibatasi.
“Teman-teman para ekportir jangan langsung ambil tanaman hias dari hutan lalu diekspor. Jadi dari hutan kita muliakan dulu, kembangkan baru ekspor. Kami sudah ada kerjasama dengan Institut Teknologi Sumatera (ITERA) untuk mengembangkan koleksi tanaman asli Indonesia, misalnya anggrek,” kata Bambang.

Bisnis florikultura yang mampu menembus pasar ekspor, ternyata tidak terlepas dari sejumlah tantangan, salah satunya Organisme Pengganggu Tanaman (OPT )
“OPT ikutan yang terdapat dalam jaringan tanaman, seperti jenis Nematoda , pernah membuat komoditas tanaman ekspor kita ditolak dan dimusnahkan oleh negara Korea. Untuk itu kami bekerjasama dengan Barantan guna meningkatkan mutu tanaman yang bebas OPT,” beber Bambang.
Minat Pasar
Menentukan timing atau waktu melakukan ekspor tanaman hias sangat penting diperhitungkan. Seperti di China, setiap musim semi (spring) mereka merestorasi kebun, dengan tanaman dari Indonesia misalnya sanseviera.
Ada pula eksportir Indonesia yang kreatif memanfaatkan momen, dengan membeli benihnya dari Nepal untuk bunga lampion kemudian dikembangkan di Indonesia, dan ketika musim semi diekspor ke Jepang ketika sudah berbunga bagus.
Sedangkan jenis krisan dan anggrek masih mendominasi ekspor ke Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, dan Korea. Krisan umumnya dipakai oleh sejumlah komunitas Asia untuk acara keagamaan, seperti tabur bunga. Hal ini sedikit berbeda dengan Indonesia yang biasanya memakai bunga mawar.
“Negara Ekuador yang menjadi salah satu pengekspor bunga terbesar ke Amerika atau pesaing kita, ternyata sebagian besar didominasi oleh mawar atau rose. Kita bisa mengambil segmen berbeda, bunga Krisan untuk komunitas Asia yang ada di Amerika," tutur Bambang
Demikian juga jenis dracaena, bagi orang di Jepang atau China dipercaya membawa keberuntungan, jadi dipakai sebagai jimat. "Ya tidak apa apa menurut saya, bagi mereka silakan jadi jimat atau dijadikan sayuran, yang penting untuk kita jadi duit,” kelakarnya.
“Ekspor tanaman hiasnya PT Minaqu senilai Rp 70 Miliar dari kontrak Rp 1 Triliun ke berbagai negara, seperti Amerika, Australia, Kanada, Korea Selatan, Jerman, dan Cyprus. Ini sangat luar biasa. Hampir setiap minggu kami memberikan izin ekspor. Tanaman yang kelihatannya kecil - kecil itu, ternyata hargnya bisa mencapai puluhan juta rupiah, bahkan ada yang seharga USD 7000,” kata Bambang.

Melihat peluang florikultur yang besar namun masih bisa terus digali ini, Bambang mengharapkan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Amerika memfasilitasi pertemuan atau forum bisnis untuk mempertemukan pelaku usaha Indonesia dengan para importir tanaman hias Amerika.
"Selain itu juga ketika ada pameran florikultura tanggal 16-18 September di Miami, Florida, mendatang, KBRI diharapkan memfasilitasi pengusaha Indonesia untuk ikut serta," tambahnya.
Menanggapi hal ini, Atase Pertanian KBRI di Washington DC Amerika Serikat, Hari Edi Soekirno, berkomitmen membantu suksesnya program GraTiEks.
“Informasi tentang pelaku usaha Indonesia bereputasi baik sangat kami perlukan, karena sebelum terjadinya forum bisnis, para importir di Amerika sangat mendetail bertanya tentang hal ini,"kata Hari.
Karenanya, Atase Pertanian membutuhkan data seperti brosur-brosur, terutama yang sudah berbahasa Inggris, dan profil pelaku usaha Indonesia khususnya yang sudah berpengalaman ekspor. "Termasuk memiliki sertifikat ekspor dari negara lain misalnya Jepang, China, Korea, dan sebagainya akan memberikan nilai tambah,” kata Hari.