
Upaya meningkatkan produksi bawang putih nasional terus digenjot. BRMP Hortikultura kini menyiapkan langkah strategis dari sisi hulu untuk menjawab berbagai tantangan komoditas tersebut.
TABLOIDSINARTANI.COM, Lembang – Upaya meningkatkan produksi bawang putih nasional terus digenjot. BRMP Hortikultura kini menyiapkan langkah strategis dari sisi hulu untuk menjawab berbagai tantangan komoditas tersebut.
Meningkatkan produksi bawang putih nasional tak cukup hanya dengan memperluas lahan tanam. Fondasi dari hulunya, terutama benih dan varietas, juga harus dibenahi agar produktivitas tanaman bisa kembali optimal.
Kepala Pusat Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Hortikultura, Inti Pertiwi Nashwari, mengatakan lembaganya kini menempatkan kegiatan perakitan sebagai bagian penting dari riset untuk menjawab persoalan produktivitas bawang putih di lapangan.
Menurut Inti, salah satu tantangan yang dihadapi adalah penggunaan varietas yang sudah lama dikembangkan dan dibudidayakan selama puluhan tahun. Seiring waktu, produktivitasnya dinilai perlu kembali dioptimalkan melalui riset dan seleksi.
Pemurnian Varietas
Inti menjelaskan, BRMP tidak hanya mengejar penemuan varietas baru. Dengan material genetik yang sudah tersedia, pihaknya juga melakukan pemurnian untuk mengembalikan karakter varietas sesuai identitas aslinya.
Persoalan tersebut menjadi penting karena benih yang diberi nama varietas tertentu di lapangan belum tentu sepenuhnya terdiri dari varietas yang sama.
Inti mencontohkan Lumbu Kuning. Dalam praktiknya, masih ditemukan campuran varietas lain sehingga karakter tanaman yang tumbuh tidak seragam.
“Kalau Lumbu Kuning, ya Lumbu Kuning semua. Tidak ada campuran varietas lain,” ujarnya.
Pemurnian dilakukan melalui seleksi tanaman. Tanaman yang sesuai karakter varietas dipertahankan, sedangkan tanaman yang menyimpang atau masuk kategori off type dan Campuran Varietas Lain (CVL) dipisahkan.
Langkah tersebut sejalan dengan program BRMP Sayuran yang sebelumnya telah melakukan produksi benih sumber melalui skema pemurnian varietas.
Dalam proses produksi benih Lumbu Putih, misalnya, tanaman dipilah berdasarkan kesehatan dan kesesuaian varietas sebelum diproses lebih lanjut sebagai benih.
Strategi BRMP Hortikultura tidak berhenti pada pemurnian. Lahan pengujian juga dijadikan tempat untuk mencari kombinasi teknologi budidaya yang paling sesuai.
Berbagai perlakuan diuji, mulai dari jarak tanam, pemupukan, tinggi bedengan hingga pengairan. Pengujian tersebut kemudian dikaitkan dengan kondisi agroklimat dan karakteristik tanah di masing-masing wilayah.
“Berbagai perlakuan kita coba. Mana pengairannya, melibatkan agroklimat, melibatkan tanah juga. Sehingga nanti komposisi yang paling tepat, yang paling pas menghasilkan,” jelas Inti.
Artinya, BRMP ingin menghasilkan rekomendasi budidaya yang tidak sekadar bersifat umum. Setiap varietas diharapkan dapat ditempatkan pada kondisi lingkungan yang memang sesuai.
Pasalnya, satu varietas yang memberikan hasil bagus di suatu daerah belum tentu memberikan performa sama ketika ditanam di wilayah lain.
Karena itu, pengujian dilakukan di sejumlah wilayah yang memang memiliki pengalaman menanam bawang putih.
BRMP Hortikultura melibatkan jaringan BRMP di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, NTB, Sumatera Utara, serta wilayah tambahan seperti Sumatera Selatan dan Jambi.
Pendekatan berbasis lokasi ini dinilai penting karena petani akan lebih mudah menerima pengembangan komoditas ketika wilayah tersebut memang memiliki pengalaman budidaya bawang putih.
Dari pengujian yang berjalan, Inti menyebut wilayah Sumatera Utara menunjukkan hasil yang cukup tinggi, terutama pada kondisi musim kering.
Perakitan Varietas Baru
Dalam beberapa tahun ke depan, BRMP Hortikultura juga membidik lahirnya varietas baru dengan keunggulan yang lebih sesuai kebutuhan petani dan pasar.
Targetnya bukan sekadar menghasilkan tanaman yang bisa tumbuh, tetapi varietas yang mampu memberikan produktivitas lebih tinggi, ukuran umbi lebih besar dan pada akhirnya dapat menekan biaya produksi.
“Yang paling kami inginkan sebenarnya menekan juga biaya produksi supaya nanti masuk pasar bisa bersaing,” kata Inti.
Langkah tersebut menjadi penting karena produktivitas dan efisiensi akan menentukan daya saing bawang putih lokal ketika berhadapan dengan produk impor.
Kementerian Pertanian sendiri dalam berbagai program terbaru menempatkan penguatan benih sebagai fondasi swasembada bawang putih.
BRMP Hortikultura menyebut program pengembangan benih saat ini salah satunya berfokus pada pemurnian varietas bawang putih.
Data BRMP juga menunjukkan potensi sejumlah varietas lokal sebenarnya cukup besar.
Lumbu Putih, misalnya, pernah dilaporkan mampu menghasilkan sekitar 18–24 ton per hektare dalam bentuk panen segar atau 6–8 ton per hektare umbi kering.
Sementara varietas Sangga Sembalun yang dikembangkan di dataran tinggi NTB dilaporkan memiliki produktivitas rata-rata sekitar 8,75 ton per hektare dalam bentuk umbi kering.
Data tersebut menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya memiliki modal genetik bawang putih lokal.
Tantangannya adalah bagaimana varietas tersebut dimurnikan, diperbanyak, ditempatkan pada agroekosistem yang tepat, lalu dikembangkan secara konsisten.
SOP hingga Peta Lahan
Selain riset varietas dan teknik budidaya, BRMP Hortikultura juga tengah menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) penanaman bawang putih.
SOP tersebut nantinya diharapkan menjadi panduan mulai dari pengolahan lahan hingga tahapan budidaya berikutnya.
Dengan begitu, teknologi yang sudah diuji tidak berhenti di petak penelitian, tetapi dapat diterapkan secara lebih seragam di tingkat pengembangan.
Langkah berikutnya adalah membangun peta kesesuaian lahan.
BRMP melakukan overlay atau penggabungan berbagai informasi untuk mengetahui wilayah yang benar-benar cocok bagi pengembangan bawang putih.
Parameter yang dipertimbangkan antara lain ketinggian, suhu, cahaya matahari, angin dan kondisi agroklimat lainnya.
Untuk memperkuat data tersebut, BRMP Hortikultura juga berkoordinasi dengan BMKG.
“Ini kita minta data dari BMKG supaya nanti kita bisa tahu potensi pengembangan,” ujar Inti.
Pemetaan ini diharapkan bisa mengubah pola pengembangan bawang putih yang sebelumnya cenderung mencoba-coba menjadi lebih berbasis data.
Jadi, sebelum bawang putih ditanam dalam skala luas, pemerintah sudah memiliki gambaran mengenai varietas apa yang paling sesuai, bagaimana teknik budidayanya, dan di wilayah mana tanaman tersebut berpotensi memberikan hasil terbaik.
Benih Sumber
Dalam rantai perbenihan, BRMP juga tidak memposisikan diri sebagai penjual benih langsung kepada petani.
Benih sumber yang diproduksi akan menjadi bahan untuk diperbanyak oleh penangkar. Selanjutnya, penangkar menghasilkan benih sebar yang dapat digunakan petani.
Pola tersebut penting karena ketersediaan benih menjadi salah satu titik kritis pengembangan bawang putih.
BRMP Sayuran sebelumnya juga telah mengumpulkan benih unggul dan bersertifikat varietas Lumbu Kuning dan Lumbu Hijau untuk mendukung perbanyakan benih sumber di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Sumatera Utara.
Namun, proses memperbanyak benih tidak bisa dilakukan secara instan.
Inti menjelaskan, bawang putih yang baru dipanen masih harus melalui proses pascapanen dan dormansi sebelum dapat digunakan sebagai benih.
Tanaman berumur sekitar 112 hari saat dipanen. Setelah itu, hasil panen masih membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk proses dormansi sebelum dapat digunakan pada tahap berikutnya.
Dengan demikian, rantai produksi benih memang membutuhkan waktu cukup panjang.
Kondisi tersebut semakin terasa karena ketersediaan benih bawang putih saat ini masih terbatas.
Inti mengatakan, BRMP bahkan harus memproduksi sendiri karena benih yang tersedia di pasar belum mencukupi kebutuhan program.
Dalam target awal pengembangan, BRMP Hortikultura menargetkan produksi benih untuk mendukung areal sekitar 177 hektare. Namun, ketersediaan benih membuat realisasinya belum dapat langsung mencapai target tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan bawang putih bukan sekadar soal ada atau tidaknya lahan.
Benih harus tersedia dalam jumlah cukup, varietasnya harus jelas, mutunya harus terjamin, dan teknik produksinya harus sesuai dengan kondisi agroekosistem.
Secara nasional, tantangannya memang besar. BRMP Hortikultura mencatat kebutuhan bawang putih Indonesia sekitar 660 ribu ton per tahun, sementara produksi domestik yang masuk pasar masih sekitar 25 ribu ton per tahun.
Kesenjangan tersebut membuat impor masih menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan nasional. Karena itu, strategi dari hulu menjadi sangat menentukan.
Membangun Sistem
Inti menegaskan, arah kerja BRMP Hortikultura ke depan bukan hanya menghasilkan benih, tetapi membangun sistem yang membuat pengembangan bawang putih lebih terarah.
Ketika varietas terbaik sudah diketahui, jarak tanam dan pemupukan terbaik sudah diuji, kebutuhan air sudah dipetakan, kemudian wilayah yang sesuai juga sudah ditentukan, maka pengembangan dalam skala lebih luas bisa dilakukan dengan risiko yang lebih terukur.
“Kalau kita sudah punya riset, ini varietas yang paling unggul, kemudian dengan jarak tanam segini hasilnya maksimal, kita sudah punya,” katanya.
Dengan pendekatan tersebut, BRMP Hortikultura ingin memastikan perluasan bawang putih tidak dilakukan secara serampangan.
Lahan yang sesuai dipilih berdasarkan data, varietas disesuaikan dengan agroekosistem, sementara benih diperbanyak melalui sistem perbenihan yang berjenjang.
Pada akhirnya, strategi itu diarahkan pada satu tujuan yaitu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi agar bawang putih lokal semakin mampu bersaing.
Jadi, pekerjaan BRMP Hortikultura memang bukan sekadar mencari benih.
Dari pemurnian varietas, riset budidaya, pemetaan agroklimat hingga penyediaan benih sumber, seluruh mata rantai di hulu sedang dibangun agar bawang putih nasional punya fondasi produksi yang lebih kuat.